Pemkab Lamteng Janji Alokasikan Rp200 Juta dari APBD Perubahan untuk Perbaikan Jalan di Mujirahayu
taryono April 23, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Aksi gotong royong warga Kampung Mujirahayu, Kecamatan Seputih Agung, Lampung Tengah, yang secara mandiri memperbaiki jalan rusak viral di media sosial, akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah. 

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri meninjau langsung lokasi perbaikan jalan pada Rabu (22/4/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, Komang juga berjanji akan mengalokasikan anggaran APBD Perubahan untuk membantu masyarakat, serta ikut berpartisipasi dalam patungan dana.

Kedatangan Komang ke lokasi perbaikan jalan ini merupakan respons langsung terhadap perhatian masyarakat yang luas terkait kondisi jalan yang sudah lama rusak parah dan membahayakan pengguna. 

Dalam pertemuan dengan warga, Komang mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh masyarakat yang tidak menunggu bantuan pemerintah.

"Terima kasih kepada masyarakat yang telah menunjukkan semangat gotong royong. Ini adalah nilai dasar bangsa kita. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa persoalan infrastruktur masih menjadi pekerjaan besar yang harus segera ditangani," ungkapnya pada Kamis (23/4/2026).

Sebagai langkah konkret, Komang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 juta melalui APBD Perubahan. 

Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat perbaikan jalan di Kampung Mujirahayu dan wilayah sekitar, termasuk Kampung Gayau Sakti.

"Bantuan ini akan difokuskan pada ruas jalan strategis yang menghubungkan Candirejo hingga Dono Arum, yang selama ini mengalami kerusakan parah di beberapa titik," jelas Komang. 

"Kondisi jalan yang berlubang dan menurun, ditambah dengan dampak bencana alam, membuat akses ini sangat membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor."

Komang menjelaskan, pendekatan teknis dalam perbaikan jalan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang ada. Untuk ruas jalan yang masih memungkinkan, pemerintah akan melakukan pengaspalan untuk menekan biaya. 

Sementara itu, pada titik-titik kritis dan rawan, perbaikan akan dilakukan dengan metode pengecoran untuk memastikan jalan lebih kuat dan tahan lama.

"Kami tidak akan menyamaratakan penanganannya. Di titik-titik rawan, kami akan melakukan pengecoran sepanjang 200 hingga 300 meter agar benar-benar kokoh. Sedangkan untuk kondisi yang lebih ringan, cukup diaspal agar anggaran bisa dimanfaatkan secara optimal," jelasnya.

Komang juga menekankan bahwa pembangunan jalan ini tidak akan sepenuhnya berbasis proyek konvensional. Pemerintah akan tetap melibatkan masyarakat setempat dalam proses pembangunan melalui pola gotong royong, namun tetap berpegang pada standar teknis (bestek) untuk menjamin kualitas pekerjaan.

"Anggaran akan disalurkan melalui kampung, namun tenaga kerja tetap melibatkan masyarakat setempat. Ini adalah kolaborasi, bukan sekadar proyek. Gotong royong tetap berjalan, tapi hasilnya harus memenuhi standar yang ditentukan," tegasnya.

Komang optimistis bahwa kondisi infrastruktur jalan di wilayah Lampung Tengah akan terus membaik. Namun, ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh ruas jalan berada dalam kondisi fungsional, terutama di wilayah rawan dan titik-titik kritis.

"Yang terpenting adalah jalan bisa dilalui dengan aman terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan meningkatkan kualitasnya secara bertahap. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, saya optimistis pembangunan akan lebih cepat dan merata," pungkasnya.

Respons pemerintah daerah ini tak lepas dari aksi viral warga Kampung Mujirahayu yang secara mandiri memperbaiki jalan rusak. Sebelumnya, masyarakat setempat berhasil menggalang dana hingga Rp96 juta untuk menutup lubang, menimbun badan jalan, dan melakukan pengecoran di titik-titik yang paling parah.

Salah satu warga, Amar, mengungkapkan bahwa keinginan untuk memiliki jalan yang layak sudah lama dirasakan oleh masyarakat setempat. Namun, karena perbaikan dari pemerintah tak kunjung terealisasi, warga akhirnya berinisiatif untuk bergerak sendiri sejak pertengahan bulan Ramadan.

"Ini murni dari kesadaran bersama. Jalan ini sangat penting bagi aktivitas kami sehari-hari. Kalau tidak diperbaiki, sering terjadi kecelakaan, terutama di Dusun 2 yang kondisinya paling parah," kata Amar.

Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli material seperti batu dan lapisan dasar (sub-base), yang kemudian dilanjutkan dengan pengecoran jalan dan jembatan di titik-titik krusial. Tahap awal perbaikan bahkan telah dilakukan sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Kepala Kampung Mujirahayu, Subandi, menegaskan bahwa seluruh proses perbaikan dilakukan tanpa melibatkan anggaran dari pemerintah daerah, meskipun status jalan tersebut merupakan kewenangan kabupaten.

"Ini adalah bentuk kepedulian warga. Jalan ini sebenarnya tanggung jawab pemerintah kabupaten, tetapi karena belum ada perbaikan, masyarakat berinisiatif sendiri," ujarnya.

Menurut Subandi, jalan yang diperbaiki memiliki peran vital sebagai jalur penghubung antar kecamatan dan ke wilayah Lampung Utara.

Kerusakan jalan yang dibiarkan terlalu lama tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Langkah swadaya warga ini menjadi simbol solidaritas sosial sekaligus bentuk tekanan moral bagi pemerintah agar lebih responsif terhadap kebutuhan dasar masyarakat. 

Dengan adanya perhatian langsung dari pemerintah daerah, warga berharap perbaikan jalan ini tidak lagi bersifat sementara, tetapi berlanjut menjadi pembangunan yang permanen dan lebih berkualitas.

(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.