Dipicu Perubahan Giliran Presentasi, Siswa SMAN 1 Purwakarta Olok-olok Guru Bu Atun 
taryono April 20, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jawa Barat - Perubahan mendadak urutan presentasi diduga menjadi pemicu munculnya aksi olok-olok terhadap guru Syamsiah atau Bu Atun oleh sejumlah siswa di SMAN 1 Purwakarta. 

Kekecewaan karena harus bergeser ke giliran terakhir membuat emosi siswa tersulut, meski saat proses belajar berlangsung mereka tampak biasa saja. 

“Kelompok ini akhirnya tampil di giliran terakhir. Selama pembelajaran berlangsung, mereka tetap terlihat biasa saja, bahkan sempat berfoto bersama guru,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menggambarkan situasi sebelum insiden terjadi, Senin (20/4/2026).

Namun, situasi berubah setelah guru meninggalkan kelas. 

Sembilan siswa tersebut melakukan tindakan tidak pantas seperti mengacungkan jari tengah dan gestur melecehkan lainnya yang direkam lalu tersebar di media sosial. 

Purwanto menegaskan bahwa perilaku itu bukan spontan semata, melainkan dilakukan dengan kesadaran. 

“Tindakan itu jelas disengaja, meskipun mungkin dipicu kekecewaan. Tapi ini tetap tidak bisa dibenarkan,” katanya.

Menindaklanjuti kejadian itu, Dinas Pendidikan Jawa Barat memutuskan tidak mengeluarkan para siswa, melainkan memberikan pembinaan intensif selama tiga bulan. 

Program tersebut mencakup kegiatan sosial, pendampingan psikolog, pengawasan harian oleh wali kelas, serta evaluasi rutin bersama orang tua. 

“Hak pendidikan mereka tetap dipenuhi, tapi harus dibarengi pembinaan agar perilakunya berubah,” ucap Purwanto.

Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh media sosial terhadap perilaku siswa saat ini. 

Menurutnya, kontrol penggunaan gawai menjadi penting karena tanpa pengawasan, siswa dapat dengan mudah mengakses atau bahkan menyiarkan aktivitas yang tidak pantas saat pembelajaran. 

“Kalau tidak diawasi, anak bisa saja bermain media sosial saat guru mengajar, bahkan bisa live. Ini yang harus dicegah,” ujarnya.

Kasus ini dinilai sebagai cermin perlunya penguatan pendidikan karakter yang melibatkan semua pihak, tidak hanya sekolah. 

Purwanto menekankan bahwa konsistensi antara lingkungan pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama. 

“Sebagus apa pun konsepnya, kalau tidak ada konsistensi dari semua pihak, tidak akan berjalan,” katanya, seraya memastikan pengawasan dan kebijakan penggunaan gawai di sekolah akan diperketat ke depan.

sumber: Tribun Jabar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.