Tips Hadapi El Nino untuk Petani Dibagikan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara
Sitti Nurmalasari April 21, 2026 11:49 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah tips untuk mengantisipasi terjadinya El Nino bagi petani dibagikan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sulawesi Tenggara (Sultra).

El Nino adalah fenomena iklim ketika suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya.

Akibatnya, sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Sultra biasanya mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering, sehingga berpotensi menyebabkan kekeringan, dan berkurangnya ketersediaan air.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Sultra, Prof Muhammad Taufik, mengatakan untuk mengantisipasi El Nino petani dianjurkan memilih varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan.

Kemudian, menyesuaikan jadwal tanam seperti menanam padi lebih awal dari waktu yang ditentukan, agar tidak terdampak kekeringan saat memasuki fase pertumbuhan.

Baca juga: Dampak Positif dan Negatif El Nino, Serta Cara Menghadapinya Dibagikan BMKG Sulawesi Tenggara

Apabila dampak El Nino mulai terasa, petani diimbau memanfaatkan sumber air yang masih tersedia untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

Berdasarkan hasil rapat bersama Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pemerintah daerah juga diminta menyiapkan usulan anggaran untuk program pompanisasi.

Pompanisasi ini berupa metode irigasi buatan menggunakan pompa air untuk mengambil air langsung dari sumbernya seperti sungai dan sumur, lalu mengalirkannya ke lahan pertanian.

“Langkah antisipasi harus dilakukan sejak awal. Jika El Nino tidak dihadapi dengan baik, produksi pertanian bisa menurun dan berpotensi mengganggu target swasembada pangan,” kata Prof Taufik saat diwawancarai di kantornya, Selasa (21/4/2026).

Ia menyebut pemerintah juga memperkuat cadangan pangan melalui penyerapan gabah oleh Badan Urusan Logistik atau Bulog.

Baca juga: Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara Bantah Isu El Nino Godzilla, Kenali Fenomena Iklim

Gabah petani dibeli sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas produksi serta ketersediaan pangan.

Adapun stok pangan di Sultra saat ini masih dalam kondisi aman, bahkan Gudang Bulog di berbagai daerah dilaporkan telah terisi penuh.

“Cadangan pangan kita cukup. Gudang-gudang Bulog terisi penuh, bahkan kita masih bisa mengirim beras ke luar daerah. Bulog juga sampai menyewa gudang tambahan untuk menampung stok,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Sulawesi Tenggara terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Sultra, Nur Wiryanti Sih Antomo, menjelaskan penentuan awal musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan dalam satu dasarian atau periode 10 hari.

Baca juga: Sulawesi Tenggara Peringkat Ke-4 Produksi Beras Tertinggi Nasional 2024 Meski Dilanda El Nino

Musim kemarau ditetapkan ketika curah hujan kurang dari 50 milimeter dalam satu dasarian dan kondisi tersebut berlanjut pada dua dasarian berikutnya.

“Namun, awal musim kemarau di Sultra tidak terjadi secara bersamaan karena dipengaruhi kondisi wilayah masing-masing,” jelasnya.

BMKG bersama pusat iklim dunia memprediksi fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) mengarah ke kondisi El Nino lemah hingga moderat pada Mei hingga Juli 2026 dengan peluang sekitar 50 hingga 80 persen.

“Puncak musim kemarau di Sulawesi Tenggara diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.