Lahan Pertanian di Aceh Timur Tertutup Lumpur, Pakar Pertanian Sebut Pemulihan Butuh 4 Musim Tanam
Amirullah April 21, 2026 04:25 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Banjir bandang yang melanda Simpang Jernih meninggalkan persoalan serius bagi sektor pertanian. Hamparan lahan produktif kini terkubur lumpur tebal, dan para petani dihadapkan pada tantangan pemulihan yang tidak ringan.

Pakar pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal), Prof. Dr. Ir. Khusrizal, M.P., pada Selasa (21/4/2026) menjelaskan bahwa endapan lumpur sisa banjir menyimpan paradoks tersendiri bagi lahan pertanian.

Jika lapisan lumpur yang tertinggal relatif tipis, endapan itu justru membawa manfaat karena kaya akan unsur hara yang menyuburkan tanaman.

Namun kondisinya berbalik menjadi ancaman apabila ketebalan lumpur melebihi 20 sentimeter. Pada kondisi itu, material endapan justru miskin nutrisi dan berpotensi mematikan kesuburan lahan.

"Pembersihan fisik saja tidak cukup. Lahan yang trauma membutuhkan rehabilitasi agronomi, mulai dari pembajakan ulang untuk aerasi hingga injeksi bahan organik secara intensif. Pemulihan total struktur tanah butuh waktu hingga empat musim tanam," tegas Prof. Khusrizal.

Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Turun Rp 20.000 Per Mayam Hari Ini, 21 April 2026 Dijual Segini

Ia menekankan, pembersihan endapan lumpur tebal adalah langkah pertama yang tidak bisa ditunda, khususnya di area persawahan. Selain itu, normalisasi jaringan tata air yang tertimbun material banjir juga harus menjadi prioritas utama.

Saluran air yang tersumbat akan menghilangkan fungsi drainase, membuat air terperangkap, menggenangi sawah, dan pada akhirnya merusak ekosistem tanam.

Menurut Khusrizal, struktur tanah yang gembur merupakan kunci utama bagi kelancaran sirkulasi udara dan aliran air di dalam tanah dua syarat mutlak bagi perkembangan akar dan penyerapan unsur hara.

Tanah yang kehilangan vitalitasnya akibat rendaman banjir harus segera dipulihkan dengan injeksi bahan organik, baik berupa pupuk kandang maupun kompos.

"Penambahan material organik ini berfungsi untuk memulihkan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang rusak. Apabila intervensi ini dilakukan secara intensif dan terukur, lahan-lahan produktif dapat kembali difungsikan dalam waktu yang relatif singkat," jelasnya.

Lebih jauh, Prof. Khusrizal menegaskan bahwa dampak banjir terhadap lahan pertanian kini telah berkembang menjadi ancaman langsung terhadap perekonomian masyarakat dan ketahanan pangan daerah.

Petani yang baru saja dihantam bencana, menurutnya, jelas tidak memiliki kapasitas finansial maupun tenaga untuk memikul beban rehabilitasi lahan secara mandiri.

Kebutuhan yang harus ditanggung sangat besar, mulai dari pembersihan endapan lumpur setinggi 15 hingga 30 sentimeter, pemupukan ulang tanah yang telah kehilangan unsur haranya, hingga pengadaan benih berbagai komoditas untuk musim tanam berikutnya.

"Oleh sebab itu, pemerintah dituntut untuk segera turun tangan memberikan bantuan yang konkret. Fasilitasi negara dalam proses pemulihan lahan ini bukan sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan demi menyelamatkan mata pencaharian warga dan memastikan ketahanan pangan daerah tidak lumpuh," katanya. 

Baca juga: 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.