SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Upaya mitigasi gencar dilakukan guna mengantisipasi bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), menyusul potensi cuaca ekstrem kemarau panjang akibat dampak El Nino.
Mitigasi bencana Karhutla terutama menyasar kawasan hutan di 3 kecamatan, Kabupaten Mojokerto yaitu hutan Pacet, Trawas dan Gondang yang masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Kepala UPT Tahura R Soerjo, Agustiningtyas mengatakan, mitigasi dilakukan menyusul adanya prediksi dari BMKG terkait adanya fenomena El Nino yang dimulai pada awal musim kemarau pada Juni-Juli Tahun 2026.
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah juga telah mengadakan rapat koordinasi mitigasi Karhutla.
"Pada intinya semuanya diminta saling koloborasi untuk mitigasi penanganan Karhutla, dan harapannya tidak sampai terjadi Karhutla berarti harus ada upaya mitigasi tersebut," ujar Agustiningtyas, Rabu (22/4/2026
Baca juga: Gandeng CIS Jepang dan BRIN, BPBD Jatim Riset Mitigasi Bencana di Tahura R Soerjo Mojokerto
Menurut Agustiningtyas, UPT Tahura R Suryo mengelola lebih dari 27.000 hektare.
Dirinya berharap dengan mitigasi masif dapat mencegah dan jangan sampai terjadi Karhutla di tahun 2026 ini.
"Kami berupaya untuk mencegah kebakaran hutan dengan membuat peta kerawanan berdasarkan kejadian sebelumnya, terutama di wilayah timur Tahura, termasuk Kabupaten Mojokerto," bebernya.
Ia mengungkapkan, adapun langkah yang telah dilakukan yakni kajian peta rawan Karhutla di kawasan Tahura.
Peta kerawanan ini berdasarkan kejadian Karhutla pada 2019-2023 dengan kondisi El Nino.
Daerah rawan Karhutla yang berulang mengalami kebakaran yaitu di sisi timur wilayah Tahura R Soerjo, tepatnya di RKW 2 dan RKW 3 (Singosari, Lawang, Pasuruan).
"Kalau itu (Karhutla) merembet sampai Sumber Brantas kemudian wilayah Mojokerto karena posisi api naik ke arah sana. Dari kajian tersebut maka, titik-titik itulah yang menjadi fokus mitigasi dan diprioritaskan sampai ke wilayah Kabupaten Mojokerto," jelasnya.
Baca juga: Usulkan Gunung Lawu Magetan-Ngawi Jadi Kawasan Tahura, Pemprov Jatim: Banyak keanekaragaman Hayati
Agustiningtyas menyebut, mitigasi bencana meliputi patroli intensif pagi dan malam termasuk berkolaborasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terdiri dari 251 personel.
Rencananya, anggota MPA dari masyarakat setempat akan ditambah 150 orang pada tahun 2026 ini.
"Fokus utama adalah pencegahan kebakaran melalui edukasi dan pembinaan, serta optimalisasi sumber daya manusia seperti personel Polhut dan MPA tersebut," kata Agustiningtyas.
Agustiningtyas menambahkan, peta kerawanan kebakaran di kawasan Tahura R Soerjo dibagi berdasarkan tingkat risiko.
Jika wilayah yang berisiko tinggi bencana Karhutla maka menjadi prioritas penanganan.
"Upaya ini bertujuan untuk mencegah kebakaran hutan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, daripada memadamkan tentu dampaknya luar biasa," tukasnya.
Baca juga: Hujan dan Angin Kencang, Pohon Besar Tumbang di Jalan Raya Pacet-Cangar, Satu Orang Terluka
Pemkab Mojokerto melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga telah menyiapkan langkah strategis antisipasi Karhutla.
Tiga strategi yaitu memperkuat sektor ketahanan air, pangan dan memperkuat sinergitas antara stakeholder dalam mitigasi bencana Karhutla bersama.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin menjelaskan tiga sektor ini harus diperkuat dari stakeholder terkait, seperti manajemen sumber daya dan pasokan air hingga mitigasi bencana.
"Ada stakeholder yang tergabung dalam satuan kerja bencana Hidrometeorologi Kering, nantinya siap mencegah ataupun mitigasi saat terjadi bencana kekeringan maupun kebakaran hutan atau kebakaran lahan," ucap Rinaldi.
Dikatakan Kalaksa Rinaldi, bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menerbitkan imbauan bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bencana kebakaran hutan, menjaga kelestarian alam dan sumber mata air. (don)