Pedagang Makanan Terpaksa Kurangi Porsi Buntut Kenaikan Harga Plastik hingga 70 Persen
Feryanto Hadi April 21, 2026 06:20 PM

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q 


WARTAKOTALIVE.COM, SEMANGGI - Harga plastik di pasar melonjak tajam sejak konflik di Timur Tengah memanas. 

Pedagang mulai tertekan karena biaya kemasan naik signifikan mencapai 50 persen dari kondisi normal. 

Kenaikan terjadi bertahap sejak 28 Februari 2026 lalu yang mengakibatkan pelaku usaha khususnya di sektor UMKM makanan dan minuman, semakin tertekan. 

Pembeli pun otomatis terbebani karena harga makanan-minuman berpotensi naik atau jumlahnya dikurangi.

Adapun kenaikan harga plastik tersebut dikeluhkan oleh pedagang makanan di lingkungan Polda Metro Jaya, Halimah Tanjung.

Halimah mengaku kenaikan harga plastik sangat memberatkan pelaku usaha sepertinya. 

Ia menyebut kenaikan terjadi cukup drastis hingga lebih dari 70 persen.

“Sangat memberatkan buat kami pedagang kecil. Karena kenaikan harganya enggak sedikit, tapi lebih 70 persen,” ujarnya, kepada Warta Kota, Sabtu (11/4/2026).

Ia membeberkan, kantongan plastik ukuran 24 yang sebelumnya seharga Rp16.000, kini naik menjadi Rp28.000.

Selain itu, kemasan thin wall ukuran 750 ml juga mengalami kenaikan dari harga normal Rp23.000 menjadi Rp35.000.

Menghadapi kondisi tersebut, Halimah mengaku harus melakukan penyesuaian agar usaha tetap bertahan. 

Salah satu strategi yang ia lakukan adalah mengurangi porsi produk tanpa menaikkan harga jual.

“Kalau saya pribadi biar tetap survive, porsi saya kurangin sedikit dan harga bisa tetap di harga normal,” katanya.

Meski harga plastik naik, Halimah menyebut sejauh ini belum ada pelanggan yang melakukan protes. 

Menurutnya, para pembeli memahami kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil.

“Sejauh ini tidak ada yang komplain karena sudah paham karena situasi ekonomi global,” ujarnya.

Halimah diketahui telah memulai usaha jualannya sejak tahun 2015. 

Ia berharap kondisi harga bahan kemasan dapat kembali stabil agar pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani.

"Kasihan kalau terus-terusan seperti ini, pedagang lainnya menjerit," tutur dia. 

Guru Besar UI Sebut Dipicu Konflik Global dan Minyak Mahal

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Prof Rifelly Dewi Astuti turut mengomentari kenaikan harga plastik.

Menurut Rifelly, kenaikan harga plastik disebabkan oleh kelangkaan bahan baku pembuatannya.

Pasalnya, pembuatan plastik menggunakan minyak mentah atau bahan bakar fosil sebagai komponen utamanya. 

Namun, bahan baku minyak bumi tersebut menjadi langka imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang berujung penutupan Selat Hormuz.

“Harga minyak per barelnya sekarang naik luar biasa karena penutupan Selat Hormuz,” kata Rifelly kepada Warta Kota, Sabtu (11/4/2026).

Rifelly menilai, kenaikan harga minyak mentah secara otomatis menaikkan biaya produksi plastik, yang kemudian berdampak pada harga jual plastik di tingkat konsumen.

Bagi banyak pelaku ekonomi di Indonesia, plastik merupakan kebutuhan vital untuk kemasan yang masuk dalam kategori biaya produksi langsung.

Alhasil, meningkatnya biaya kemasan memaksa produsen menaikkan harga jual produk akhir kepada masyarakat.

Dalam jangka panjang, Rifelly menilai, kenaikan harga plastik berdampak pada keberlangsungan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

“Meningkatkan biaya produksi akhirnya adalah kalau produsen mau enggak mau dia akan meningkatkan harga jual produknya,” ungkapnya.

“Jika harga terus naik sementara daya beli masyarakat menurun, produk UMKM tidak akan terbeli, yang berisiko menyebabkan banyak unit usaha gulung tikar,” sambungnya.

Dalam pandangan Rifelly, ada solusi dan alternatif untuk mengatasi kenaikan harga plastik bagi masyarakat.

Masyarakat dapat mendaur ulang plastik yang telah dipakai, mengolah kembali sampah plastik menjadi biji plastik untuk diproduksi ulang. 

“Namun, tantangannya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan kemasan alami seperti daun pisang untuk membungkus makanan.

Konsumen juga dapat membawa wadah sendiri saat berbelanja atau membeli makanan siap saji guna mengurangi plastik sekali pakai.

Menurut Rifelly, sudah banyak penelitian di universitas mengenai bioplastik berbahan dasar rumput laut atau pati singkong.

Misalnya, Politeknik Media Kreatif Jakarta telah mengembangkan bioplastik dari singkong yang sudah diuji coba pada kemasan UMKM.

“Nah tetapi permasalahannya karena itu belum bisa diproduksi secara massal jadi jatuhnya masih apa tinggi produksinya,” jelasnya. 
Untuk itu, diperlukan peran pemerintah dan industri untuk melakukan pabrikasi secara masif agar harga lebih terjangkau. (

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.