TRIBUN-MEDAN.COM,- Pada bulan April 2026, masyarakat dunia dapat menyaksikan peristiwa astronomi, seperti hujan meteor.
Satu diantara hujan meteor yang dapat disaksikan masyarakat dunia adalah hujan meteor Lyrid.
Baca juga: Apa Itu Siklon Narelle dan Dampaknya Terhadap Indonesia yang Picu Fenomena Langit Merah di Australia
Lyrid dinamai dari rasi bintang Lyra, titik radian (asal tampak) meteor dekat bintang Vega; kecepatannya mencapai 47 km/detik dengan meteor terang dan kadang bola api.
Fenomena ini periodik setiap April (16-26), tercatat sejak 687 SM, menjadikannya hujan meteor tertua yang diamati manusia.
Menurut sejumlah astronom, seperti dilansir dari https://www.rmg.co.uk/, hujan meteor lyrid diperkirakan berlangsung sejak 14 April hingga 30 April, dengan puncak aktivitasnya terjadi pada malam 21 April hingga dini hari 22 April 2026.
Baca juga: Daftar Fenomena Langit atau Fenomena Astronomi April 2026
Lalu, apakah masyarakat di Indonesia bisa menyaksikan fenomena astronomi hujan meteor Lyrid ini?
Menurut Pakar Astronomi dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, masyarakat Indonesia dapat menyaksikannya.
Lalu kapan waktunya?
Djamaluddin mengatakan,
Baca juga: Viral Fenomena Langit Merah di Australia Barat, Siklon Tropis Narelle Jadi Penyebab
waktu pengamatan hujan meteor Lyrids adalah pada Kamis, 23 April 2026.
"Hujan meteor Lyrids bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis, 23 April 2026 sampai sebelum matahari terbit," kata Thomas, Senin (20/4/2026) dilansir dari Kompas.com.
Dini hari merupakan periode setelah tengah malam hingga sebelum matahari terbit. Waktu matahari terbit di setiap wilayah berbeda-beda.
Baca juga: Hujan Meteor dan Beberapa Fenomena Langit di Tahun 2026
Misalnya, di wilayah Jakarta, menurut situs resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), waktu terbit matahari pada Senin, 20 April 2026 adalah 05.53 WIB.
Live Science menyebut, bahwa hujan meteor Lyrids merupakan hasil dari debu dan puing-puing yang tertinggal di tata surya bagian dalam oleh Komet C/1861 G1 (Thatcher) yang mengorbit matahari setiap 415,5 tahun.
Baca juga: Fenomena Langit Supermoon 4 Desember 2025, Simak Penjelasannya Berikut Ini
Ketika Bumi melewati medan puing komet setiap tahun, hal itu menyebabkan meteor terbakar di atmosfer planet dan memberikan kesan "bintang jatuh" yang bergerak melintasi langit malam.
NASA mengatakan bahwa Komet Thatcher terakhir berada di tata surya bagian dalam pada tahun 186.
Komet tersebut diperkirakan tidak akan kembali hingga sekitar tahun 2276.
Pengamat tidak memerlukan alat canggih untuk menyaksikan hujan meteor ini. Lokasi yang gelap dan terbuka justru menjadi kunci utama pengamatan.
Baca juga: Daftar Fenomena Langit yang Terjadi pada Bulan Desember 2025, Ada Hujan Meteor yang Indah
Ketua Perhimpunan, Issa Al-Ghafili, mengatakan fenomena ini tidak memerlukan teleskop atau peralatan canggih untuk mengamatinya, karena dapat dilihat langsung dengan mata telanjang dari lokasi terbuka yang jauh dari polusi cahaya, mulai tengah malam hingga menjelang fajar.
Pengamatan dengan mata telanjang justru lebih disarankan karena memberikan bidang pandang yang lebih luas.
Sebaliknya, penggunaan teleskop akan mempersempit area pengamatan sehingga peluang melihat meteor justru menjadi lebih kecil.(tribun-medan.com)