Erick Thohir Tegur Keras Operator Liga, Minta Empati Jadi Napas Utama Kompetisi Usia Muda
Eko Isdiyanto April 23, 2026 12:33 PM

MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM
Ketum PSSI sekaligus Menpora, Erick Thohir.

SUPERBALL.ID - Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan respons tegas menyusul insiden kekerasan yang terjadi dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA).

Erick secara khusus menegur operator liga terkait pentingnya penegakan disiplin dan pembangunan karakter pemain sejak usia dini.

​Insiden yang memicu reaksi keras ini melibatkan aksi tidak sportif pemain muda Fadly Alberto, yang melakukan 'tendangan kungfu' usai pertandingan. 

Kejadian tersebut dinilai mencoreng semangat pembinaan sepak bola nasional yang tengah gencar diperbaiki.

​Erick Thohir meminta PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator dan seluruh klub peserta untuk tidak hanya fokus pada aspek teknis pertandingan.

Akan tetapi juga pada pembentukan mentalitas pemain. Menurutnya, kompetisi usia muda adalah fondasi utama bagi masa depan Timnas Indonesia.

​Dalam keterangannya, Erick menegaskan bahwa sportivitas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Ia menuntut adanya langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di atas lapangan hijau.

"Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni," kata Erick Thohir.

Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik."

Teguran ini menjadi bagian dari agenda besar transformasi sepak bola Indonesia yang dicanangkan PSSI. 

Sejak menjabat, Erick Thohir memang konsisten melakukan perbaikan, mulai dari penggunaan wasit asing dalam beberapa laga krusial hingga penerapan teknologi VAR di Liga 1.

​Kejadian yang melibatkan Fadly Alberto diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh talenta muda Indonesia. 

PSSI berkomitmen untuk terus memantau jalannya kompetisi EPA agar tetap berjalan di koridor pembinaan yang positif, sehat, dan mengedepankan sportivitas tinggi.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional,” kata Erick Thohir lagim

"Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit."

"Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," imbuhnya.

Sementara itu, Dewa United dan Bhayangkara FC telah melakukan mediasi dan rencana untuk membawa kasus ini ke ranah pidana, tidak jadi dilakukan. 

Sebelumnya Dewa United menegaskan pihaknya akan mengambil langkah hukum bagi pihak-pihak yang melakukan kekerasan. 

Langkah itu diambil agar adanya efek jera bagi para pelaku kekerasan di sepak bola, tapi kemudian diurungkan setelah mediasi dilakukan dan itu diapresiasi Erick Thohir. 

"Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila," kata Erick lagi. 

"Bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.