Bola Terpopuler: Target PSSI di Piala Dunia 2030 Hingga Tendangan Kungfu Alberto
Torik Aqua April 20, 2026 11:14 PM

 

Selanjutnya ada PSSI target lolos ke Piala Dunia 2030.

Hingga Real Madrid tersingkir dari Liga Champions karena ego pemain bintang.

Berikut selengkapnya:

Tendangan kungfu pemain jebolan Timnas U-17 Indonesia, Alberto ke pemain Dewa United

Pemain jebolan Timnas U-17 Indonesia, Fadly Alberto Hengga melakukan aksi tak terpuji ke pemain Dewa United U-20.

Fadly terekam kamera melakukan tendangan kungfu saat dirinya berseragam Bhayangkara U-20.

Insiden ini terjadi saat kompetisi EPA (Elite Pro Academy) Super League berlangsung di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/4/2026).

Atas aksinya itu, Fadly bisa terancam hukuman seumur hidup berupa larangan beraktivitas di sepak bola.

Pada momen itu, pertandingan berakhir kemenangan Dewa United U-20 dengan skor 2-1 atas Bhayangkara FC U-20.

Seusai laga, terdapat situasi panas di pinggir lapangan yang melibatkan pemain dari kedua tim.

Baca juga: AFF U-17 2026: Timnas Indonesia Gagal Lolos ke Semifinal Meski Imbang Lawan Vietnam

Fadly Alberto Tendang Pemain Dewa United

Dari arah yang tak terduga tiba-tiba Fadly Alberto melayangkan tendangan kungfu kepada salah satu pemain Dewa United U-20.

Sontak pemain Dewa United U-20 terjatuh ke tanah.

Kemudian pemain Dewa United U-20 lainnya coba mengejar Alberto yang lari ke sisi lapangan lainnya.

Kejadian ini tentu kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia.

Fadly Alberto adalah jebolan timnas U-17 Indonesia era Nova Arianto berprestasi hingga lolos Piala Dunia U-17 2025.

Bahkan Fadly menjadi pencetak gol Indonesia di Piala Dunia U-17 2025 yang membawa sejarah Garuda Asia mencatatkan kemenangan perdana di ajang tersebut.

Atas aksi yang mengarah ke kekerasan ini, pemain 18 tahun tersebut terancam hukuman seumur hidup.

Baca juga: AC Milan Putar Otak Pertahankan Allegri usai Diisukan Bakal Jadi Pelatih Timnas Italia

Komdis PSSI Pernah Keluarkan Hukuman Pelaku Tendangan Kungfu

Sebelumnya, Komdis PSSI Jateng pernah mengeluarkan hukuman serupa bagi pelaku tendangan kungfu di laga sepak bola.

Hal ini diterima oleh Kiper PSIR, Raihan Al Fariq yang melakukan tendangan kungfu ke arah dada kepada pemain Persikaba Blora, Rizal Dimas Agesta dalam Liga 4 Jawa Tengah, Januari 2026 lalu.

“Agenda sidang fokus pada tindakan tidak sewajarnya yang dilakukan penjaga gawang PSIR Rembang nomor punggung 77, atas nama Raihan Alfariq,” ujar Ketua Komdis PSSI, Samuel Evan Haryono dikutip dari Tribun Banyumas.

“Hasil sidang menyatakan secara bulat, tanpa dissetting opinion, kami menjatuhkan sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup serta denda sebesar Rp5 juta kepada yang bersangkutan."

“Komite Disiplin menilai tindakan itu merupakan unsur kesengajaan," tambahnya.

Insiden Fadly Alberto Hengga juga berlokasi di Jawa Tengah dan bisa sangat mungkin bahwa hukuman serupa diterapkan.

Belum ada pernyataan resmi dari PSSI maupun Bhayangkara FC sebagai klub yang menaunginya sejauh ini.

Baca juga: Pascal Struijk Calon Potensial Naturalisasi Indonesia, Ikut Dibidik Media Masuk Timnas Belanda

Respons Nova Arianto

Di sisi lain, pelatih timnas U-20 Indonesia, Nova Arianto, kaget melihat aksi tidak terpuji oleh salah satu pemainnya yakni Fadly Alberto.

Pemain asal Timika, Papua Barat, itu melakukan tendangan kungfu ke salah satu lawannya dalam pertandingan Elite Pro Academy (EPA) U-20 2025/2026.

Nova Arianto yang merupakan pelatih Fadly Alberto tidak habis berpikir dengan kelakukan anak asuhnya.

Nova Arianto sangat kecewa.

"Pastinya saya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Fadly Alberto," kata Nova Arianto, Senin (20/4/2026), dikutip dari BolaSport.com.

Seharusnya kata Nova Arianto, Fadly Alberto bisa lebih bersabar.

Emosi dalam pertandingan itu wajar, namun jangan sampai keterlaluan. 

"Apapun alasannya tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Apalagi status Alberto Goncalves adalah pemain timnas U-17 Indonesia. Seharusnya dia bisa memberikan contoh kepada pemain lainnya," kata Nova Arianto.

Nova Arianto mengakui belum berdiskusi dengan Fadly Alberto.

Ia berencana untuk menghubungi anak asuhnya tersebut pada siang ini.

Nova Arianto akan menanyakan kondisi apa yang sebenarnya terjadi, sehingga nantinya akan ada keputusan untuk sanksi yang diberikan kepada pemain berposisi penyerang sayap tersebut.

Nova Arianto memastikan Fadly Alberto belum dicoret dari timnas U-20 Indonesia. 

"Pastinya ada konsekuensi dengan apa yang dilakukan oleh Fadly Alberto. Ini sedang dalam pembahasan kami di staf pelatih timnas U-20 Indonesia," tutup Nova Arianto.

Target PSSI di Piala Dunia 2030

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) merayakan ulang tahun ke-96 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Minggu (19/4/2026).

Perayaan ulang tahun kali ini dikemas secara sederhana, namun penuh khidmat.

Baca juga: Niat Tolong Teman Kesetrum Malah Jadi Korban, Warga Sampang Ikut Tersengat Listrik

Tidak ada perayaan hiburan dan lainnya, hanya potong tumpeng yang berlangsung secara sederhana namun penuh makna.

Hadir langsung Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, Wakil Ketua Umum II PSSI, Ratu Tisha Destria, Sekjen PSSI, Yunus Nusi, perwakilan Exco Pusat, Ahmad Riyard.

Juga para legenda Timnas Indonesia yang tidak kurang dari 15 orang, dan dua perwakilan mantan pemain Timnas Indonesia, Evan Dimas, serta Arief Suyono.

Dalam sambutannya, Zainudin Amali menyampaikan terima kasih pada tujuh klub pendiri PSSI.

Yaitu VIJ Jakarta (Persija), BIVB Bandung (Persib), PSM Mataram (PSIM), VVB Solo (Persis), MVB Madiun (PSM Madiun), IVBM Magelang (PPSM), dan SIVB Surabaya (Persebaya). 

"Perjalanan klub-klub pendiri luar biasa hingga sampai saat ini PSSI Ada," kata Zainudin Amali.

Ia menjelaskan bahwa awal mula pendirian PSSI bantuk persatuan anak bangsa.

"Maknanya, sebagai masyarakat sepak bola harus bersatu. Bertarung dan bertanding hanya 90 menit. Setelah itu kembali bersatu," terangnya.

Oleh karena itu ia berharap sepak bola bisa menyatukan, bukan lantas terpecah belah gara-gara sepak bola.

"Kalau terpecah belah, sudah menyalahi prinsip dasar lahirnya PSSI. Itu benar-benar makna persatuannya ada," ucapnya.

Tidak lupa ia menyampaikan terima kasih pada para legenda yang membawa prestasi terbaik Timnas Indonesia di masanya.

"Mudah-mudahan prestasi semakin baik dari timnas kita semua usia. Mimpi kami di 2030 nanti timnas bisa masuk ke piala dunia," pungkas Zainudin Amali.

Sementara, Ratu Tisha Destria berharap dukungan semua pihak untuk bisa mencapai cita-cita besar ini.

"Tentu PSSI tidak bisa bekerja sendirian, sehingga harus bersinergi dengan banyak pihak, pemerintah, swasta, dan pihak lainnya," kata Ratu Tisha Destria.

"PSSI sebagai lokomotif penggerak sepak bola Indonesia, tidak bisa bergerak sendiri, jadi di momen ulang tahun ini kami ingin mengajak semua pihak untuk bekerja bersama-sama, sesuai tema tahun ini, membangun sepak bola Indonesia," tambahnya.

Terpisah, mantan pemain Timnas Indonesia yang juga hadir, Evan Dimas Darmono, memiliki harapan tersendiri.

"Saya berharap ke depannya PSSI memiliki program, dimana menanamkan ke generasi bagaimana caranya berjiwa kesatria. Dimana bumi dipijak, amanah dijalankan. Dimana bumi dipijak, kejujuran dijalankan," kata Evan Dimas.

Sementara, mantan pemain Timnas lainnya, Arief Suyono lebih menyinggung soal pembinaan usia dini.

Baginya tujuan besar lolos Piala Dunia 2030 bisa ditopang dengan pembinaan yang baik.

"Mudah-mudahan ulang tahun ke-96, terutama lolos piala dunia. Selanjutnya supaya bisa lebih baik di grassroot ," terang Arief Suyono.

"Karena kami sekarang terlalu fokus di timnas senior, tapi kami lupa di grassroot. Karena tombaknya senior itu ada di grassroot. Lebih diperhatikan lagi di grassroot," pungkasnya (amn).

Ego pemain Real Madrid disorot

Para pemain bintang Real Madrid mendapat sindiran dari Steve McManaman, mantan punggawa Los Blancos.

Real Madrid tersingkir dari Liga Champions 2025-2026 dan hanya mencapai perempat final usai disingkirkan oleh Bayern Munich.

Los Blancos menyerah dari raksasa Jerman dengan agregat 4-6.

Bahkan Madrid tak pernah menang dalam dua kali pertarungan melawan Muenchen.

Leg pertama, Madrid keok 1-2 di kandang.

Kemudian anak-anak asuh Alvaro Arbeloa menyerah 3-4 saat gantian menyambangi Allianz Arena.

Baca juga: Real Madrid Tersingkir dari Liga Champions, Vinicius Jr Ngamuk Ditegur Jude Bellingham

Baca juga: Daftar 5 Kandidat Pelatih Disusun Real Madrid untuk Gantikan Arbeloa, Juru Taktik AC Milan Muncul

Pemain Top Berlagak Bos Besar

Padahal skuad Madrid berisikan barisan pemain top seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan masih banyak lagi.

Namun, mereka tetap saja tak bisa menaklukkan Eropa.

Menurut analisa Steve McManaman, kegagalan Madrid di Liga Champions dikarenakan para pemain bintangnya merasa 'besar'.

Dia menilai hal tersebut memengaruhi performa tim.

"Para pemain adalah bos di Real Madrid," kata McManaman seperti dikutip dari Diario Sport, via BolaSport.com.

"Pemain memiliki kekuatan yang luar biasa."

"Saya pikir itulah inti permasalahannya," ujar gelandang Madrid periode 1999-2003 itu.

Lagi-lagi menurut McManaman, sebesar apapun seorang pemain, seharusnya tunduk terhadap pelatih yang notabene memegang kendali tim.

Akan tetapi, situasi di Madrid justru anomali.

"Arne Sloth adalah bos di Liverpool, Pep Guardiola merupakan bos di Manchester City. Akan tetapi, para pemain adalah bos di Real Madrid,” tutur McManaman.

Baca juga: Rencana Cuci Gudang Bak Sinyal Real Madrid Bentuk "Los Galacticos" Baru

Tantangan Ego Pemain

Madrid berada dalam era Los Galacticos saat McManaman bermain.

Kala itu, Madrid dipenuhi pemain bintang macam Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo Luis Nazario, dan lain-lain.

Main bareng pesepak bola besar tentu bukan perkara mudah bagi McManaman.

Dia harus menghadapi pemain-pemain dengan ego besar.

Kendati sulit, McManaman terap bisa meraih prestasi.

McManaman meninggalkan Estadio Santiago Bernabeu usai meraih dua gelar Liga Champions, dua kali juara LaLiga, satu Piala Super Spanyol, dan satu Piala Super Eropa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.