Gubernur Jabar Tolak Skorsing 9 Siswa yang Olok-olok Guru di Purwakarta, Usul Hukuman Edukatif 
Rita Lismini April 20, 2026 02:42 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Siswa SMA Negeri 1 Purwakarta yang terlibat aksi olok-olok dan mengacungkan jari tengah kepada guru diskorsing selama 19 hari. 

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Purwakarta, Ida Rosida, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk penegakan disiplin sekaligus pembelajaran bagi siswa agar memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun bereaksi keras soal sanksi yang diberikan oleh pihak sekolah. 

Dedi mengkritik sanksi skorsing selama 19 hari yang dinilai belum tentu memberikan efek jera.

Sebagai alternatif, ia mengusulkan agar sanksi dialihkan ke bentuk kerja sosial yang lebih mendidik, seperti membersihkan lingkungan sekolah.

“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari... tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” ujarnya.

Menurutnya, hukuman semacam ini lebih efektif karena memberikan nilai tanggung jawab sekaligus pembelajaran nyata bagi siswa.

Ia bahkan menyarankan durasi hukuman dapat berlangsung antara satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap yang ditunjukkan.

Sebelumnya, sebuah rekaman singkat berdurasi 31 detik mendadak menyulut perhatian luas setelah beredar di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan perilaku tidak pantas yang dilakukan sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta terhadap seorang guru perempuan di dalam kelas.

Peristiwa ini pun memantik keprihatinan publik, sekaligus membuka kembali perbincangan soal etika dan karakter siswa di lingkungan pendidikan.

Kronologi Kejadian di Dalam Kelas

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan siswa kelas XI IPS. Peristiwa terjadi pada Kamis (16/4/2026), tepat setelah kegiatan belajar mengajar terkait pengolahan makanan selesai.

Guru yang menjadi sasaran diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan, bahkan ada yang melakukan tindakan provokatif seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.

“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto.

Siswa Minta Maaf 

Menanggapi polemik yang terjadi, pihak sekolah bersama para siswa kemudian memberikan klarifikasi melalui video lanjutan yang diunggah akun Instagram @infojawabarat pada Sabtu (18/4/2026).

Dalam video itu, seorang siswi bernama Hamila tampil sebagai perwakilan kelas dan menyampaikan penyesalan atas tindakan yang telah dilakukan.

Ia mengakui bahwa perilaku tersebut tidak pantas ditujukan kepada guru mereka.

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu guru atas tindakan kami yang kurang berkenan. Kami menyadari kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ungkapnya.

Di akhir video, seluruh siswa tampak menundukkan kepala dan secara bersama-sama mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan yang telah terjadi.

 

Evaluasi Sistem dan Pengaruh Lingkungan Digital

Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.

Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.

Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan.

Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.