Langkah Antisipatif Kekeringan 2026 di Kabupaten Lamongan, Sektor Pertanian Jadi Fokus
Titis Jati Permata April 22, 2026 12:32 PM

 

SURYA.co.id LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan tahun 2026 dengan menyiapkan langkah strategis dan terintegrasi.

Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen Lamongan dalam menjaga perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Rakornas di Kementerian Pertanian

Komitmen tersebut ditunjukkan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi,  dan telah dipaparkan pada saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Antisipasi dan Mitigasi Kemarau 2026 yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta Selatan.

Baca juga: Rumah Warga Lamongan Terbakar, Polisi Selamatkan Emas dan Gabah dari Puing

"Langkah-langkah strategi itu saya paparkan saat Rakornas bersama Kementeri Pertanian  yang langsung dipimpin pak Menteri pada Senin (20/4/2026), " kata Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi kepada SURYA.co.id, Rabu (22/4/2026).

Siapkan Langkah Jaga Produksi Pertanian

Pemkab Lamongan telah menyiapkan langkah konkret guna menjaga keberlangsungan produksi pertanian, memastikan ketersediaan pangan, serta melindungi kesejahteraan masyarakat.

Disampaikan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Baca juga: Babinsa Koramil Turi Lamongan Bareng Warga dan Sungai Watch Bersihkan Sungai Balun

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan yang berdampak pada sektor pertanian serta ketersediaan air.

Fenomena El Nino

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya fenomena El Nino pada semester II 2026 mencapai 70 hingga 90 persen.

Dampaknya, sebanyak 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal

Sementara 57,2 persen wilayah lainnya akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari kondisi biasanya.

Defisit Air Hingga Ancaman Gagal Panen

Situasi ini berpotensi menyebabkan defisit air hingga penurunan luas tambah tanam (LTT) dan ancaman gagal panen, khususnya pada lahan tadah hujan.

Menanggapi hal tersebut, Yuhronur menegaskan Pemkab Lamongan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif.

“Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen mengantisipasi dampak musim kemarau melalui optimalisasi jaringan irigasi, penyediaan sarana pengairan seperti pompa air dan waduk, normalisasi sungai, serta penguatan koordinasi lintas sektor,” ujarnya.

Program Distribusi Pompa Air

Langkah tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang menyiapkan program distribusi pompa air untuk mendukung pengairan hingga 1 juta hektare lahan pertanian.

Di tingkat nasional, produksi beras pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibanding tahun sebelumnya.

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan produksi meningkat menjadi minimal 35,69 juta ton guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekspor.

Kunci Jaga Stabilitas Produksi Pangan

Ia menambahkan, kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas produksi pangan serta memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.

“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, Lamongan optimistis mampu menghadapi tantangan kekeringan sekaligus terus berkontribusi sebagai lumbung pangan nasional,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.