SURYA.CO.ID - Di tengah raungan rudal yang terdengar di langit Kota Qom, Iran, Abdullah (25) sempat bergeming.
Mahasiswa semester 6 Imam Khomeyni Specialized University asal Bondowoso, Jawa Timur ini awalnya tak ingin kembali ke Tanah Air.
Sebab, ia ingin menyelesaikan pendidikan di kampusnya.
Namun, takdir membawanya kembali ke kampung halaman di Bondowoso pada 16 April 2026 lalu, melalui jalur repatriasi Kementerian Luar Negeri RI.
Kepada SURYA.CO.ID, Abdullah menceritakan masa-masa bertahan hidup di tengah konflik di Timur Tengah.
Ia mengaku, aktivitas belajar mengajar di kampusnya sempat terhenti selama sepekan.
Seiring berjalannya waktu, pembelajaran mulai pulih dari daring kembali ke tatap muka setelah Idulfitri 1447 Hijriyah.
Baca juga: Cerita Abdullah Mahasiswa Bondowoso Pulang Dari Iran, Lewat Jalur Darat Dan Pesawat
"Saya merasa perang ini tidak akan lama, mungkin bertahan 10 hari. Ternyata tidak," jelas Abdullah saat dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).
Selama menetap di Qom, Abdullah menyaksikan langsung kengerian perang meski tak sedahsyat di Teheran.
Ia mengaku setidaknya dua kali melihat rudal melintas di atas kepalanya.
Kendala terbesar bukan hanya ancaman fisik, melainkan terputusnya akses internet internasional yang membuatnya terisolasi dari dunia luar.
"Pendidikan sebenarnya berjalan seperti biasa," ungkapnya, menekankan bahwa semangat belajarnya tak padam meski situasi mencekam.
Keputusannya untuk pulang bukan karena rasa takut, melainkan karena suara sang Ibu yang tak lagi bisa ia abaikan.
Setelah komunikasi sempat terputus selama dua minggu, desakan keluarga akhirnya melunakkan hati Abdullah untuk mengisi formulir repatriasi KBRI.
Perjuangan evakuasi itu pun tidak mudah. Abdullah harus menempuh perjalanan darat selama 9 jam menggunakan bus dari Kota Qom menuju Kota Baku, Azerbaijan.
"Jalur darat itu aman karena saat itu sedang gencatan senjata," tuturnya.
Dari Baku, ia diterbangkan menuju Jakarta via Turki, sebelum akhirnya difasilitasi oleh Dinsos P3AKB menuju kampung halamannya.
Orang tua Abdullah, Muhammad Ridho Al Khaf dan Umi Abdullah, cemas dengan kondisi putranya.
"Lebih baik Abdullah di sini dulu untuk menenangkan hati Umi, sementara cuti dulu," kenang Ridho saat menasihati putranya.
Kepulangan Abdullah ini merupakan hasil koordinasi panjang antara KBRI, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Jatim, Muchamad Arif Ardiansyah, memastikan pihaknya akan terus memantau dan memfasilitasi WNI asal Jatim yang terdampak konflik.
Bagi Abdullah, kepulangan ini hanyalah jeda singkat. Dengan mata yang tetap menatap masa depan, ia berencana kembali ke Iran begitu situasi kondusif.
Baginya, gelar sarjana di Kota Qom adalah janji yang harus ia penuhi, selama restu sang ibu menyertai langkahnya.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung