Kuliah di luar negeri menjadi impian bagi banyak mahasiswa. Pada 2026, ada negara yang menjadi tujuan favorit mahasiswa internasional. Negara mana yang dimaksud?
Negara itu bukan di Eropa, melainkan di Asia, lebih tepatnya di China. Dilansir dari laporan Times Higher Education, tercatat sebanyak 380.000 mahasiswa asing dari 191 negara dan wilayah kini tengah menempuh studi di China.
Minat mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan tinggi di China mencatatkan tren positif pada tahun akademik 2024-2025. Fenomena ini didorong oleh keberhasilan diplomasi melalui jalur Belt and Road Initiative yang berhasil menarik ratusan ribu pelajar, terutama dari kawasan Asia dan Afrika, untuk mengikuti program gelar di berbagai universitas terkemuka di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Bidang STEM Paling Diburu
Dari jumlah tersebut, bidang STEM () menjadi magnet utama dengan konsentrasi terbesar pada jurusan teknik, teknologi terapan, hingga ilmu komputer yang mencakup 28 persen dari total mahasiswa tingkat gelar.
Para analis memprediksi bahwa China masih memerlukan waktu beberapa tahun lagi untuk menyamai rekor puncaknya sebelum pandemi pada 2018. Meski demikian, dominasi pelajar asal Asia yang mencapai 61 persen dan Afrika sebesar 16 persen mempertegas posisi China sebagai hub pendidikan baru yang menawarkan keunggulan pada aspek biaya yang terjangkau serta fasilitas riset yang mumpuni.
Dominasi Mahasiswa Asia-Afrika dan Strategi Geopolitik
Data terbaru merefleksikan pengaruh geopolitik China yang semakin kuat di belahan dunia selatan. Pelajar asal Asia mendominasi dengan porsi 61 persen, disusul oleh mahasiswa asal Afrika sebesar 16 persen. Pertumbuhan ini dianggap sebagai hasil nyata dari pergeseran diplomasi pendidikan China.
Deputy Director Higher Education Research Division di Tsinghua University, Wen Wen, menyebutkan fenomena ini bukanlah kebetulan.
"Ada pergeseran strategis dalam asal-usul mahasiswa, dengan pertumbuhan signifikan dari Afrika dan negara-negara Belt and Road, yang selaras dengan penjangkauan diplomatik dan ekonomi China yang lebih luas," ungkap Wen Wen, dikutip dari laman Times Higher Education.
Di sisi lain, ketegangan dengan negara Barat mengakibatkan penurunan drastis jumlah mahasiswa dari Amerika Serikat, dari angka 11.000 menjadi kurang dari 1.000 orang. Hal ini mempertegas adanya polarisasi dalam pilihan destinasi studi global saat ini.
Keunggulan Kuliah di China: Biaya Terjangkau dan Riset Berkualitas
Mengapa China menjadi primadona baru untuk gelar STEM? Salah satu alasan utamanya adalah transformasi citra pendidikan China yang kini lebih mengedepankan kapabilitas industri daripada sekadar pertukaran budaya.
Manajer Cabang China di konsultan Bonard, Graze Zhu, memberikan pandangannya terkait daya tarik jurusan teknik di sana.
"Ada pergeseran dari fokus masa lalu pada bahasa dan budaya ke kenyataan baru di mana kemampuan industri yang kuat telah secara langsung bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif inti dalam daya tarik pendidikan," jelas Graze Zhu.
Senada dengan hal tersebut, Richard Coward selaku CEO Global Admissions menambahkan bahwa faktor biaya dan kualitas sumber daya menjadi kombinasi yang sulit ditolak
"Kursus STEM di China menarik karena biaya kuliah yang terjangkau, permintaan dari seluruh dunia, serta kualitas dan sumber daya yang tinggi di China," tambah Coward.
Ambisi Menjadi Hub Pendidikan Global dan Pengakuan UNESCO
Meski angka 380.000 ini sudah cukup besar, para analis memprediksi butuh waktu sekitar empat tahun lagi bagi China untuk benar-benar kembali ke level puncaknya sebelum pandemi (492.000 mahasiswa). Untuk mencapai itu, China terus berbenah dengan meningkatkan standar kualitas input mahasiswa.
Wen Wen kembali menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif agar mahasiswa asing merasa betah.
"Secara keseluruhan, China harus menanamkan lingkungan yang lebih internasional yang menumbuhkan lingkungan yang lebih terbuka, layak huni, dan bersemangat secara budaya bagi semua orang," tegasnya.
Pemerintah China pun mulai melirik penyederhanaan visa dan aturan kerja paruh waktu bagi mahasiswa internasional demi meningkatkan student experience di sana.
Daftar Kampus Populer dan Munculnya Hub Pendidikan Baru
Seiring dengan meningkatnya minat terhadap China, beberapa universitas seperti Tsinghua University, Peking University, dan Fudan University tetap menjadi tujuan elit. Namun, kampus dengan spesialisasi teknik seperti Zhejiang University dan Shanghai Jiao Tong University kini semakin populer bagi pemburu gelar STEM.
Tidak hanya di China, peta mobilitas pelajar dunia per 2026 juga mulai bergeser. Beberapa destinasi yang diprediksi akan terus naik daun hingga 2030 di antaranya:
- Asia: Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan.
- Timur Tengah: Uni Emirat Arab (Dubai) dan Arab Saudi.
- Eropa: Jerman.





