Peristiwa ini terjadi setelah meninggalnya seorang pria lanjut usia yang dikenal sebagai kolektor kendaraan mahal
PROHABA.CO - Pemakaman tak biasa dan dilakukan oleh sebuah keluarga di China menyita perhatian dan sorotan setelah menguburkan mobil mewah seharga Rp2,7 miliar sebagai bagian dari persembahan pemakaman.
Aksi yang tak lazim itu kemudian memicu teguran dari pemerintah serta permintaan maaf secara terbuka.
Peristiwa ini terjadi setelah meninggalnya seorang pria lanjut usia yang dikenal sebagai kolektor kendaraan mahal.
Upacara pemakamannya berlangsung tidak biasa dan menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan.
Mobil dikuburkan bersama jenazah
Dilansir dari NDTV, Sabtu (18/4/2026), sebuah mobil Mercedes-Benz dikuburkan di sebuah desa di Liaoyang, Provinsi Liaoning, memicu reaksi keras publik karena dianggap melanggar aturan serta berpotensi membahayakan lingkungan.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sejumlah warga menghadiri prosesi pemakaman pria berusia sekitar 70 tahun tersebut pada 9 April 2026.
Menurut sumber yang dikutip media lokal, mendiang dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap mobil mewah.
Oleh karena itu, keluarganya memutuskan menguburkan kendaraan asli sebagai bentuk penghormatan, dengan harapan sang mendiang dapat beristirahat dengan tenang.
Baca juga: Unik! Pasutri Ini Tinggalkan Pekerjaan Kantoran Nekat Hidup di Kapal Pesiar
Mobil yang dikuburkan tersebut merupakan Mercedes-Benz S450L berwarna hitam dengan nilai sekitar 1,1 juta yuan (sekitar Rp 2,7 miliar).
Kendaraan itu juga menggunakan pelat nomor “8888”, angka yang dalam budaya setempat identik dengan kemakmuran.
Pelat nomor dengan empat angka kembar seperti itu dianggap membawa keberuntungan dan bahkan bisa diperdagangkan hingga sekitar 250.000 yuan (sekitar Rp 628 juta). B
Dianggap sebagai bagian tradisi di China
Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post, Sabtu (18/4/2026), dalam video yang beredar, terlihat sebuah ekskavator mengangkat mobil di dekat batu nisan yang baru dipasang.
Kendaraan tersebut ditutup kain merah, sedangkan pita merah diikatkan pada kaca spion sampingnya.
Puluhan warga desa kemudian turut mendorong mobil tersebut masuk ke liang kubur, bahkan beberapa di antaranya menggunakan sekop untuk menimbunnya dengan tanah.
Baca juga: UNIK, Fenomena Hujan Hanya Membasahi Satu Rumah Saja
Menurut laporan media daratan China Xin Huanghe, salah satu anggota keluarga laki-laki kemudian menyampaikan terima kasih kepada warga melalui jamuan makan.
Tak hanya itu, keluarga tersebut juga membagikan amplop merah berisi 500 yuan (sekitar Rp 1,2 juta) kepada setiap orang yang membantu.
Keluarga tersebut tidak memberikan penjelasan mengapa mereka tidak menggunakan tradisi umum berupa persembahan replika kertas.
Dalam tradisi pemakaman di China, umumnya digunakan benda tiruan dari kertas seperti mobil, rumah, dan perlengkapan rumah tangga.
Benda-benda tersebut kemudian dibakar sebagai simbol agar mendiang memperoleh kenyamanan di kehidupan setelah kematian.
Tuai sorotan publik
Reaksi publik pun beragam terkait fenomena tersebut.
Sebagian warganet menilai tindakan keluarga tersebut sebagai bentuk pamer kekayaan.
Sementara itu, pihak keluarga membelanya sebagai ekspresi duka sekaligus bentuk bakti kepada orang tua.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penguburan mobil tanpa pengolahan dapat mencemari tanah dan air tanah, serta berpotensi melanggar aturan penggunaan lahan.
Seorang pengacara dari firma hukum di Beijing, Wang Peng, menyatakan kepada media bahwa tidak dilakukannya prosedur penghapusan kendaraan sesuai aturan dapat berujung pada sanksi administratif, meskipun mobil tersebut merupakan milik pribadi.
Baca juga: UNIK, Mahasiswa Ini Pakai Kostum Hantu saat Sidang Skripsi
“Jika plat nomor dipalsukan, mereka yang terlibat juga dapat menghadapi penahanan administratif,” katanya
Sehari setelah kejadian itu mencuat, pihak berwenang langsung turun tangan.
Kantor urusan sipil setempat mengumumkan bahwa keluarga bermarga Jin telah mendapat teguran karena menguburkan mobil secara ilegal yang dikaitkan dengan praktik takhayul feodal.
Keluarga tersebut kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Selain kemungkinan dikenai denda, mereka juga dilaporkan harus menanggung biaya penggalian kembali, pembersihan lokasi, serta pemulihan kondisi lingkungan.
Kisah ini dengan cepat menjadi viral di media sosial daratan China, dengan unggahan terkait meraih lebih dari 30 juta tayangan.
Sejumlah warganet pun melontarkan kritik tajam. Salah satu komentar menyebut, “Ini konyol.
Mereka hanya peduli dengan kehidupan setelah kematian tetapi mengabaikan polusi yang mereka timbulkan di dunia orang hidup”.
Komentar lain menilai tindakan tersebut tidak tepat.
“Menunjukkan kasih sayang kepada keluarga Anda selagi mereka masih hidup jauh lebih bermakna daripada isyarat simbolis ini,” tulis warganet lain
“Orang kaya dengan ketidaktahuan seperti ini merupakan masalah nyata bagi dunia. Pihak berwenang juga harus memeriksa apakah mereka telah melanggar hukum lain, seperti menghindari pajak,” tulis pengguna lain.(*)