TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Di tengah maraknya ancaman narkoba yang menyasar generasi muda saat ini, Universitas Riau (Unri) memilih berdiri di garis depan. Sebagai universitas utama di Riau, Unri tidak hanya membuka pintu bagi ribuan calon mahasiswa baru, tetapi juga mengambil langkah tegas dengan memastikan calon mahasiswa baru bebas dari narkoba sejak proses seleksi.
Komitmen itu tidak hanya menjadi slogan. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 ini, Unri mulai memperketat proses seleksi, termasuk memastikan setiap calon mahasiswa bebas dari penyalahgunaan narkoba. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan tes urine sebagai bagian dari tahapan seleksi.
Langkah ini lahir dari fenomena yang terjadi saat ini. Dimana, peredaran narkoba yang kian meluas tidak lagi mengenal batas. Unri melihat pentingnya langkah preventif sejak awal, bahkan sebelum mahasiswa resmi menginjakkan kaki di kampus.
Untuk jadwal pemeriksaan narkoba, kesehatan dan buta warna untuk program studi tertentu akan dilaksanakan di RSP Unri. Jadwal pemeriksaan dimulai tgl 13 Juli sampai dengan 25 Juli mendatang. Sehingga Maba akan mengikuti pemeriksaan sebelum PKKMB dimulai.
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Riau, Mexsasai Indra menegaskan, kebijakan ini merupakan bentuk keseriusan kampus dalam menjaga kualitas generasi muda. Bagi Unri, mahasiswa bukan hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus sehat secara fisik dan mental.
"Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan belajar yang aman dan produktif. Karena itu, seleksi bebas narkoba menjadi bagian penting dalam proses penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Kita akan melakukan test urine wajib bagi seluruh calon mahasiswa baru," kata Mexsasai kepada Tribun, Rabu (22/4/2026).
Langkah Unri ini juga dinilai dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain. Upaya pencegahan sejak awal dianggap lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah terjadi di lingkungan kampus.
Mexsasai juga mengatakan, di balik kebijakan ini, tersimpan harapan besar. Unri ingin melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas dan gaya hidup sehat.
Dikatakan Mexsasai, komitmen ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa perang melawan narkoba tidak bisa ditunda. Kampus, sebagai pusat pendidikan dan pembentukan karakter, harus mengambil peran strategis dalam upaya tersebut.
"Dengan seleksi yang semakin ketat, kami berharap mahasiswa yang terpilih nantinya benar-benar siap menjadi agen perubahan. Mereka diharapkan tidak hanya membawa nama baik kampus, tetapi juga menjadi contoh di tengah masyarakat," kata Mexsasai.
Ia menambahkan, langkah ini menjadi upaya Universitas Riau untuk memastikan bahwa dunia kampus tetap menjadi ruang aman, bersih, dan penuh harapan bagi masa depan generasi muda.
Bagi calon mahasiswa, kebijakan ini juga disambut positif. Banyak yang menilai langkah Unri sebagai bentuk perlindungan terhadap masa depan mahasiswa itu sendiri, sekaligus menjaga reputasi kampus.
Salah seorang calon mahasiswa, Adrian mengatakan, dirinya mendukung penuh rencana penerapan tes urine. Ia menilai kebijakan ini menunjukkan keseriusan kampus dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari pengaruh negatif.
"Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dan berkembang. Dengan adanya seleksi bebas narkoba, mahasiswa bisa merasa lebih nyaman dan fokus dalam menjalani perkuliahan," kata Adrian kepada Tribun, Rabu (22/4/2026).
Calon mahasiswa lainnya, Retno menilai, dirinya tidak merasa terbebani dengan rencana penerapan tes urine tersebut, justru melihatnya sebagai langkah positif dari kampus.
Ia menilai, kebijakan ini menunjukkan keseriusan Universitas Riau dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan aman. Menurutnya, kampus memang seharusnya memiliki standar yang jelas agar mahasiswa yang diterima benar-benar siap secara akademik maupun secara pribadi.
"Saya setuju kalau memang harus ada tes urine. Itu bagus untuk memastikan mahasiswa yang masuk benar-benar bersih dari narkoba. Jadi kita juga merasa lebih aman dan nyaman nanti saat kuliah," ujarnya.
Ia juga berharap kebijakan ini tidak hanya berhenti di tahap seleksi awal, tetapi bisa terus diterapkan dalam bentuk pembinaan dan pengawasan selama masa perkuliahan. Ia percaya, lingkungan kampus yang bersih akan sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar mahasiswa.
Senada dengan itu, calon mahasiswa lainnya Randi menyebut langkah ini sebagai bentuk perlindungan jangka panjang bagi generasi muda. Ia menilai, pencegahan sejak awal jauh lebih penting dibandingkan penanganan setelah masalah terjadi nantinya.
Sebagaimana diketahui, pada tahun akademik 2026/2027 ini, sebanyak 8.125 kursi disiapkan untuk jenjang Diploma dan Sarjana. Penerimaan dilakukan melalui tiga jalur utama, yakni SNBP, SNBT, dan jalur Mandiri.
Pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) dijadwalkan berlangsung pada 25 Maret hingga 7 April 2026. Sementara pelaksanaan ujian akan digelar pada 21 hingga 30 April 2026. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)