Alumni MUDI Samalanga, Tgk Azmi Yudha Zulfikar Raih Gelar Doktor di UIN Ar-Raniry
Muliadi Gani April 22, 2026 12:54 PM

 

PROHABA.CO, BIREUEN – Tgk Azmi Yudha Zulfikar, dosen Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga sekaligus alumni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry,  Selasa (21/4/2026).

Disertasi yang ia pertahankan berjudul Analisis Salafiyah Kompetensi Lulusan Dayah Era Globalisasi.

Perjalanan dari Tikar Dayah

Perjalanan akademik Tgk Azmi tidak dimulai dari ruang kuliah modern, melainkan dari kesederhanaan dayah.

Ia ditempa melalui pengajian kitab kuning, disiplin hidup, serta bimbingan guru yang diwariskan turun-temurun.

Dari tikar dayah itulah ia menapaki jalan panjang hingga mencapai panggung akademik tertinggi hingga akhirnya meraih gelar doktor. 

Pria kelahiran Kuala Simpang, 15 Desember 1982, merupakan putra pasangan almarhum Mayor Infanteri Azril Oemar dan Hamidah A. Gani.

Sejak kecil, ia berpindah-pindah sekolah memulai dari taman kanak-kanak di Bogor, kemudian pendidikan dasar di berbagai daerah Tualang Cut, Pematang Siantar, hingga menamatkan SD di Beuracan, Meureudu (1995).

Pendidikan menengah ditempuh di SMPN 2 Meureudu (1998) dan SMAN 1 Meureudu (2001).

Fondasi keilmuannya terbentuk kuat saat menempuh pendidikan di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga selama lebih dari satu dekade (2001–2012).

Di sana ia belajar kitab kuning, pembinaan adab, dan disiplin serta disiplin hidup yang ketat. 

Istiqamah menjadi nilai utama yang ia pegang, bahwa ilmu harus ditempuh dengan kesabaran dan kesungguhan. 

Baca juga: Tiga Tahun Teliti Suluk, Dosen UNISAI Samalanga Raih Gelar Doktor Komunikasi Islam dari UINSU Medan

Jejak Akademik dan Pengabdian

Selepas dayah, perjalanan akademik Tgk Azmi melanjutkan pendidikan formal dengan meraih gelar sarjana di STAI Al-Aziziyah Samalanga (2010), Akta IV di Universitas Muhammadiyah Aceh (2011), magister di UIN Ar-Raniry (2016), hingga doktor di kampus yang sama (2026).

Dalam perjalanan hidupnya, ia juga menemukan pasangan hidup, Raudhatul Muna, yang mendukung langkah panjang pengabdiannya.

Pengabdian Tgk Azmi terbentang di empat ruang sekaligus: dayah, sekolah, rumah sakit, dan kampus.

Ia menjadi pengasuh Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah Ulim, aktif mengajar di sekolah dan majelis taklim lintas gampong, mengisi pengajian di RSUD Pidie Jaya sejak 2019, serta dosen tetap UNISAI Samalanga sejak 2016.

Apresiasi dari Berbagai Kalangan

Rektor UNISAI Samalanga, Dr. Tgk Muhammad Abrar Azizi, M.Sos, menegaskan bahwa istiqamah Tgk Azmi adalah teladan penting dalam tradisi keilmuan dayah.

“Istiqamah dalam beut dan seumeubeut yang dijalani Tgk Azmi adalah contoh nyata bahwa tradisi dayah mampu menembus lintas elemen—dayah, kampus, hingga ruang sosial masyarakat,” ujarnya.

Ulama Pidie Jaya, Tgk H. Muniruddin M. Diah (Waled Kiran), Ketua Ittihādul Muballighīn Nanggroe Aceh Darussalam (IMNAD), pimpinan Dayah Babul Ilmi Syafi’iyah Kiran, serta Dayah Baitul ’Amal Aceh juga memberikan penegasan serupa. 

Menurutnya, ilmu yang ditempuh dengan istiqamah melahirkan kekuatan bukan hanya pada akal, tetapi juga pada akhlak.

“Inilah yang kita lihat pada sosok Tgk Azmi,” ungkapnya.

Sementara itu, Waled Sanusi, Ketua Alumni MUDI wilayah Pidie Jaya, menyebut capaian tersebut sebagai kebanggaan bersama.

“Ini bukti bahwa alumni MUDI mampu mencapai puncak akademik tanpa kehilangan jati diri keilmuannya.

Ini menjadi inspirasi besar bagi generasi santri ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Mahasiswi Pascasarjana IAIN Langsa Raih Nilai A Sidang Tesis Meski Hidup di Tenda Pengungsian

Sidang Doktoral dan Makna Perjalanan

Dalam sidang terbuka doktoralnya, promotor menegaskan bahwa Tgk Azmi menunjukkan kesungguhan, kedisiplinan, dan ketekunan tinggi selama proses studi.

Ia dinilai mampu mengintegrasikan pengalaman panjang sebagai guru dayah, pengajar majelis taklim, dan dosen ke dalam kajian ilmiah yang matang.

Perjalanan Tgk Azmi bukan sekadar kisah meraih gelar doktor.

Ia adalah potret nyata bahwa istiqamah dalam tradisi dayah mampu melahirkan intelektual yang kokoh, adaptif, dan berakar.

Dari tikar dayah menuju panggung akademik tertinggi, ia membuktikan bahwa ketekunan, kesabaran, dan pengabdian adalah kunci utama dalam menapaki jalan ilmu.

Kisah ini menegaskan bahwa santri, dayah, dan doktor bukanlah tiga dunia terpisah, melainkan satu kesatuan perjalanan menuju kebermaknaan ilmu dan kehidupan.

(Serambinews.com/Yusmandin Idris)

Baca juga: Zee Zee Shahab Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude di ISI Bali

Baca juga: Mahasiswa USK Raih Tiga Penghargaan di Ajang Internasional ISS 2026 di Malaysia

Baca juga: Kesempatan bagi Warga Aceh! PTSL 2026 Dibuka, Segera Daftarkan Tanahnya Sebelum Timbul Sengketa

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.