SURYA.CO.ID MALANG - Sebuah toko kelontong di Jalan Bahasa, Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu tampak biasa. Seperti toko pada umumnya, tempat ini pun menjual segala keperluan yang dibutuhkan.
Minggu (19/4/2026) siang pembeli tampak silih berganti datang toko tersebut. Mulai dari anak-anak yang sekedar njajan, hingga pria dewasa yang membeli rokok.
Pria paruh baya tampak bertanya merek rokok yang hendak dibeli kepada perempuan yang ada di balik etalase. Pertanyaan soal merek rokok itu berulang kali ditanyakan.
Seketika perempuan itu menjawabnya dengan gerakan tangan serta gerak bibir. Hal ini dilakukan agar pembeli mengerti apa yang dimaksud. Meskipun sempat terkendala, pembeli akhirnya mengetahui apa yang disampaikan.
Perempuan tersebut adalah Dewi Ratna Sari, pemilik Toko Dewimba yang sudah berdiri kurang dari satu tahun. Dia merupakan penyandang disabilitas tunarungu.
Baca juga: Ketulusan Berlabuh ke Tanah Suci, Doa Sunyi Supeltas Tunarungu Pasuruan Dibalas Panggilan Umroh
Ia merupakan guru bahasa isyarat di Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Kepanjen. Selain itu, ia juga mengajar Al-Qur'an isyarat di di dalam maupun luar sekolah untuk tunarungu.
Siang itu, Suryamalang.com berkesempatan untuk mewawancarai Dewi. Namun, kegiatan wawancara dilakukan melalui temannya seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI), Meilisa Trisetya Arum.
Melalui video call WhatsApp, Arum menerjemahkan bahasa isyarat Dewi kepada kami. Dalam penjelasan itu, Dewi mengaku sudah menjadi guru di SLB Kepanjen sejak 204 lalu.
"Awalnya 2024 saya mencari pekerjaan karena saya menganggur, tetapi pengalaman yang saya miliki gak begitu banyak. Saya bisa menari dan bahasa isyarat, sehingga saya mengajak ini murid-murid di SLB Kepanjen," ujar Dewi yang diterjemahkan oleh Arum.
Meskipun di tengah keterbatasannya, Dewi juga mengasah kemampuannya di bidang lain. Pada 2024 lalu, ia berkesempatan untuk mengikuti pelatihan membaca Al-Qur'an isyarat yang disenggarakan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
Baca juga: Khotmil Qur’an di Grahadi, Khofifah Indar Parawansa Ajak Komunitas Disabilitas Tuli Mengaji
Perempuan berusia 33 tahun ini mengaku, awalnya sempat bingung mengikuti pelatihan. Sebab, ia tidak pernah mengetahui pelafalan huruf hijaiyah.
"Awalnya agak kesulitan karena saya gak terlalu bisa baca secara oral. Tapi seiring berjalannya waktu dengan kesabaran dari pengajar akhirnya saya bisa tetap latihan baca Al-Qur'an dengan gerak bibir berusaha mengeluarkan suara semampunya," terangnya.
Setelah dua bulan belajar secara intensif di Surabaya, Dewi pun kembali ke Malang. Kemudian ia mengajarkan Al-Qur'an isyarat ke anak didik dan penyandang disabilitas tunarungu lainnya. Mulai dari anak-anak hingga lanjut usia
Kesulitan yang ia hadapi di antaranya masih banyak anak didiknya kurang mampu mengusai gerakannya. Sehingga, memerlukan waktu lama untuk mengajarkannya ke mereka hingga gerakan pelafalannya telah sesuai.
Selanjutnya, Dewi pun tergabung dalam Rumah Qur'an Sahabat Tuli (RQST) Jawa Timur. Pada suatu ketika, ia pernah diundang oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai perwakilan dari Kabupaten Malang.
"Saya bersama satu anggota RQST perwakilan dari Kabupaten Malang mendapatkan undangan dari Bu Khofifah untuk untuk mengajarkan Al-Qur'an isyarat ke anak tuli
Melalui kegiatan ini, Dewi mengaku banyak manfaat yang didapatkan. Selain bisa memahami dan membaca Al-Qur'an, ia juga merasa bangga dan puas dengan apa yang ia lakukan.
"Dari kegiatan ini saya dapat manfaat dan pahal. Dan di situ ada rasa puas dan bangga dari saya sendiri," tukasnya.
Dirinya pun berpesan kepada orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan tunarungu yang tidak memiliki kegiatan, mereka bisa mengarahkan anaknya untuk belajar Al-Qur'an isyarat. Dengan ini, anak akan memiliki kegiatan positif.
Selain mengajar tari, bahasa isyarat, serta Al-Qur'an isyarat, perempuan yang sedang kuliah semester 2 Jurusan Pendidikan Luas Biasa (PLB) di Unesa itu juga membuka pelatihan marketing, pelatihan usaha toko kelontong, serta pelatihan komunitas Bisindo.(isn)