Inovasi UP2K Solok Selatan, Ibu-Ibu Sulap Buah Nangka Jadi Rendang dan Abon
Rezi Azwar April 22, 2026 11:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, SOLOK SELATAN - Di sebuah sudut Jorong Paninjauan, Nagari Sungai Kunyit Barat, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan, pohon-pohon nangka bukan lagi sekadar peneduh halaman. 

Buah-buah hijau berduri halus yang menggantung rendah itu kini bertransformasi menjadi penopang ekonomi baru bagi keluarga melalui sentuhan tangan dingin kaum ibu.

Inisiatif ini lahir dari kegelisahan para perempuan yang tergabung dalam Dasawisma Mawar IV. Melimpahnya hasil panen nangka di pekarangan rumah sering kali berakhir terbuang atau sekadar dikonsumsi pribadi tanpa nilai tambah. 

Hal inilah yang memicu gerakan kreatif untuk mengolah hasil bumi lokal menjadi komoditas bernilai jual tinggi.

Baca juga: Bendungan Alami di Tanah Datar Jebol, Banjir Disertai Tanah Longsor Timbun Alat Berat dan Motor

Koordinator Dasawisma Mawar IV, Elpi Nora, menjelaskan bahwa gerakan ini bermula dari pengamatan sederhana terhadap potensi lingkungan sekitar.

Pohon nangka yang tumbuh subur di setiap halaman rumah warga dipandang sebagai aset yang selama ini belum tergarap secara maksimal secara komersial.

Melalui wadah Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), para ibu ini mulai bereksperimen. Mereka sepakat untuk mengolah nangka menjadi dua varian produk unggulan berupa rendang nangka dan abon nangka. 

Pemilihan jenis olahan ini didasari pada daya tahan produk dan kedekatan cita rasa dengan lidah masyarakat Sumatera Barat.

Baca juga: PT Semen Padang Dukung Ekonomi Huntap Talang Lewat Pertanian Regeneratif Pascabencana

"Karena nangka tersebut selalu menghasilkan, muncul ide dari ibu-ibu untuk mengolahnya secara serius melalui UP2K. Kami ingin membuktikan bahwa apa yang ada di depan mata bisa menjadi sumber pendapatan," ujar Elpi saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

Salah satu keunggulan dari produksi ini adalah kemandirian bahan baku. Elpi menekankan bahwa hampir seluruh bumbu dan bahan pendamping yang dibutuhkan untuk membuat rendang serta abon tersedia di kebun atau apotek hidup milik warga. Pola ini meminimalkan biaya produksi sekaligus memastikan kesegaran bahan.

Awalnya, hasil olahan ini hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk anggota Dasawisma. Namun, respon positif dari lingkungan sekitar memicu semangat untuk melakukan komersialisasi. Rasa yang otentik dan tekstur nangka yang menyerupai serat daging membuat produk ini cepat diterima pasar lokal.

Strategi pemasaran pun dilakukan secara organik. Tanpa biaya iklan yang besar, para ibu ini memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut serta optimalisasi media sosial. Kini, distribusi produk telah merambah keluar dari wilayah Nagari Sungai Kunyit Barat hingga ke kecamatan-kecamatan tetangga di Solok Selatan.

Baca juga: Radius Pencarian 2 Bocah Hanyut di Padang Diperluas, Tim SAR: Pencarian Hari Kelima Masih Nihil

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran pemerintah nagari yang visioner. Elpi mengungkapkan bahwa penguatan basis produksi dilakukan dengan pembagian bibit nangka unggul. 

Setiap rumah di jorong tersebut mendapatkan bantuan dua batang bibit nangka untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku di masa depan. Aspek legalitas juga menjadi perhatian serius kelompok ini. 

Sejak mulai dikomersialisasi secara masif setahun lalu, produk rendang dan abon nangka Dasawisma Mawar IV telah mengantongi sertifikasi Halal dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Hal ini menjadi modal kuat untuk menembus pasar ritel yang lebih luas.

Secara makro, inisiatif ini sejalan dengan program Tim Penggerak PKK Kabupaten Solok Selatan dalam mendorong kesejahteraan ekonomi keluarga melalui UP2K. 

Keberhasilan para ibu di Sangir Balai Janggo ini dianggap sebagai representasi dari pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput yang mampu menjawab tantangan ekonomi.

Baca juga: Turap Longsor di UIN Imam Bonjol Padang Mulai Diperbaiki, Rektor: Target Rampung September 2026

Dedikasi yang konsisten ini akhirnya membuahkan pengakuan di tingkat regional. Dasawisma Mawar IV kini resmi terpilih sebagai salah satu finalis enam besar dalam ajang Lomba Dasawisma Berprestasi tingkat Provinsi Sumatera Barat tahun 2026. Prestasi ini menjadi katalisator bagi warga untuk terus berinovasi.

Persiapan menjelang penilaian akhir kini tengah dilakukan secara intensif. Berdasarkan jadwal, Tim Penilai TP PKK Provinsi Sumatera Barat direncanakan akan melakukan kunjungan lapangan pada 30 April 2026 mendatang untuk memverifikasi langsung dampak ekonomi dan sosial dari program ini.

Kisah dari Padang Aro ini menjadi potret nyata bagaimana kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi dapat dibangun dari halaman rumah. Nangka yang dulunya dianggap buah murah, kini telah menjelma menjadi cuan yang menghidupkan harapan baru bagi kesejahteraan keluarga di pelosok Solok Selatan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.