TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Terungkap kondisi di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur usai demonstrasi besar-besara, kemarin, Selasa (21/4/2026).
Rupanya suasana di pusat pemerintahan tersebut masih mencekam dan dijaga ketat.
Selain kerusakan fasilitas fisik, akses komunikasi bagi awak media untuk mendapatkan keterangan langsung dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, masih tertutup rapat.
Pantauan Kompas.com pada Rabu (22/4/2026) siang, area kantor gubernur ditetapkan sebagai "area steril".
Petugas keamanan membatasi pergerakan wartawan dan melarang pengambilan gambar di dalam kompleks perkantoran dengan alasan instruksi pimpinan.
Upaya konfirmasi kepada Rudy Mas'ud pun nihil.
Meski sempat diketahui berada di lingkungan kantor untuk beribadah, gubernur langsung bergeser menuju rumah jabatan tanpa memberikan pernyataan apa pun kepada media yang telah menunggu sejak pagi.
Hingga saat ini, pemulihan di kawasan depan kantor gubernur belum sepenuhnya tuntas, di mana jejak-jejak ketegangan dari aksi sebelumnya masih terlihat sangat jelas di beberapa titik.
Pagar kawat berduri tampak masih mengelilingi area tersebut hingga ke rumah jabatan, sementara videotron di bagian depan kantor terlihat tertutup papan tripleks sebagai langkah perlindungan.
Kondisi lingkungan pun tak luput dari dampak kerusakan, dengan tanaman di area taman yang rusak serta tercabut, ditambah lagi dengan trotoar dan badan jalan yang dilumuri oli, diduga sisa dari dinamika aksi massa.
Selain itu, gulungan kawat berduri yang masih berserakan di trotoar kini menjadi penghambat bagi akses para pejalan kaki yang melintas di wilayah tersebut.
Baca juga: Bukan Hanya Mobil Mewah, Anggaran Rumah Dinas Gubernur Kaltim Rudy Masud Sampai Rp 25 Miliar
Dikonfirmasi terpisah, Koordinator Lapangan Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim, Erly Sopiansyah, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tidak menargetkan pertemuan dengan gubernur.
Fokus utama massa adalah mendesak fungsi pengawasan legislatif.
“Goal kami ada di DPR Provinsi Kalimantan Timur. Alhamdulillah, tuntutan kami sudah diterima pimpinan tujuh fraksi dan disepakati. Tinggal kami mengawal prosesnya,” ujar Erly, Rabu (22/4/2026).
Terkait kerusakan yang terjadi, Erly menyebut komitmen awal aliansi adalah aksi damai hingga pukul 17.00 WITA.
Ia menyatakan bahwa dinamika kericuhan yang terjadi setelah jam tersebut berada di luar kendali kelompoknya.
Erly juga mengungkapkan apresiasi atas dukungan masyarakat yang memberikan donasi logistik dan dana mencapai Rp 26 juta untuk mendukung aksi tersebut.
Kendati enggan ditemui secara langsung di kantornya, Gubernur Rudy Mas’ud memberikan tanggapan melalui unggahan di akun Instagram resminya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa dan masyarakat yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Masukan hari ini sangat berarti dan berkelas. Kami berharap masyarakat bisa menjadi mata dan telinga dalam melakukan perbaikan dan evaluasi kinerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur,” tulis Rudy dalam unggahannya.
Hingga kini, publik masih menanti respons konkret pemerintah provinsi terkait tuntutan evaluasi anggaran rumah jabatan senilai Rp 25 miliar dan pengadaan mobil mewah Range Rover seharga Rp 8,5 miliar yang menjadi pemicu utama kemarahan massa.
Sumber: Kompas.com