TRIBUNBENGKULU.COM - Nadiem Makarim tak kuasa menahan tangisnya saat hadir di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta.
Di hadapan majelis hakim, ia terlihat mengenakan rompi tahanan sambil menyampaikan pernyataan yang penuh tekanan batin.
Momen tersebut menjadi sorotan publik karena memperlihatkan sisi lain dari sosok yang selama ini dikenal tegar.
Nadiem mengungkapkan bahwa perjalanan panjang menghadapi proses hukum telah menguras energi dan pikirannya.
Ia menyebut hampir satu tahun terakhir hidupnya diwarnai pemeriksaan intensif hingga persidangan yang belum juga mencapai titik akhir.
Rasa lelah itu tampak jelas dari ekspresi dan nada bicaranya yang bergetar di ruang sidang.
Di tengah situasi tersebut, Nadiem tetap berusaha menjelaskan duduk perkara yang menjeratnya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan yang diambilnya saat menjabat tidak bertujuan merugikan negara.
Menurutnya, program pengadaan perangkat teknologi justru dirancang untuk efisiensi anggaran.
"Program ini bukan program yang menghasilkan kerugian, tapi malah penghematan anggaran karena yang dipilih lebih murah dari harga pasar, yang software-nya gratis," kata Nadiem kepada wartawan di lokasi, Selasa.
Ironi Anak Muda Berantas Korupsi
Dengan suara yang mulai parau, Nadiem menyebut kasus yang menjeratnya merupakan sebuah ironi.
Ia merasa terpukul karena niat awalnya mengajak kaum muda masuk ke birokrasi untuk membersihkan praktik korupsi justru berujung pada tuduhan serupa.
Nadiem sempat menghentikan pembicaraannya sejenak guna menahan tangis yang hampir pecah. Namun, kesedihan mendalam tampak jelas dari raut wajahnya.
"Nah, ini mungkin paradoks, ironi dalam kasus ini. Bahwa anak-anak muda yang mau masuk, mau membersihkan unsur-unsur korupsi, malah yang akhirnya dituduh korupsi," ucap Nadiem sambil terisak.
Lebih lanjut, Nadiem mengaku sangat lelah menghadapi ujian hukum yang menyeret namanya. Ia pun secara terbuka mengungkapkan keinginannya agar perkara ini segera tuntas.
"Saya tuh kepingin, saya hanya mau ini berakhir. Saya sudah capek," ucap Nadiem sembari menundukkan kepala untuk menutupi tangisannya.
Ungkapan "capek" tersebut muncul setelah Nadiem menjalani akumulasi proses hukum selama hampir satu tahun.
Nadiem telah melewati 10 bulan proses hukum sejak pemeriksaan perdana di Kejagung, termasuk beban mental menjalani tujuh bulan masa penahanan.
Kini, ia masih harus menghadapi empat bulan persidangan maraton yang hingga saat ini belum menemui titik terang vonis.
"Bu Menteri" Tak Kunjung Tertangkap
Perkara Chromebook ini nyatanya juga menyeret orang kepercayaan Nadiem Makarim, Jurist Tan. Mantan Stafsus yang kerap dijuluki "Bu Menteri" dan “The Real Menteri” ini merupakan figur sentral dalam kasus tersebut.
Sayangnya, hingga saat ini keberadaan Jurist Tan belum diketahui.
Ia dilaporkan telah meninggalkan Indonesia sesaat sebelum proses hukum mencapai tahap penyidikan dan kini menjadi buronan utama pihak Kejaksaan Agung (Kejagung).
Dakwaan Kerugian Negara Rp 2,1 Triliun
Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Nadiem Makarim bersama tiga terdakwa lainnya telah menyebabkan kerugian keuangan negara senilai Rp 2,1 triliun.
Selain Nadiem, terdakwa lainnya yakni Mulyatsyah disebut menerima aliran dana sebesar 120.000 dollar Singapura dan 150.000 dollar Amerika Serikat.
Perbuatan ini diduga dilakukan bersama tiga terdakwa lainnya yakni Ibrahim Arief (Eks Konsultan Teknologi), Mulyatsyah (Eks Direktur SMP), dan Sri Wahyuningsih (Eks Direktur SD).