22 Ibu Meninggal Tiap Hari, POGI Dorong SPRIN Jadi Gerakan Nasional Selamatkan Perempuan Indonesia
Willem Jonata April 21, 2026 06:23 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi alarm serius yang belum terpecahkan. 

Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal dunia akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Artinya, satu ibu meninggal hampir setiap jam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan perempuan, khususnya ibu, masih menghadapi tantangan besar. 

Tak hanya berdampak pada individu, tingginya angka kematian ibu juga berpengaruh langsung terhadap kualitas generasi yang akan datang.

Selain itu, beban penyakit lain seperti kanker serviks juga memperparah situasi. 

Baca juga: Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, IBI Soroti Anemia Jadi Ancaman Serius Kesehatan Ibu dan Anak

Setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru terdiagnosis, dengan lebih dari 21.000 kematian, setara satu perempuan meninggal setiap 25 menit.

Berbagai faktor menjadi penyebab, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, kesenjangan antar wilayah, hingga stigma sosial dan kekerasan berbasis gender yang membuat perempuan sulit mendapatkan layanan kesehatan yang layak. 

Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah dalam kondisi komplikasi.

SPRIN Didorong Jadi Gerakan Nasional

Melihat kondisi tersebut, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong SPRIN (Selamatkan PeRempuan Indonesia) untuk berkembang menjadi gerakan nasional.

Langkah ini dinilai mendesak agar upaya penyelamatan perempuan tidak berjalan parsial, tetapi terstruktur, masif, dan berkelanjutan.

Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM menegaskan bahwa SPRIN bukan sekadar program kesehatan biasa.

"SPRIN bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan,"tegasnya dalam konferensi pers Menuju Gerakan Nasional untuk selamatkan perempuan Indonesia (SPRIN) oleh POGI di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).

Pihaknya ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa kesehatan perempuan bukan isu sektoral, melainkan fondasi utama pembangunan bangsa. 

Budi menyampaikan jika ketika perempuan sehat dan berdaya, maka keluarga menjadi lebih kuat, generasi yang lahir lebih berkualitas, dan pada akhirnya akan memperkuat daya saing bangsa secara keseluruhan. 

"Ke depan, SPRIN kami dorong untuk berkembang menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan lintas sektor. Bahkan, kami menargetkan pembentukan Satgas SPRIN sebagai langkah strategis untuk memastikan upaya ini berjalan secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan dalam jangka panjang,"imbuhnya. 

POGI mengidentifikasi setidaknya empat tantangan utama yang masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan di Indonesia, yaitu:

1. Tingginya angka kematian ibu

2. Mutu dan kesinambungan layanan yang belum merata

3. Kesenjangan akses antar wilayah

4. Rendahnya literasi dan kepercayaan masyarakat

"Melalui SPRIN, kami mendorong pendekatan yang lebih terintegrasi, dimulai dari membangun awareness, lalu mendorong masyarakat untuk benar-benar mengakses layanan kesehatan, hingga memastikan bahwa layanan yang diterima memiliki mutu yang optimal dan berkesinambungan," jelas Prof. Budi.

10 Fokus SPRIN, dari Remaja hingga Lansia

Sebagai langkah konkret, SPRIN menghadirkan 10 fokus utama yang menyasar berbagai tahap kehidupan perempuan, yaitu:

1. Skrining DNA HPV dan vaksinasi HPV massal

2. Edukasi kesehatan reproduksi remaja dan dewasa

3. Suplemen mikronutrien bagi ibu hamil

4. Program perencanaan dan pengawalan kehamilan

5. Skrining Hb dan zat besi ibu hamil

6. Pemeriksaan kesehatan perempuan menopause

7. Podcast kesehatan reproduksi

8. Sertifikasi mutu layanan kesehatan reproduksi (SPRIN Certified)

9. Pendidikan kader kesehatan (SPRINTER)

10. Program finansial sehat untuk reproduksi sehat

Ke depan, SPRIN akan diperkuat melalui SPRIN Summit 2026 sebagai forum tahunan untuk konsolidasi nasional. 

Selain itu, POGI juga tengah menyiapkan Rumah Perempuan Indonesia sebagai pusat layanan terpadu untuk edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.