Buntut Perang di Timur Tengah, LPG Nonsubsidi Naik, 2 Resto di Kuta Tambah Biaya Hingga Rp5 Juta
Aloisius H Manggol April 21, 2026 11:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pertamina ternyata tidak hanya menaikkan harga gas LPG nonsubsidi (bright gas) ukuran 5,5kg dan 12kg tetapi gas untuk industri ukuran 20kg pun ikut naik.

Kenaikannya pun cukup signifikan mencapai 35 persen dari harga lama dan ini memberatkan usaha restoran yang menggunakan gas LPG 50kg.

"Ini baru sekali ternyata kita dapat dari data purchasing kami memang benar ada kenaikan di gas. Kenaikannya itu tidak sedikit mencapai 35 persen kalau kita bandingkan dari harga yang sebelumnya," ujar General Manager Rantang Mama dan Waroeng Telagasari, Trias Ulandari, saat ditemui pada Senin 20 April 2026.

Baca juga: Baru Merantau di Bali, Keluarga Curiga Korban Tak Berkabar, Ditemukan Tewas di Pantai Ungasan

Kenaikan harga LPG ini pun mengakibatkan pihaknya yang mengelola dua restoran di daerah Kuta harus menghitung ulang lagi biaya produksi dan merogoh kocek lebih mahal untuk pembelian gas LPG.

Namun hitung-hitungan biaya produksi belum dilakukan karena kenaikan gas LPG terjadi di pertengahan bulan April ini.

Baca juga: Identitas Mayat di Pantai Gau Bali Terungkap, Pegawai Asal Bandung, Hilang Kontak Sejak 19 April

"Kita juga belum tahu hitung-hitungannya pastinya tapi pasti akan berimbas tentunya terhadap biaya produksi menu makanan," imbuh Ulan.

 


Disinggung apakah hitung-hitungan yang dimaksud ini akan ada menaikkan harga menu makanan di dua outlet restoran?

 


Pihaknya menyampaikan bahwa untuk menaikkan harga menu makanan belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

 


"Memang pengaruhnya besar (kenaikan harga gas) kalau tidak ada gas kita tidak bisa masak. Tapi untuk sementara kita belum ada langkah untuk kenaikan harga dan lain-lain itu belum," ungkapnya.

 


Dalam satu bulan Rantang Mama dan Waroeng Telagas menghabiskan kurang lebih 7 hingga 9 tabung gas LPG 50kg sehingga dalam sebulan mereka menghabiskan kurang lebih 18 tabung gas.

 


Satu tabung gas LPG 50kg sebelum kenaikan harganya di kisaran Rp750 ribu per tabung sehingga per bulan merogoh kocek mencapai Rp13,5 juta.

 


Dengan kenaikan yang terjadi saat ini satu bulan harus mengeluarkan biaya mencapai Rp18 juta.

 


"Kalau misalkan dengan kondisi saat ini yang artinya sudah menembus Rp1 juta per tabung setelah naik sudah cukup signifikan kalau dikalikan quantity-nya 7 sampai 9 tabung per bulan untuk satu disini saja. Resto satunya sama juga jadi dengan kenaikan sebesar itu cukup besar dampaknya ke kita," paparnya.

 


Selain kenaikan harga gas LPG pihaknya pun mengeluhkan kondisi menurunnya kunjungan wisatawan ke Bali beberapa pekan terakhir dampak dari perang di kawasan Timur Tengah serta kenaikan harga avtur.

 


"Turunnya sampai di angka 30 persen untuk rata-rata per hari (kunjungan tamu ke dua restoran). Padahal di sini (Rantang Mama) beda market dengan di sana bahkan penurunannya sebelum kenaikan BBM (nonsubsidi)," ucap Ulan.

 


Menurutnya dengan adanya kenaikan BBM dan gas LPG biasanya akan diikuti kenaikan bahan-bahan pokok lainnya di pasar. 

 


Hal ini pun pasti akan memberatkan sektor usaha kuliner.

 


Jika kondisi ini berlangsung lama dan tidak ada langkah mitigasi dari pemerintah tentu pihaknya harus melakukan sejumlah penyesuaian baik seluruh menu makanan dan minum hingga pengurangan staf.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.