Vaksinasi Campak di Fakfak Hadapi Tantangan Keyakinan Lokal "Air Sarampa"
Hans Arnold Kapisa April 21, 2026 05:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dalam menggencarkan vaksinasi campak menyusul penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) menghadapi tantangan di lapangan.

Sebagian masyarakat masih ragu terhadap vaksin dan lebih mempercayai khasiat tradisional "Air Sarampa".

“Orang tua-tua kami sudah membuktikan Air Sarampa ini barakat (berkat) dan diturunkan dari leluhur untuk dipakai. Bagi kami sudah terbukti mujarab,” ujar seorang warga Fakfak yang enggan disebutkan namanya, Selasa (21/4/2026).

Ia menuturkan, keyakinan terhadap "Air Sarampa" diwariskan turun-temurun dan masih menjadi pegangan sebagian masyarakat.

“Kami dan anak-anak cucu memang masih takut dengan vaksin,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Fakfak, Husein Lie, mengakui adanya kendala dalam pelaksanaan vaksinasi, termasuk keterbatasan jumlah vaksin.

Baca juga: BREAKING NEWS: Campak Rubella Klinis Ditetapkan Jadi KLB di Fakfak Papua Barat

“Memang perlu sosialisasi lebih masif agar masyarakat memahami pentingnya imunisasi campak. Sosialisasi ini sudah dilakukan sejak lama, namun harus terus diperkuat,” jelasnya.

Ia menegaskan, vaksinasi tambahan melalui Outbreak Response Immunization (ORI) bertujuan memutus rantai penularan campak pada situasi KLB.

“Imunisasi ini diberikan kepada anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, untuk meningkatkan kekebalan dan mencegah penyebaran lebih lanjut,” bebernya.

Dinkes Fakfak mengimbau masyarakat, khususnya para orangtua, agar membawa anak-anak ke puskesmas untuk divaksin.

“Terutama di empat lokus yang telah ditetapkan, yakni Kelurahan Dulanpokpok, Kampung Tanama, Wagom, dan Wagom Utara,” tandas Husein.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.