Menjadi Kartini Masa Kini
Ratino Taufik April 23, 2026 06:52 AM

OLEH : Dr Hj Noorbaity, MPd

KB Wirawati Catur Panca Provinsi Kalsel

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP tahun Hari Kartini selalu diperingati dengan berbagai kegiatan. Terutama bagi para ibu di negeri tercinta ini. Kita semua tentu tahu siapa dia pada masanya dan pada saat ini.

Berbagai kegiatan dalam peringatan tersebut merupakan penghargaan untuk perjuangan beliau memajukan perempuan Indonesia. Pada masanya Kartini telah membuka wawasan untuk berpikir bagaimana supaya perempuan Indonesia tidak terbelenggu oleh keadaan saat itu, namun harus terlepas dari fenomena yang mengikat kaum perempuan, agar lebih maju dan mempunyai hak yang sama dengan kaum lak-laki.

Surat-surat Kartini untuk teman-temannya di Belanda sangat memaknai perjuangannya, terutama agar perempuan memiliki hak dalam pendidikan dan dapat berperan aktif di masyarakat. Akhirnya terhimpun pemikiran-pemikirannya dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.  

Emansipasi atau persamaan hak perempuan dan laki-laki berhasil Kartini perjuangkan dan sekarang lebih dikenal dengan istilah penyetaraan gender. Beliau memang berkemampuan lebih pada masanya dan telah memikirkan terntang kaumnya. Perempuan saat itu masih dipandang sebelah mata sebagai kaum lemah, karena di masyarakat masih bernuansa budaya patriarki dan saat itu kita berada di bawah kolonialisme Belanda.

Gagasan Kartini membuka kesadaran masyarakat maupun penguasa, bahwa perempuan mempunyai kemampuan dan hak yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan.

Selain Kartini tokoh perempuan yang juga berkiprah untuk kaumnya adalah Dewi Sartika yang lahir 4 Desember 1884. Sejak masa muda beliau sudah berpikir tentang pendidikan kaum perempuan. Tahun 1904 beliau mendirikan Sekolah Perempuan. Pada sekolah tersebut diajarkan membaca dan menulis serta keterampilan dan tata krama atau etika.

Perempuan berpendidikan selain mandiri juga harus berperan dengan baik pada keluarga dan masyarakat. Tahun 1966 pemerintah memberikan penghargaan kepadanya sebagai pahlawan nasional.

Tokoh selanjutnya adalah Maria Walanda Maramis yang berasal dari tanah Minahasa dan diakui sebagai pelopor pergerakan perempuan dari timur Indonesia. Beliau mendirikan organisasi yang memprjuangkan pendidikan perempuan dan memberi jalan untuk kesetaraan di bidang pendidikan dan politik.

Demikian pula Ruhana Kuddus dari Sumatra Barat. Sebagai seorang wartawati beliau membentuk Sounting Melajoe pada tahun 1912, merupakan media yang memberikan tempat untuk gagasan perempuan yang saat itu masih didominasi kaum laki-laki. Tulisannya menyampaikan tentang pendidikan, pernikahan dini, dan hak kaum perempuan dalam berkarier.      


Kartini Masa Kini

Pada era milenial ini kaum perempuan sebagai Kartini masa kini dituntut lebih jauh lagi perannya sesuai dengan keadaan zaman seperti saat ini. Tuntutan pendidikan lebih beragam, tidak hanya  dalam ranah ilmu pengetahuan dan keterampilan saja. Berbagai masalah yang harus mampu dihadapi oleh kaum perempuan dalam kesetaraan yang sama dengan kaum laki-laki.

Perempuan tangguh selain berpendidikan, berdaya guna dan menjalankan semangat Kartini di era modern ini. Mereka melalukan inovasi, menyetarakan gender, berjiwa sosial, mampu berkarya di berbagai bidang terutama bidang pendidikan, selanjutnya teknologi dan pemerintahan. Dalam dunia pendidikan dan kemandirian Kartini muda dituntut memiliki semangat belajar yang tinggi, memanfaatkan kesetaraan untuk berprestasi. Mereka menjadikan pembelajaran sepanjang hayat (long life education). Selanjutnya memanfaatkan teknologi untuk berproduksi dan berani bersuara di media sosial secara positif (peran Kartini muda di era digital saat ini).

Kita bisa melihat beberapa Kartini muda saat ini yang dapat dijadikan inspirasi.

Seorang Maudy Ayunda, selain sebagai artis juga pendiri From This Island, produk perawatan kulit yang berakar pada warisan Indonesia dan membawa kearifan lokal ke panggung global.

Cinta Laura menorehkan prestasinya di bidang akademis, meraih dua gelar sarjana di Universitas Columbia dengan predikat cumlaude. Dia juga mengelola Soekarseno Peduli Foundation, yang mendirikan belasan sekolah untuk membantu mereka yang kurang mampu. Selain itu dia menjadi duta kekerasan terhadap perempuan dan anak  oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.  

Aktivis dan antropolog yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik komunitas terpencil orang rimba di kawasan Bukit Duabelas Jambi Sumatra Barat adalah Butet Manurung. Pengabdiannya dalam dunia pendidikan diakui secara nasional maupun

internasional. Peraih Ramon Magsaysay Award ini dijuluki Nobel Asia 2014 atas jasanya dalam memberdayakan komunitas marginal melaui pendidikan. Perjalanannya tertulis dalam buku The Jungle School 2012 dan tahun 2013 isi buku tersebut menjadi film layar lebar berjudul Sokola Rimba dan meraih penghargaan internasional.

Kita patut memberikan penghargaan pula pada figur luar yang luar biasa , Birute Galdikas ibu orang utan Kalimantan. Beliau seorang profesor dan pakar konservasi orang utan di Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Sebagai konservasionis terkemuka beliau

mendirikan Orangutan Fondation International (OFI). Pengabdiannya berfokus pada rehabilitasi dan perlindungan satwa kritis secara global.

Beberapa figur di atas, hanyalah sedikit dari Kartini Kartini masa kini. Di negeri tercinta ini masih banyak Kartini muda yang patut dibanggakan. Mereka mempunyai daya juang untuk bangsa ini. Apakah itu di bidang pendidikan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Semua mempunyai kontribusi untuk NKRI ini.

Mari menjadi Kartini masa kini, bahwa sebagai Kartini era digital merupakan perempuan berdaya guna yang menguasai dan memanfaatkan teknologi untuk berkarya,

menginspirasi dan menciptakan nilai sosial yang positif. Kartini masa kini juga diharapkan sebagai penggerak ekonomi, kreator konten, pendidik berbasis literasi digital, serta figur yang berani menyuarakan kesetaraan dan edukasi sejalan dengan semangat emansipasi.

Menjadi konten kreator, sebagai pengguna media sosial yang kritis, mempunyai empati, menyebarkan konten yang positif. Selanjutnya sebagai wira usaha yang berkarier di bidang  teknologi. Sebagai agen perubahan dan inovator, Kartini masa kini memanfaatkan teknologi untuk inovasi sosial dan memudahkan kehidupan di masyarakat.  

Kartini masa kini dalam skala kecil adalah seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga yang mendidik anak dan keluarganya sesuai apa yang diharapkan oleh agama, masyarakat, bangsa dan negara. Mendidik, membimbing dan memberikan contoh untuk  jujur dan disiplin bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Namun hal yang terlihat sederhana ini sebenarnya sangat luar biasa. Karena dua kata tersebut bermakna sangat dalam dan akan memberikan dampak yang akan dirasakan oleh siapa saja. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.