Dampak Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi, Pengusaha Kuliner Gorontalo Berpotensi Gulung Tikar
Fadri Kidjab April 22, 2026 09:46 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Dampak kenaikan harga elpiji nonsubsidi mulai terasa menekan pelaku usaha kuliner di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Salah satunya dialami pemilik RM Sari Bunda Masakan Padang, Asminar Mokodongan, yang kini harus memutar otak di tengah lonjakan biaya operasional dan melemahnya daya beli pelanggan.

Berlokasi di simpang tiga Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Wumialo, Kota Gorontalo, usaha rumah makan yang ia jalankan kini berada di titik sulit. 

Kenaikan harga bahan pokok hingga gas elpiji membuat beban usaha semakin berat, sementara pemasukan tidak ikut meningkat.

Asminar mengaku kondisi saat ini berbeda jauh dibanding sebelumnya.  Ia menilai, kenaikan harga sebenarnya masih bisa diatasi jika daya beli masyarakat tetap stabil.

"Kalau daya beli bagus, oke bisa saling menutupi. Ini daya beli kurang," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (22/4/2026). 

Tekanan biaya yang terus meningkat membuat usahanya berpotensi gulung tikar.

"Saya sudah bilang sama karyawan, kalau memang nombok, saya mau tutup dulu bulan depan," ungkapnya.

Tak hanya bahan makanan, biaya lain seperti plastik hingga kebutuhan dapur ikut mengalami kenaikan. 

Namun yang paling dirasakan adalah lonjakan harga minyak goreng, telur hingga elpiji 5,5 kg yang menjadi kebutuhan utama dalam operasional memasak.

Asminar mengaku terkejut dengan kenaikan harga gas yang terjadi dalam waktu singkat.

"Harganya dari Rp97 ribu jadi Rp114 ribu (gas 5,5 kilogram)," katanya.

Dalam operasionalnya, penggunaan gas cukup besar, terutama saat memasak menu seperti rendang.

"Saya kalau buat rendang, satu hari bisa sampai dua tabung," jelasnya.

Meski begitu, ia mengaku tidak setiap hari memasak rendang dan menyesuaikan dengan jumlah pembeli. 

Secara rata-rata, ia menghabiskan sekitar 9 tabung gas 5,5 kg per minggu, yang sebagian masih dibantu dengan penggunaan elpiji 3 kg. Kenaikan harga yang mendadak juga membuatnya kebingungan saat melakukan pembayaran.

"Saya kaget saat diberikan tagihan sudah Rp114 ribu, saya tanya naik kapan dijawab sejak kemarin," tuturnya.

Di sisi lain, pelaku usaha kuliner lain belum semuanya menyadari adanya kenaikan tersebut. 

Baca juga: Distributor Gorontalo Pastikan Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi Tak Pengaruhi Pasokan

Karyawan RM Kang Bahar di Jalan HB Jassin
KENAIKAN ELPIJI -- Karyawan RM Kang Bahar di Jalan HB Jassin, Kota Gorontalo, saat memasak pesanan pelanggan, Rabu (22/4/2026).

Seperti yang diungkapkan Riski Poiyo, karyawan RM Kang Bahar di Jalan HB Jassin, Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo. 

Ia mengaku masih menggunakan stok lama dengan harga sebelumnya.

"Belum tahu, Pak. Ini hanya tabung yang kemarin," ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan gas di tempatnya relatif lebih sedikit, yakni sekitar dua tabung 5,5 kg per minggu.

"Dua tabung itu biasanya Rp194 ribu," katanya.

Namun ketika mengetahui adanya kenaikan, ia menilai angkanya cukup memberatkan.

"Terlalu besar itu (kenaikan) nya," ucapnya.

Seperti pelaku usaha lainnya, mereka juga masih mengandalkan elpiji 3 kg untuk menekan biaya.

Sebelumnya, berdasarkan data per 18 April 2026 dari situs resmi MyPertamina, harga Bright Gas 5,5 kg di Gorontalo telah naik menjadi Rp114.000 per tabung, sementara ukuran 12 kg mencapai Rp238.000. 

Harga ini kini setara dengan Sulawesi Utara, namun sedikit lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Tengah yang berada di kisaran Rp111.000 untuk 5,5 kg dan Rp230.000 untuk 12 kg.

Perbedaan harga antarwilayah dipengaruhi oleh faktor distribusi dan kondisi geografis. 

Pertamina menyebut penyesuaian harga ini merupakan bagian dari evaluasi berkala di tengah dinamika energi global guna menjaga keberlanjutan pasokan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.