TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
Kapal kontainer berbendera Iran, Touska, yang disita oleh pasukan Amerika Serikat (AS), kemungkinan membawa barang-barang yang dianggap sebagai barang-barang dwiguna.
Sementara itu, foto tentara Israel memasak di rumah warga Lebanon memicu kecaman karena dianggap sebagai simbol penghinaan dan pendudukan.
Kerja sama militer antara Rusia dan Iran tidak lagi sekadar spekulasi geopolitik, melainkan mulai menunjukkan bentuk konkret yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Dokumen yang terungkap memperlihatkan adanya aliran persenjataan strategis dari Moskow ke Teheran hingga 2027—sebuah sinyal bahwa konflik regional kini semakin terhubung dengan rivalitas global.
Dalam dokumen yang diunggah situs united24media, Rusia disebut memasok jet tempur Su-35 beserta sistem persenjataannya.
Paket ini tidak hanya meningkatkan kemampuan tempur Iran, tetapi juga memperluas daya jangkau militernya dalam menghadapi kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel.
“Tujuan mereka jelas—untuk menghancurkan pesawat musuh,” demikian isi dokumen yang dikutip dalam laporan tersebut.
Yang membuat temuan ini signifikan bukan hanya jenis senjata yang dikirim, melainkan kerangka waktunya.
Pengiriman yang dirancang hingga 2027 menunjukkan adanya perencanaan strategis jangka panjang, bukan respons sementara terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Ini menandakan bahwa Rusia melihat Iran sebagai mitra kunci dalam menghadapi tekanan Barat.
Jenis rudal yang tercantum—mulai dari Kh-38 hingga K-77—merepresentasikan peningkatan kemampuan multi-domain Iran, baik dalam pertempuran udara maupun serangan darat dan laut.
Sukhoi Su-35 (kode NATO: Flanker-E) dirancang sebagai platform superioritas udara yang juga mumpuni dalam menjalankan misi serangan darat menggunakan sistem radar multimode yang mampu melacak hingga 30 target secara bersamaan.
Salah satu senjata andalan Su-35 untuk serangan permukaan adalah Kh-38, sebuah keluarga rudal udara-ke-permukaan yang dilengkapi berbagai sistem pemandu, mulai dari laser, inframerah, hingga satelit, tergantung pada kebutuhan misi di lapangan.
Dokumen kerja sama akuisisi alutsista Rusia oleh Iran.
Dengan sistem ini, Iran tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga meningkatkan kemampuan ofensifnya secara signifikan.
Lebih jauh, dokumen tersebut mengungkap rantai produksi industri militer Rusia yang terlibat secara sistematis.
Dari bahan peledak hingga komponen elektronik, seluruh ekosistem industri pertahanan dikerahkan. Ini menunjukkan bahwa kerja sama tersebut merupakan kebijakan negara, bukan transaksi sporadis antar entitas.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Kapal kontainer berbendera Iran, Touska, yang disita oleh pasukan Amerika Serikat (AS), kemungkinan membawa barang-barang yang dianggap sebagai barang-barang dwiguna.
Peralatan fungsi ganda itu kemungkinan yang dapat digunakan oleh militer.
Hal ini sebagaimana disampaikan sumber keamanan maritim AS pada Senin (20/4/2026).
Kapal kontainer kecil tersebut, merupakan bagian dari grup Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL) yang telah dikenai sanksi AS.
Kapal tersebut dinaiki pada Minggu (19/4/2026) di lepas pantai pelabuhan Chabahar Iran di Teluk Oman dan terakhir melaporkan posisinya pada pukul 13.08 GMT, menurut data pelacakan kapal di platform Marine Traffic.
Komando Pusat AS mengatakan, awak Touska gagal mematuhi peringatan berulang selama enam jam, dan bahwa kapal tersebut melanggar blokade AS.
Sumber keamanan, yang menolak untuk disebutkan namanya, mengatakan penilaian awal mereka adalah kapal tersebut kemungkinan membawa barang-barang dwiguna setelah perjalanan dari Asia.
"Kapal tersebut sebelumnya telah mengangkut barang-barang yang dianggap memiliki fungsi ganda," kata salah satu sumber, Senin, dilansir Arab News.
Sumber tersebut, tidak memberikan rincian tentang barang-barang tersebut.
Komando Pusat AS telah mencantumkan logam, pipa, dan komponen elektronik di antara barang-barang lain yang dapat memiliki kegunaan militer maupun industri dan dapat disita.
Tuntutan Iran
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, pasukan AS menyerang kapal dagang Iran, Touska, di dekat pantainya.
"Mengutuk insiden tersebut sebagai melanggar hukum dan pelanggaran hukum internasional," lapor media Iran, Selasa (21/4/2026).
BACA SELENGKAPNYA >>>
Mengutip FirstPost, Touska adalah kapal kontainer berbendera Iran.
Panjangnya sekitar 294 meter dan lebarnya 32 meter, sehingga meskipun kerap disebut “kecil”, kapal ini tetap tergolong besar menurut data MarineTraffic.
Touska dimiliki oleh Mosakhar Darya Shipping Co yang berbasis di Teheran.
Kapal ini telah dikenai sanksi oleh AS sejak 2018.
Sejak 2012, seluruh manajer teknis dan komersial dari perusahaan pemiliknya juga telah dikenai sanksi, lapor CNN.
Pada 2019, AS memberlakukan sanksi terhadap IRISL dan menyebutnya sebagai “jalur pelayaran pilihan bagi pelaku proliferasi dan agen pengadaan Iran,” termasuk untuk mengangkut material bagi program rudal balistik Iran, seperti dilaporkan Reuters.
Charlie Brown, mantan perwira Angkatan Laut AS dan penasihat senior United Against Nuclear Iran, mengatakan kepada WSJ bahwa Touska kerap melakukan perjalanan antara China dan Iran.
Kapal itu diketahui mengunjungi pelabuhan Zhuhai di China selatan dua kali pada Maret, tambah Brown.
Reuters juga melaporkan, mengutip analisis satelit dari SynMax, bahwa kapal tersebut terlihat bersandar di pelabuhan Taicang, China, di utara Shanghai, pada 25 Maret, lalu berada di pelabuhan Gaolan di selatan China pada 29–30 Maret.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Beberapa negara di bawah ini menerapkan tarif pajak penghasilan pribadi yang sangat tinggi bagi warganya.
Kebijakan ini umumnya bertujuan untuk mendanai layanan publik yang luas, seperti pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial.
Diketahui mengutip imidaily.com, Pajak kekayaan adalah salah satu instrumen yang paling banyak diperdebatkan dalam perpajakan global, dan salah satu yang paling jarang diterapkan.
Dari 38 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), hanya empat yang mengenakan pajak kekayaan bersih komprehensif pada individu: Norwegia, Spanyol, Swiss, dan Kolombia.
Beberapa negara lain, termasuk Prancis, Italia, Belgia, dan Belanda, mengenakan pajak pada kategori aset tertentu, bukan pada total kekayaan bersih.
Berbeda dengan pajak penghasilan yang dikenakan pada apa yang warga peroleh, pajak kekayaan dikenakan pada apa yang dimiliki.
Perbedaan ini sangat penting bagi individu dengan kekayaan bersih tinggi (HNWI) yang kekayaannya terkonsentrasi pada aset dan bukan pada pendapatan saat ini.
Dalam daftar 10 negara dengan tarif pajak tertinggi di dunia di bawah ini, Belanda menempati posisi ke-10.
Yakni dengan tarif pajak penghasilan pribadi mencapai 49,5 persen.
Angka tersebut mencerminkan komitmen negara dalam menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan kualitas hidup masyarakat.
Sementara itu, Swedia berada di posisi ke-5 dengan tarif pajak penghasilan pribadi sebesar 52 persen, salah satu yang tertinggi secara global.
Diketahui tingginya tarif pajak di negara-negara ini sering kali diimbangi dengan tingkat kesejahteraan dan pelayanan publik yang juga tinggi.
Lantas negara mana yang menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan tarif pajak tertinggi di dunia?
BACA SELENGKAPNYA >>>
Sebuah foto yang memperlihatkan seorang tentara Israel sedang memasak di dapur sebuah rumah di Lebanon menjadi viral di media sosial.
Foto tentara perempuan yang tersenyum dengan bahan makanan tersebar di atas meja itu dibagikan pada Minggu (19/4/2026) oleh Bint Jbeil News, sebuah media Lebanon.
Gambar tersebut dilaporkan diambil di Bint Jbeil, kota di Provinsi Nabatiyeh, Lebanon selatan.
“Pelanggaran dalam ‘keanggunan’ sepenuhnya,” tulis media tersebut sebagai keterangan gambar di Instagram.
“Ketika pembunuh dan penjajah memasak di dapur negeri orang lain.”
Diana Moukalled, jurnalis dan pembuat film asal Lebanon, mengatakan foto tersebut merupakan penghinaan terhadap ingatan dan martabat rakyat Lebanon.
“Di sini kita berbicara tentang sebuah rumah yang masih memiliki pepohonan hijau, masih menyimpan kehidupan keluarga, tetapi pemiliknya dipaksa meninggalkan tempat itu,” tulis Moukalled di X.
“Mereka dilarang kembali, sementara seorang tentara dari pasukan pendudukan memasuki tempat itu, memetik hasil bumi, memasak, dan tertawa seolah-olah rumah itu tidak memiliki pemilik.”
“Seolah-olah puluhan desa yang dilarang bagi penduduk selatan belum dikosongkan, dan seolah-olah semua kehancuran ini belum cukup.”
Moukalled mengatakan pemandangan tersebut merangkum kejahatan Israel, mulai dari mencabut orang-orang dari tanah mereka hingga mengubah rumah menjadi ruang bebas bagi para penjajah.
“Ini adalah bentuk pendudukan dan penghinaan yang disengaja terhadap ingatan, martabat, serta hak inheren masyarakat untuk kembali ke tanah yang mereka bangun sendiri.”
Seorang pengguna Palestina di X membandingkan gambar tersebut dengan Nakba, atau “bencana”, ketika lebih dari 700.000 warga Palestina terusir dari rumah mereka untuk memberi jalan bagi pembentukan Israel.
“Ingat bagaimana nenek kita dulu bercerita bahwa mereka meninggalkan makanan yang sedang dimasak di atas kompor ketika melarikan diri selama Nakba?” tulis Abier Khatib.
“Sekarang kisah yang sama terjadi di Lebanon, dan itu sangat menyayat hati.”
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)