Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Mulia Balikpapan
Kenaikan harga Dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter—melonjak hingga 66 persen—bukan sekadar isu energi.
Ini adalah peringatan keras bahwa fondasi ekonomi kita, khususnya pada sektor distribusi dan konsumsi, sedang diuji.
Seperti yang dapat diprediksi, kenaikan BBM non-subsidi ini akan langsung berdampak pada biaya logistik.
Angkutan barang yang selama ini bergantung pada BBM jenis tersebut akan mengalami kenaikan biaya operasional, dan pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menanggung dampaknya melalui kenaikan harga barang.
Bagi wilayah luar Jawa seperti Kalimantan, dampaknya jauh lebih terasa.
Ketergantungan terhadap pasokan barang dari Pulau Jawa menjadikan biaya distribusi sebagai faktor dominan dalam pembentukan harga.
Baca juga: Akibat Kenaikan BBM Beban Distribusi Naik, Agen LPG di Kukar Siap Ajukan Penyesuaian Harga
Ketika BBM naik, maka bukan hanya harga barang yang naik—tetapi juga tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Namun, kondisi ini bukan hanya tentang beban. Ini juga tentang kesadaran dan arah baru.
Dalam skala global, kita bisa belajar dari Iran—sebuah negara yang selama puluhan tahun hidup dalam tekanan embargo ekonomi internasional.
Sanksi yang membatasi akses perdagangan, teknologi, dan keuangan justru memaksa Iran membangun kemandirian di berbagai sektor.
Mereka mengembangkan industri dalam negeri, memperkuat produksi domestik, bahkan mampu memproduksi 60–70 persen kebutuhan industri energi mereka sendiri .
Hari ini, di tengah konflik geopolitik dan tekanan global, Iran justru menunjukkan daya tahan yang mengejutkan.
Bahkan dalam kondisi perang dan blokade ekspor, mereka masih mampu menjaga suplai domestik dan bertahan menghadapi tekanan ekonomi besar.
Dunia menyaksikan bagaimana keterbatasan justru melahirkan ketahanan.
Pelajaran pentingnya sederhana: ketergantungan adalah kerentanan, kemandirian adalah kekuatan.
Kalimantan, dengan segala potensinya, sebenarnya memiliki peluang besar untuk bergerak ke arah yang sama—meskipun dalam konteks yang berbeda dan tentu tanpa tekanan ekstrem seperti Iran.
Namun, kenaikan BBM ini seharusnya menjadi momentum untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah.
Langkah pertama dimulai dari tingkat rumah tangga.
Masyarakat perlu mulai melakukan restrukturisasi keuangan. Pola konsumsi yang selama ini dianggap “normal” perlu ditinjau ulang.
Konsumen harus lebih selektif, lebih sadar, dan lebih rasional dalam menentukan prioritas belanja.
Pemanfaatan barang substitusi menjadi salah satu strategi penting. Ketergantungan terhadap beras, misalnya, dapat mulai dialihkan sebagian ke sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, atau talas yang lebih mudah diakses di Kalimantan.
Selain lebih ekonomis, langkah ini juga memperkuat ketahanan pangan lokal.
Di sisi lain, perilaku konsumsi digital juga perlu dikendalikan. Kemudahan belanja online sering kali mendorong pembelian impulsif.
Dalam kondisi tekanan ekonomi, masyarakat perlu lebih bijak—memilih produk lokal, mengurangi konsumsi barang impor, dan memastikan setiap pengeluaran benar-benar bernilai.
Kalimantan memiliki potensi besar dari sektor lokal—baik pertanian, perikanan, maupun UMKM.
Namun potensi ini tidak akan berkembang jika masyarakatnya sendiri tidak menjadi pasar utama.
Selain itu, langkah sederhana seperti memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan juga menjadi strategi nyata yang tidak boleh diabaikan.
Dalam jangka panjang, ini bukan hanya soal penghematan, tetapi tentang membangun kemandirian.
Kenaikan BBM ini pada akhirnya mengajarkan kita bahwa ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kondisi global, tetapi juga oleh perilaku masyarakat itu sendiri.
Jika Iran bisa bertahan karena terpaksa mandiri, maka kita seharusnya bisa belajar untuk mandiri tanpa harus dipaksa.
Kalimantan tidak kekurangan sumber daya.
Yang dibutuhkan adalah perubahan pola pikir.
Dari konsumtif menjadi produktif.
Dari bergantung menjadi mandiri.
Karena di tengah gejolak ekonomi global, yang akan bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling mampu beradaptasi. (*)