TRIBUNKALTIM.CO - Saat ini, warga di perkotaan mengeluhkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sejumlah barang.
Diketahui, Pemerintah menaikkan harga BBM dan LPG nonsubsidi bersamaan sehingga membuat masyarakat makin kesulitan.
Sementara itu, warga di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, justru memilih untuk lebih banyak terdiam.
Baca juga: Reaksi Pakar Ekonomi Atas Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi: Wajar di Tengah Krisis Global, Risiko Kecil
Bagi mereka, harga barang mahal adalah ujian rutin yang tak kunjung usai.
Jalanan di pelosok ini kerap menjelma menjadi kubangan lumpur yang menenggelamkan ban mobil gardan ganda, memaksa penumpang hingga sopir menginap di tengah hutan demi mengeluarkan kendaraan dari jebakan.
"Ketika orang kota ribut karena naiknya harga BBM dan barang kebutuhan, kami di pelosok ini sudah bosan berteriak," ujar Camat Krayan Selatan, Oktafianus Ramli, saat dihubungi pada Selasa (21/4/2026).
Akses jalan yang sulit menyebabkan pasokan barang kebutuhan dari dalam negeri menjadi sangat mahal karena harus didatangkan melalui udara.
Akibatnya, masyarakat Krayan sejak lama sangat bergantung pada pasokan barang dari Malaysia yang secara geografis lebih dekat.
Namun, kondisi saat ini kian menjepit.
Gejolak ekonomi global dan penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap Rupiah (kurs mencapai Rp 4.300/RM 1) membuat harga barang-barang dari negeri jiran ikut meroket.
"Barang Indonesia mahal, Malaysia juga mahal, akses jalan sulit dilewati. Kita warga Krayan makin tercekik," keluh Oktafianus.
Kondisi ekonomi di Krayan saat ini benar-benar menguji daya beli warga.
Bayangkan saja, untuk mendapatkan bensin asal Malaysia, warga harus merogoh kocek antara Rp 30.000 hingga Rp 45.000 per liter, tergantung seberapa jauh lokasi distribusinya.
Harga bahan pokok pun rata-rata mengalami lonjakan sebesar Rp 10.000 dari harga normal.
Saat ini, gula pasir dan minyak goreng sudah menyentuh harga Rp 30.000 per kilogram atau per liter.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat pada komoditas gas elpiji 14 kg produk Petronas.
Jika sebelumnya harga isi ulang (refill) masih di bawah Rp 300.000, kini harganya melambung drastis di kisaran Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per tabung.
Meskipun harus bermandikan lumpur dan menghadapi biaya hidup yang sangat tinggi, masyarakat Krayan tetap mencoba tegar.
Dalam sebuah video yang dikirimkan Oktafianus, terlihat warga saling bantu menarik mobil pengangkut sembako yang terjebak lumpur tanpa keluhan, bahkan sesekali diselingi tawa dan obrolan rohani.
Krayan hanya mendapatkan kuota BBM sekitar 1 ton per pekan melalui udara, jumlah yang jauh dari mencukupi untuk kebutuhan warga.
Meski merasa aspirasi mereka selama ini kurang didengar, harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada akses infrastruktur di perbatasan tetap terjaga.
"Meski capek teriak, harapan kami untuk didengar tak pernah hilang," kata Oktafianus.
Baca juga: Bahlil Sebut Harga Pertamax Berpotensi Naik, BBM Subsidi Tetap Stabil hingga Akhir Tahun
(*)