SURYA.CO.ID SURABAYA - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali menunjukkan praktik nyata toleransi dan inklusivitas di lingkungan pendidikan tinggi.
Hal ini tercermin dari pengalaman Suster (Sr) Yustina Klun Kolo, SSpS, wisudawan Program Studi D4 Analis Kesehatan asal Kefamenanu/Wini, Nusa Tenggara Timur.
Sebagai mahasiswa beragama Katolik yang menempuh studi di kampus dengan mayoritas mahasiswa Muslim, Yustina mengaku sempat merasa ragu saat pertama kali datang ke Surabaya.
Kekhawatiran akan perbedaan latar belakang agama sempat membayangi langkah awalnya di dunia perkuliahan.
Namun, pengalaman yang ia rasakan justru berbanding terbalik.
Baca juga: Dua Mahasiswi Unusa Ukir Prestasi Nasional di Ajang Jujitsu SLC Cup 2026
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ungkap Yustina, Kamis (23/4/2026).
Perempuan kelahiran Dili, 5 Juli 1994 itu bahkan dipercaya mewakili wisudawan untuk menyampaikan pidato. Ia tampil mengenakan jubah biarawati, menjadi simbol keberagaman yang diterima dan dihargai di lingkungan kampus.
Pengalaman Yustina menjadi gambaran konkret bagaimana nilai toleransi diterapkan di Unusa. Kampus ini dinilai konsisten mendorong pendidikan tanpa diskriminasi, sekaligus membangun lingkungan akademik yang menghargai keberagaman.
Salah satu bentuk nyata implementasi tersebut adalah melalui mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagi Yustina, pengalaman ini justru memperkaya perspektifnya sebagai mahasiswa lintas agama.
“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” ujarnya.
Baca juga: Sosok Brigpol Tinto Adi Nugraha, Polisi Polda Jatim yang Lulus Cum Laude S2 Unair
Selain kurikulum, ia juga menilai peran dosen dan tenaga kependidikan sangat penting dalam menciptakan suasana inklusif. “Dosen dan tenaga kependidikan bersikap profesional dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” tambahnya.
Kini, Yustina telah mengabdikan diri dengan bekerja di RSK Budi Rahayu, Blitar. Ia berharap nilai toleransi yang ia peroleh selama kuliah dapat terus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Unusa Tri Yogi Yuwono menambahkan bahwa tantangan lulusan ke depan tidak hanya soal keberagaman, tetapi juga disrupsi teknologi akibat kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Ia mengingatkan, banyak pekerjaan berpotensi berubah bahkan hilang dalam beberapa tahun ke depan, sehingga lulusan dituntut memiliki kemampuan belajar yang adaptif.
“Lulusan Unusa harus menjadi pembelajar yang lincah. Jika berhenti belajar hari ini, kalian akan tertinggal besok,” ujarnya.
Menurutnya, lulusan juga harus siap menghadapi persaingan global yang semakin ketat. “Lulusan Unusa tidak hanya bersaing dengan lulusan dari Surabaya atau Indonesia, tetapi juga dengan talenta dari seluruh dunia. Buktikan bahwa kalian lulusan Unusa yang kompeten dan profesional,” tegasnya.
Prof Tri Yogi juga menekankan pentingnya menjaga integritas di dunia kerja. Ia mengingatkan bahwa setiap individu akan dihadapkan pada pilihan antara jalan pintas dan kejujuran.
Meski tantangan tersebut tidak ringan, ia mengajak para lulusan untuk tetap optimistis. “Kompetensi dan nilai-nilai keislaman menjadi bekal kuat lulusan Unusa,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa nilai toleransi yang tumbuh di lingkungan kampus harus dibawa ke masyarakat sebagai bagian dari kontribusi lulusan dalam menjaga harmoni sosial.