TRIBUN-MEDAN.com - Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi naik, Menteri Bahlil pastikan harga bensin pertalite dan solar tak ada perubahan dalam waktu dekat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) itu juga mengatakan gas LPG tabung yang bersubsidi juga tidak akan naik.
Menurutnya, pemerintah yang akan menjamin seluruh harga BBM jenis subsidi dalam hal ini Pertalite maupun Solar untuk tidak tidak naik.
Baca juga: KETAHUAN Dalam Sidang, Modus Noel Minta Jatah Uang Pemerasan K3: Motor Ducati Cocok Gak Untuk Saya?
Dilansir dari laman mypertamina.id. berikut harga terbaru BBM nonsubsidi:
- Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax Turbo menyentuh angka Rp 19.400 per liter. Kenaikan sebesar Rp 6.300 per liter dari sebelumnya Rp 13.100 per liter.
Baca juga: Tanggapi Pernyataan Jusuf Kalla, Jokowi: Saya Ini Bukan Siapa-siapa, Hanya Orang Kampung
- Harga Dexlite terbaru yakni Rp 23.600 per liter yang sebelumnya Rp 14.200. Kenaikannya sebesar Rp 9.400 per liter.
- Harga Pertamina Dex jadi Rp 23.900 per liter. Harganya naik sebesar Rp 9.400 per liter, dari sebelumnya Rp 14.500 per liter.
Sementara untuk BBM subsidi akan tetap meski Indonesia Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah global mencapai 100 dolar AS per barel.
"Kalau subsidi sampai dengan harga ICP dunia 100 dolar, (harganya) tidak akan naik. Rata-rata. Sekarang average rata-rata dunia ICP kita dari Januari sampai tertanggal yang saya ngomong itu kurang lebih sekitar 76 dolar," kata Bahlil saat ditemui awak media di Kantor Kementerian ESDM RI, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Dimana harga BBM Pertalite saat ini dibanderol dengan harga Rp10.000 perliter, sedangkan Solar dihargai Rp6.800 perliter.
Sementara untuk gas LPG tabung ukuran 3 kilogran yang disubsidi pemerintah juga kata Bahlil tidak akan naik, bahkan sejak tahun 2006 silam.
Adapun harga LPG 3 kilogram saat ini dijual sekitar Rp17.000 hingga Rp18.000 per tabung sesuai dengan harga standart nasional. Harga berbeda sesuai dengan wilayah provinsi masing-masing di Indonesia.
"Tapi kalau untuk LPG 3 kilogram, sejak LPG diterapkan tahun 2006, 2007, LPG itu sampai dengan sekarang belum pernah kita naikkan harga dari pemerintah," ucap dia.
Baca juga: CURHAT Pelaut Indonesia Bertemu Kapal Pertamina di Selat Hormuz, Heran Semua Kru WNA dari India
Kata Bahlil, kenaikan harga terhadap LPG 3 Kilogram saat ini kerap terjadi karena adanya permainan harga dari pengecer atau distributor.
Sementara menurut dia, harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sejatinya harus sampai ke masyarakat dengan sesuai.
"Yang ada itu adalah dimainkan harganya di distributor dan pangkalan. Itu kira-kira," tutur dia.
"Dengan harga yang betul-betul sudah ditetapkan. Harga yang ditetapkan waktu itu berapa? Rp17.000 sampai Rp18.000. Itu harga subsidi, harus sampai di rakyat. Tapi kan ada yang sampai Rp25.000 waktu itu dibuat. Tapi begitu mau ditertibkan kan. Ya macam-macam lah. Yaudah lah, sudah berlalu," tukas dia.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan harga BBM jenis Pertamax RON 92 berpotensi naik tergantung perkembangan harga minyak dunia.
Bahlil menjelaskan seperti BBM non subsidi yang mengalami kenaikan harga baru-baru ini.
Kenaikan harga di BBM non subsidi menyesuaikan degan harga minyak dunia.
Ia mencontohkan penyesuaian yang sudah dilakukan untuk beberapa jenis BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Kenaikan harga tersebut merupakan langkah yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) pada tahap pertama untuk menyesuaikan dengan dinamika harga minyak dunia.
"Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang," kata Bahlil saat jumpa pers di Kantor Kementerian ESDM RI, Jakarta, Senin (20/4/2026), sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.
Dengan kondisi itu, bukan tidak mungkin jenis BBM non-subsidi lain seperti Pertamax RON 92 juga ikut terdampak.
Saat ini harga Pertamax RON 92 masih berada di level Rp12.300 per liter.
Namun, menurut Bahlil, penyesuaian harga bisa saja dilakukan jika harga minyak dunia tidak kunjung turun.
"Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harga (minyaknya) turun, ya (Pertamax) nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian," kata Bahlil.
(*/ Tribun-medan.com)