Minyak Meledak 7 Persen! Negosiasi AS-Iran Amburadul, Serangan Kapal Guncang Pasar Global
Endra Kurniawan April 21, 2026 01:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia melonjak signifikan di awal pekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Al Jazeera melaporkan harga minyak mentah Brent berjangka naik lebih dari 7 persen dalam perdagangan Asia pada Senin (20/4/2026).

Harga bahkan sempat menyentuh sekitar 94,69 dolar AS per barel, naik dari posisi di bawah 90 dolar AS pada akhir pekan.

Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas terganggunya pasokan energi global.

Serangan Kapal di Selat Hormuz

Lonjakan harga dipicu oleh insiden keamanan di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut.

Kapal perang Iran disebut menembaki sebuah kapal tanker, sementara proyektil tak dikenal menghantam kapal kontainer.

Baca juga: Hari ke-52 Perang Iran Memanas! Pembicaraan Mandek, AS Sita Kapal, Teheran Ancam Balas

Insiden ini memperkuat risiko gangguan distribusi minyak global.

Lalu lintas kapal pun menurun drastis, hanya 19 kapal melintas dibanding rata-rata historis sekitar 138 kapal per hari.

Langkah Militer AS Memicu Ketegangan

Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penyitaan kapal kargo berbendera Iran.

Trump menyebut kapal tersebut berusaha menghindari blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Dalam pernyataan keras di media sosial, ia menegaskan:

“Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal... jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran.”

Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran eskalasi konflik terbuka.

Sinyal Damai yang Saling Bertentangan

Di tengah ketegangan, sinyal diplomasi justru membingungkan pasar.

The New York Times melaporkan Amerika Serikat berencana mengirim delegasi ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi gencatan senjata.

Namun Iran membantah keterlibatan mereka dalam pembicaraan tersebut.

Baca juga: 20 Kapal Berhasil Lintasi Selat Hormuz Akhir Pekan Kemarin Sebelum Iran Menutupnya Lagi

Media pemerintah Iran menyebut Teheran menolak hadir karena “tuntutan berlebihan” dari Washington.

Perbedaan pernyataan ini menciptakan ketidakpastian besar di pasar global.

Nasib Negosiasi di Ujung Tanduk

Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam perundingan baru.

Sebelumnya, ia gagal mencapai kesepakatan dalam putaran awal di Islamabad.

Kegagalan kedua dapat menjadi pukulan politik besar, sekaligus memperpanjang konflik yang sudah mengguncang ekonomi global.

Isu utama yang masih diperdebatkan meliputi program nuklir Iran dan status Selat Hormuz.

AS menginginkan pembatasan pengayaan uranium hingga 20 tahun, sementara Iran hanya menawarkan lima tahun.

Stabilitas Energi Terkena Dampak

Konflik ini berdampak langsung pada stabilitas energi dunia.

Penutupan efektif Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara.

Pemerintah mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan energi darurat serta langkah penghematan.

Meski demikian, pasar saham Asia justru menunjukkan penguatan di awal perdagangan.

Namun selama konflik dan ketidakpastian diplomasi berlanjut, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.