Mahasiswa Soroti Dampak Geopolitik serta Pentingnya Edukasi Kebijakan ke Masyarakat.
Feryanto Hadi April 22, 2026 10:35 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat peran mahasiswa di tengah dinamika geopolitik global serta derasnya arus informasi digital. 

Seruan ini mengemuka dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”.

Koordinator Pusat BEM Nusantara, Muhammad Sardani, menekankan pentingnya validitas informasi di era digital.

 “Kita tidak hanya jadi penyampai suara, tapi juga harus memastikan informasi yang kita bawa valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu (22/4/2026)

Ia juga mendorong mahasiswa hadir sebagai bagian dari solusi.

“Mahasiswa harus hadir sebagai kawan masyarakat, bukan sekadar pengkritik, tapi juga bagian dari solusi,” kata Sardani.

Baca juga: Putin Sambut Hangat Prabowo di Moskow, Bahas Kerja Sama Strategis di Tengah Geopolitik Memanas

Bendahara Umum Presidium Nasional PTNU, Tirta Gangga Listiawan, mengingatkan pentingnya literasi hukum dan konstitusi agar mahasiswa tidak terjebak disinformasi.

“Mahasiswa harus paham posisi UUD sebagai norma dasar,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, mengingatkan bahwa situasi geopolitik global yang tidak menentu berdampak langsung terhadap kondisi dalam negeri, termasuk sektor ekonomi.

“Geopolitik dunia hari ini sangat memengaruhi kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa harus bisa menjelaskan ini ke masyarakat, tapi tetap kritis terhadap kebijakan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang kerap memicu perpecahan di kalangan mahasiswa.

“Jangan sampai kita mudah terpecah hanya karena narasi yang tidak jelas. Kita harus verifikasi setiap informasi,” tegasnya.

Di sisi lain, Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, menekankan bahwa persatuan tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata.

“Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi bagaimana kita menjaga kesatuan berdasarkan konstitusi,” ujarnya.

Yogi juga menyoroti ketimpangan pembangunan antarwilayah yang perlu menjadi perhatian dalam kebijakan nasional. Ia menilai mahasiswa harus kritis, namun tetap memahami tujuan besar dari setiap kebijakan pemerintah.

“Kebijakan adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan. Maka kita harus kritis, tapi juga objektif melihat konteksnya,” katanya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.