Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman, Siap Buka Kartu Baru di Medan Perang
Ansari Hasyim April 21, 2026 02:39 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima pembicaraan dengan Amerika Serikat jika berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Qalibaf melalui akun X miliknya pada Selasa dini hari. Ia mengecam Presiden AS Donald Trump, yang dinilainya bertindak berdasarkan khayalan dan tekanan sepihak.

Sikap keras Qalibaf muncul menyusul tudingan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat terhadap kesepakatan yang dicapai dua pekan lalu.

Pelanggaran itu antara lain berupa blokade laut serta serangan terhadap kapal dagang Iran di Laut Oman pada Minggu lalu.

“Trump, dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, dalam khayalannya ingin mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan diri, atau membenarkan penghasutan perang baru,” ujar Qalibaf, yang juga dikenal sebagai salah satu figur utama dalam perundingan strategis Iran.

Ia menegaskan, tekanan tidak akan menghasilkan konsesi dari Teheran.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Selama dua minggu terakhir, kami telah mempersiapkan diri untuk mengungkapkan kartu baru di medan perang,” tegasnya.

Pernyataan ini mempertebal ketidakpastian menjelang rencana putaran lanjutan pembicaraan Iran–AS, yang kembali diselimuti ketegangan setelah insiden di laut.

• Negosiasi AS-Iran di Ujung Tanduk, Mediator Minta Tambahan Waktu Gencatan Senjata

Militer Iran menyebut aksi tersebut sebagai pelanggaran perilaku maritim dan menegaskan kesiapan penuh untuk merespons, seraya menekankan kepercayaan pada kemampuan nasional.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menolak ancaman Washington. Ia menyebut tekanan militer dan diplomatik AS sebagai taktik lama yang tidak akan membuat Iran tunduk pada paksaan.

Di sisi lain, media Amerika melaporkan delegasi AS dijadwalkan terbang ke Islamabad pada Selasa untuk mengikuti putaran pembicaraan berikutnya dengan delegasi Iran. Namun, Trump kembali melontarkan pernyataan bernada ancaman melalui media sosialnya.

“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Jika mereka menolaknya, Amerika Serikat akan melumpuhkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tulis Trump.

Retorika keras tersebut beriringan dengan laporan mengenai aksi pembajakan dan penghadangan di laut oleh Angkatan Laut AS, yang menargetkan kapal dagang Iran dan dinilai melanggar gencatan senjata.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya mengecam operasi tersebut sebagai tindakan kriminal dan pembajakan maritim. Iran juga menegaskan bahwa kapal dagangnya ditembaki di perairan Laut Oman.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan AS tidak menunjukkan keseriusan dalam bernegosiasi. Ia memperingatkan Washington akan menghadapi pembalasan tegas jika mengulangi kesalahan masa lalu terhadap Iran.

Menurut laporan, Panglima Militer Pakistan Asim Munir menyampaikan kepada Trump bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran menghambat upaya Islamabad memediasi perundingan putaran kedua untuk mengakhiri agresi AS–Israel terhadap Iran secara permanen.

Perang agresi tersebut disebut dimulai pada 28 Februari dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil, termasuk hampir 170 anak sekolah di Kota Minab, Iran selatan.

Setelah 40 hari agresi, AS akhirnya menyetujui proposal sepuluh poin yang diajukan Iran, membuka jalan bagi pembicaraan trilateral Iran–AS dengan mediasi Pakistan di Islamabad.

Pada Jumat lalu, usai gencatan senjata mulai berlaku di Lebanon, Iran sempat menyetujui pembukaan Selat Hormuz bagi kapal komersial dengan tetap mempertahankan kendali atas jalur air strategis tersebut.

Namun, Amerika Serikat tetap mempertahankan apa yang disebut sebagai “blokade laut” yang dinilai melanggar kesepakatan, sehingga memaksa Iran kembali menutup chokepoint vital itu bagi seluruh lalu lintas kapal pada Minggu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.