Trump Siap Bertemu Pemimpin Iran: Penghentian Program Nuklir Adalah Harga Mati
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Senin (20/4/2026) menegaskan kalau penghentian program senjata nuklir Iran adalah syarat yang tidak dapat dinegosiasikan dalam perundingan untuk penghentian perang.
Trump menekankan kalau syarat ini merupakan inti dari setiap pembicaraan di masa mendatang antara kedua belah pihak.
Baca juga: Data Tunjukkan Iran Masih Kuat Lawan AS, Masoud Pezeshkian: Memang Siapa Trump? Ngatur-ngatur!
New York Post mengutip pernyataan Trump yang mengatakan kalau ia siap bertemu dengan para pemimpin senior Iran jika terjadi terobosan dalam negosiasi.
Trump juga menyatakan harapannya agar kedua pihak tidak menggunakan "permainan" selama tahap sensitif ini.
Dia menambahkan kalau delegasi negosiasi AS, termasuk tokoh-tokoh terkemuka, seperti wakilnya JD Vance, utusan khusus Wittkopf, dan Kushner, sedang dalam perjalanan ke Islamabad dan diperkirakan akan tiba dalam beberapa jam.
Trump mengindikasikan, pembicaraan mendatang dengan Iran akan fokus terutama pada program nuklirnya.
Trump juga menekankan kalau negaranya menganggap pencegahan terhadap Teheran untuk memperoleh jenis senjata ini sebagai prioritas yang tidak dapat dinegosiasikan.
Di sisi lain, Trump dilaporkan akan mempertimbangkan untuk melonggarkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebagai bentuk itikad mengakhiri perang.
Hal itu disampaikan Trump ke Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir dalam sebuah panggilan telepon, menurut sebuah sumber keamanan Pakistan, Senin.
"Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Munir kalau dia akan mempertimbangkan saran Munir soal pengenduran blokade pelabuhan Iran untuk pembicaraan guna mengakhiri perang dengan Teheran," kata laporan yang dilansir khaberni.
Laporan ini muncul setelah pihak AS pada Senin pagi menyatakan kalau mereka telah menembaki dan menyita sebuah kapal kargo Iran setelah kapal tersebut mencoba menerobos blokade laut ke pelabuhan Iran.
Militer Iran mengatakan kapal itu datang dari China dan bersumpah akan membalas apa yang mereka sebut sebagai "pembajakan bersenjata oleh militer AS"
"Insiden ini membuat kekhawatiran kalau gencatan senjata antara Washington dan Teheran runtuh, setelah Amerika Serikat mengumumkan telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade yang diberlakukan di pelabuhan-pelabuhan Iran, yang mendorong Iran untuk bersumpah akan membalas," tulis laporan media.
Upaya untuk mencapai perdamaian yang lebih langgeng di kawasan itu tampaknya berada di landasan yang goyah, karena Iran mengumumkan akan mengirim delegasi ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan jika ada sinyal positif dari Amerika Serikat.
Penembakan dan penyitaan kapal berentitas Iran ini dianggap Teheran bukan menjadi sinyal positif di mana AS tetap mempertahankan blokade lautnya.
(oln/khbrn/*)