TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kenaikan harga BBM solar nonsubsidi mulai berdampak pada operasional transportasi travel penumpang di Kota Jambi.
Manager Travel PT Batanghari Indah, Hamdani (54), mengatakan kondisi tersebut berpotensi memperpanjang antrean pengisian BBM di SPBU.
Menurutnya, pengguna solar nonsubsidi cenderung beralih ke solar bersubsidi.
Hal itu disampaikannya saat ditemui Tribunjambi.com di loketnya, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, armada travel yang dikelolanya masih menggunakan BBM solar, meskipun harus menghadapi antrean di SPBU.
“Kalau untuk dexlite kita gunakan apabila dalam perjalanan jauh yang solarnya sudah habis atau nanti kita harus isi dexlite. Tapi dengan harga sekarang ya enggak masuk lagi dengan hitungan ongkos kita,” katanya.
Hamdani menuturkan, armada travel yang digunakan terdiri dari berbagai jenis kendaraan, seperti Toyota Kijang Innova dan Avanza.
“Campur gitu, ada yang pakai Pertalite, yang pakai solar ada. Ada Innova, Avanza,” tuturnya.
Terkait kemungkinan kenaikan tarif, ia menyebut keputusan tersebut biasanya dibahas dalam forum persatuan travel.
“Jadi kalau sepakat semuanya naik, ya, kita juga naik,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, hingga saat ini belum ada rencana pengurangan armada maupun tenaga kerja.
“Kalau sementara sih belum, armada kita kan rata-rata pada kreditkan. Ya, kalau enggak terbayar lagi itu dipensiunkan,” jelasnya.
Hamdani berharap pemerintah tetap mempertahankan BBM bersubsidi karena berpengaruh terhadap biaya operasional dan kebutuhan hidup.
“Harapan kami dari masyarakat ya, seperti ini ya, yang subsidi itu sudah dipertahankan. Sekarang harga bahan pokok, harga sparepart, oli, ban, semua sudah pada naik. Jadi otomatis kami dari pengusaha angkutan, travel maupun rental harus menyesuaikan. Kalau enggak tuh ya habis lah kita, bangkrut lah kita,” harapnya.
“Tanpa naik saja mungkin sudah susah cari BBM, apalagi dengan kenaikan yang sekarang. Semuanya antre. Setiap pom antre semua. Kalau itu di luar kota jangan harap dapat BBM solar,” lanjutnya.
Ia menilai kondisi di Jambi berbeda dengan daerah lain seperti Jawa, Pekanbaru, dan Medan, yang menurutnya memiliki distribusi BBM lebih merata.
“Mereka semuanya di setiap pom itu tersedia. Enggak ada antre panjang itu enggak ada. Kalau di Jambi, kita boleh cek sendirilah, masih antre panjang,” imbuhnya.
“Ya, dengan harga lama saja orang masih mungkin, ya mungkin hanya 30 persen lah yang menggunakan yang non-subsidi,” lanjutnya.
Hal serupa disampaikan pemilik Travel PT Tamtama Mandiri Baru, Endang (47). Ia mengaku saat ini akses mendapatkan BBM solar di Jambi cukup sulit.
Menurutnya, untuk memperoleh solar, armadanya harus mengantre di SPBU sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB.
Ia menjelaskan, armada travel miliknya menggunakan BBM bensin dan solar, seperti Kijang Innova dan Avanza.
“Dapat itu pun antreannya panjang. Dexlite enggak ada lagi kayaknya, banyak beralih ke solar. Semakin banyak yang berpindah ke solar semakin antreannya panjang,” ujarnya.
“Semakin susah didapat karena kan solar dibatasi. Untuk di Jambi kan dibatasi. Untuk pengisian satu kali ngisi itu kalau enggak salah cuma dibatasi Rp200.000, satu hari ngisi. Baru besoknya baru bisa nambah lagi,” lanjutnya.
Terkait penyesuaian tarif, Endang mengatakan pihaknya belum menerima informasi resmi dari Dinas Perhubungan Provinsi Jambi.
Ia menilai, secara umum penyesuaian tarif seharusnya dilakukan apabila terjadi kenaikan harga BBM.
“Harusnya naik juga. Karena kasihanlah sopirnya, enggak sesuai dengan minyak. Sudahlah susah dapatnya, minyaknya mahal, otomatis kan kebutuhannya nanti naik juga,” terangnya.
Endang berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang mempermudah masyarakat dalam memperoleh BBM.
“Kalau bisa mempermudah, tidak mempersulit. Salah satunya untuk mendapatkan BBM. Jangan sampai solar itu susah, sudah mahal, susah lagi dapatnya, dibatasi lagi,” harapnya.
“Kalau ada kenaikan, wajar-wajar saja kalau ada kenaikan. Setidaknya tarif kami ini dinaikkan juga. Jadi imbang, semuanya imbang,” sambungnya.
Ia juga menyoroti kondisi antrean panjang di sejumlah SPBU di Jambi.
“Kayaknya kita ini banyak SPBU, tapi susah dapatnya. Harus subuh antre. Kalau pemerintah mau melihat, cobalah pagi-pagi atau subuh ke SPBU, pasti panjang antreannya,” ujarnya.
“Mudah-mudahan pemerintahnya bijak dan nyata kerjanya. Takutnya dari atas harus begini, di lapangan tidak,” imbuhnya.
Sementara itu, sopir travel jurusan Muara Tembesi–Sungai Rengas, Siit (49), mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi akan mempersulit akses terhadap solar bersubsidi.
Menurutnya, peralihan pengguna dari BBM non-subsidi ke subsidi akan meningkatkan antrean di SPBU.
“Sedangkan harga yang lama orang masih mau antre solar, apalagi sekarang dexlite sudah Rp25.000,” katanya.
Ia menyebut, armada travel biasanya mengisi BBM di sejumlah SPBU di kawasan Pal Lima Kota Baru, Broni, dan Simpang Telanaipura, Kota Jambi.
Siit menambahkan, kondisi tersebut belum berdampak pada tarif tiket, namun menyulitkan sopir dalam mendapatkan BBM.
“Jadi mobil-mobil yang biasa ngisi dexlite, mobil-mobil mewah kayak mobil Fortuner, Pajero itu kan, lari ke solar lagi dia, yang subsidi diisinya lagi. Kecuali mobil mewah tertentu yang tidak bisa mengisi solar,” jelasnya.
Ia berharap harga BBM non-subsidi dapat diturunkan agar distribusi penggunaan BBM lebih seimbang.
“Kalau bisa, dexlite itu diturunkan, dimurahkan. Jadi orang bisa berbagi. Kalau susah solar, bisa isi dexlite. Ini bedanya jauh,” pungkasnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Tarif Travel di Batang Hari Masih Stabil, Sopir Andalkan BBM Subsidi
Baca juga: Di Jambi Pertamax Turbo Jadi Rp19.850, Dexlite Rp 24.150, Siapa Saja yang Boleh Isi BBM Subsidi?