POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Suasana kafe Pondok Kopi di Desa Padang, Kecamatan Manggar, tampak lengang pada Rabu (22/4/2026). Deretan kursi kayu yang biasanya dipenuhi pengunjung terlihat kosong, sementara beberapa pegawai hanya duduk santai menunggu pelanggan datang.
Di balik suasana tenang tersebut, tersimpan keresahan di area dapur. Manajer kafe, Arif, mempertemukan dengan Riani Suci (57), Kepala Dapur Pondok Kopi, yang merasakan langsung dampak kenaikan harga gas elpiji.
Dengan raut wajah yang masih menyimpan keterkejutan, Riani menunjukkan deretan tabung gas 12 kilogram yang baru saja dibeli.
"Ini kami baru beli tadi sekali. Harganya kaget, sudah di angka Rp250 ribu," ujar Riani.
Ia menjelaskan, sebelumnya harga gas ukuran tersebut berada di kisaran Rp210 ribu hingga Rp220 ribu per tabung. Kenaikan sekitar Rp30 ribu ini menjadi yang pertama kali dirasakannya selama bekerja di kafe tersebut.
"Dari 220 ke 250, naiknya sekitar 30 ribuan. Ini pertama kali terjadi kenaikan yang langsung setinggi itu," ucapnya.
Dalam kondisi sepi seperti saat ini, Pondok Kopi menghabiskan sekitar dua tabung gas per minggu, atau empat tabung dalam sebulan. Namun, jika pengunjung sedang ramai, konsumsinya bisa membengkak hingga empat tabung per minggu.
Riani mengaku berada dalam posisi yang sulit. Sebagai kepala dapur, ia harus memastikan operasional tetap berjalan. Namun di sisi lain, menaikkan harga menu bukanlah pilihan yang bijak di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu.
"Kalau aku pribadi, otomatis agak keberatan. Mau menaikkan harga menu dalam situasi macam gini sulit kan? Susah, apalagi sekarang lagi pas sepi," ungkapnya.
Hingga saat ini, Riani bahkan belum menyampaikan kenaikan harga gas ini kepada pemilik kafe. Ia masih menimbang-nimbang bagaimana menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan ini di tengah kondisi bisnis yang sedang tidak menentu.
Keresahan Riani bukan tanpa alasan. Jika kondisi ramai, kenaikan harga gas mungkin masih bisa tertutup oleh omzet harian. Namun, saat meja-meja lebih banyak kosong, biaya tambahan Rp30 ribu per tabung menjadi beban yang nyata.
"Kalau ramai sih mungkin nggak akan terasa. Tapi kalau sepi macam gini, beli harga segitu terasa sekali," ujarnya.
Harapan Riani kepada pemerintah cukup sederhana. Ia tak melarang adanya kenaikan, namun ia meminta agar angkanya masih dalam batas kewajaran yang bisa ditoleransi oleh pelaku usaha.
"Harapan kami jangan sampai naiknya terlalu tinggi. Kalau naiknya cuma Rp5.000 mungkin nggak jadi masalah. Tapi kalau sampai setinggi ini, kita yang ngejalanin usaha orang pun terasa berat," tutupnya.
Cerita Riani adalah satu dari sekian banyak cerita tentang bagaimana kenaikan harga di tingkat nasional berdampak langsung pada dapur-dapur di pelosok. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)