TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asa suporter PSIM Yogyakarta untuk menyaksikan tim kesayangannya menjamu Persija Jakarta di tanah sendiri terpaksa pupus.
Laga krusial lanjutan Super League 2025/26 yang sedianya dilangsungkan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Rabu (22/4/26), resmi dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan, bahwa keputusan memindahkan laga ke Pulau Dewata diambil di bawah tekanan waktu yang sangat mepet.
Menurutnya, pihaknya bersama manajemen Laskar Mataram sempat berupaya keras menjalin komunikasi agar laga tetap bisa digelar di DIY, khususnya di Bantul.
"Ya, saya kemarin sudah ikut usaha mengkomunikasikan bagaimana (PSIM) bisa main di Bantul misal. Memang belum mendapatkan izin waktu itu," ujarnya, Senin (20/4/26).
Hasto menceritakan, dirinya baru dihubungi oleh manajemen PSIM di detik-detik terakhir sebelum tenggat waktu pendaftaran venue pertandingan berakhir.
Situasi mendesak membuat opsi bermain di luar DIY menjadi pilihan paling rasional, demi menyelamatkan posisi klub supaya bisa tetap menggelar laga.
"Saya dihubungi pada hari itu dan deadline-nya jam 5 sore. Kemudian saya berembuk dengan manajer PSIM, ya sudah, kita putuskan untuk sementara ini di Bali dulu enggak apa-apa," ungkapnya.
"Karena kalau tidak tanding nanti bisa terancam (posisinya). Maka kami ikut mempertahankan PSIM harus memenuhi target-target tandingnya supaya tetap di posisi yang baik," urai Hasto.
Disinggung mengenai kemungkinan PSIM kembali bermarkas di Stadion Mandala Krida, Hasto menyebut pihaknya terus mencari celah solusi.
Meski kewenangan bangunan bukan berada di bawah Pemkot Yogyakarta dan masih terganjal persoalan hukum, Wali Kota melontarkan sebuah usulan teknis.
"Kami sempat berpikir kalau seandainya bisa dibangun lampu tanpa harus mengubah gedung, mungkin lampunya di luar. Nah, mungkin ini bisa jadi usulan kami untuk bisa memasang lampu saja tapi tidak merubah gedungnya. Kalau itu bisa, peluang main di Mandala Krida ada, meski kapasitas penonton terbatas," jelasnya.
Untuk saat ini, Hasto meminta para pendukung setia PSIM tetap memberikan dukungan moral meski tidak bisa hadir langsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Ia pun berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan jajaran Polres maupun Polda DIY, agar laga-laga kandang ke depan bisa kembali digelar di rumah sendiri.
"Kita cari solusi bagaimana caranya biar bisa main tapi juga terkendali. Saya kira kita mendukung dari Polres dan Polda untuk kita bersama-sama menjaga ini," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, menegaskan bahwa klub menghormati keputusan pihak kepolisian dan seluruh otoritas, terkait pemindahan lokasi pertandingan PSIM Yogyakarta vs Persija Jakarta.
Menurutnya, aspek keamanan, ketertiban, dan kenyamanan tetap menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan laga.
Pertandingan kandang PSIM Yogyakarta melawan Persija Jakarta pada lanjutan BRI Super League 2025/26 dipastikan berpindah lokasi.
Laga yang semula dijadwalkan berlangsung di Stadion Sultan Agung pada Rabu (22/4/2026) kini dialihkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali dan akan digelar tanpa kehadiran penonton.
Yuliana mengakui, bermain di luar Yogyakarta bukanlah keputusan ideal bagi tim.
Sebagai tuan rumah, PSIM Yogyakarta tentu ingin tampil di hadapan pendukung sendiri.
Namun demikian, penggunaan stadion di Bali disebut sebagai solusi teknis agar pertandingan tetap dapat berlangsung sesuai jadwal.
“Ini bukan bentuk menjauh dari Jogja, melainkan tanggung jawab kami untuk menjaga jalannya kompetisi dan nama besar PSIM,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Manajemen juga memahami kekecewaan suporter atas situasi ini.
Namun, Yuliana menekankan bahwa yang dibutuhkan tim saat ini adalah dukungan positif, bukan perpecahan.
Ia juga memastikan klub akan terus berupaya agar PSIM Yogyakarta dapat kembali bermain di kandang sendiri pada kesempatan berikutnya, sekaligus membangun komunikasi dengan seluruh stakeholder terkait.
“Kami percaya suporter PSIM adalah pendukung yang loyal, cerdas, dan mencintai klub dengan hati besar. Mari hadapi situasi ini dengan elegan,” pungkasnya.
Keputusan pemindahan venue sendiri diambil setelah melalui evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan fasilitas di Bantul.
Ketua Panpel PSIM, Wendy Umar Seno Aji, menjelaskan bahwa seluruh persiapan awal sebenarnya telah rampung, termasuk perizinan dan kesiapan operasional di Stadion Sultan Agung.
“Namun, setelah koordinasi intensif dan mempertimbangkan rekomendasi dari kepolisian serta pihak terkait, kami sepakat bahwa kapasitas SSA saat ini belum ideal untuk mengakomodasi tingginya animo penonton,” ujarnya.
Manajemen sempat mencari alternatif stadion yang lebih dekat dari Yogyakarta, termasuk Stadion Jatidiri.
Namun, opsi tersebut urung terealisasi karena terbentur jadwal penggunaan yang sudah lebih dulu terisi.
Sebagai solusi, pemindahan ke Bali dipilih agar kompetisi tetap berjalan sesuai kalender.
Meski demikian, laga harus digelar tanpa penonton sebagai bagian dari kesepakatan perizinan dengan otoritas setempat.
Menurut Wendy, langkah ini juga diambil untuk menghindari potensi sanksi administratif maupun pengurangan poin yang bisa berdampak pada posisi PSIM Yogyakarta di klasemen.