TRIBUNNEWS.COM - Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Sumenep, Rifmi Utami, ikut menanggapi praktik joki yang terjadi dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 yang telah digelar sejak Selasa (21/4/2026) kemarin.
Diketahui praktik joki dalam gelaran UTBK 2026 ini banyak ditemukan pada peserta yang mendaftar di Fakultas Kedokteran (FK).
Rifmi Utami mengaku prihatin dengan temuan praktik joki di UTBK 2026 ini.
Rifmi menilai, para pelaku joki itu terus mencari celah untuk meloloskan para peserta UTBK yang tidak kompeten.
“Saya sih prihatin saja, para profesional joki itu ya, yang menganggapnya sebagai mata pencaharian itu tetap ada. Tetap mencari celah gitu untuk bisa meloloskan orang yang tidak kompeten,” kata Rifmi dilansir Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Ia pun berharap agar sistem UTBK yang diterapkan pemerintah bisa lebih baik lagi, agar nantinya tidak ada lagi praktik joki yang ditemukan.
“Mudah-mudahan sistem yang digunakan oleh pemerintah itu lebih baik gitu ya, sehingga tidak bisa ditembus oleh joki ya,” imbuh Rifmi.
Rifmi menyadari praktik joki dalam gelaran UTBK SNBT ini memang kejadian berulang dan telah terjadi sejak lama.
Namun, kini proses ujian yang sudah berbasis komputer dan dinilai lebih ketat ini, ternyata masih juga terdapat celah untuk para joki beraksi.
"Karena memang adanya kejadian itu memang dari lama ya. Pada saat dulu UNBTN, kalau yang dulu itu tradisional. Ada orang yang ikutan juga gitu, kayak ngasih tahu sama sebelah-sebelahnya gitu. Dulu gitu kalau metodenya,”
“Kalau sekarang sebenarnya joki itu sulit. Karena pakai komputer, sulitnya soalnya satu sama lain beda, jadi fokus sama pekerjaannya sendiri."
“Tapi yang namanya, mungkin ada celah yang mungkin bisa tembus, saya juga tidak tahu ya. Dari dulu hanya kok bisa, kok bisa, gitu saja,” terangnya.
Baca juga: Identitas Joki UTBK di Malang Berhasil Dibongkar, Diduga Palsukan KTP hingga Ijazah
Rifmi menilai, kuatnya ambisi dari peserta UTBK untuk menjadi dokter bisa menjadi motif utama penggunaan jasa joki ini.
Ketua IDI Sumenep itu menyebut, biasanya pengguna jasa joki ini berasal dari golongan atas atau kaya yang ingin anaknya menjadi dokter.
Namun karena sadar kemampuan atau nilai akademik anaknya belum mampu, maka kemudian memutuskan untuk menggunakan jasa joki.
Baca juga: Pakai Joki UTBK, Peserta Terancam Diblacklist Seumur Hidup dari PTN, Efektif Cegah Kecurangan?
“Kalau saya melihat sih, kemungkinan besar, mungkin ya, orang yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang dokter."
“Kalau sewa-sewa joki ya, mungkin dia orang yang kaya, kepengen anaknya, pengen jadi dokter. Tapi dari sisi nilai belum sesuai kemampuan, akhirnya ya itu dia pakai joki,” ungkap Rifmi.
Di tengah banyaknya temuan joki UTBK, Rifmi lantas memberikan apresiasinya kepada peserta yang berlaku jujur dan menggunakan kemampuan sendiri dalam mengerjakan ujian.
“Kalau sejauh ini, kami justru mengapresiasi mereka yang benar-benar dari nol, belajarnya ekstra, kemudian dia memang bisa punya cita-cita, ingin mengabdi pada kemanusiaan,” pungkasnya.
Baca juga: Cara Panitia Cegah Kecurangan UTBK 2026, Mulai dari Booting Pakai Flashdisk hingga AI Pemburu Joki
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkap adanya peserta SNBT yang menyewa joki untuk mengincar kursi Fakultas Kedokteran.
Joki UTBK ini ditemukan dalam pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya, Rabu (22/4/2026) kemarin.
“Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” ujar Atip.
Terkait pelanggaran UTBK tersebut, Atip menegaskan peserta yang terbukti menggunakan joki akan didiskualifikasi dan di-blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seumur hidup.
“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” ucapnya.
Baca juga: UPNVJ Perketat Pengawasan UTBK-SNBT 2026, Verifikasi Wajah hingga Metal Detector Diterapkan
Panitia UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jawa Timur berhasil membongkar modus kecurangan yang dilakukan oleh penjoki UTBK.
Pelaku menggunakan nama milik orang lain, namun mengganti foto pakai foto pelaku pada dokumen resmi.
"Modusnya menggunakan identitas yang dijoki. Namanya tetap nama peserta asli, tetapi fotonya diganti dengan orang yang mengerjakan ujian," ujar Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi.
Praktik kecurangan tersebut berhasil terbongkar setelah panitia melakukan pencocokan data lintas tahun.
Ternyata, foto yang digunakan pelaku sudah digunakan pada pendaftaran pada tahun sebelumnya.
"Data ini kami bandingkan dengan tahun lalu. Ternyata fotonya sama persis, tetapi namanya berbeda,"
"Ini yang kemudian memicu kecurigaan," jelasnya, Selasa (21/4/20265).
Baca juga: DPR Soroti Peserta UTBK Undip Curang: Bukan Hanya Langgar Aturan, Tapi Soal Integritas
Pihak panitia juga melakukan verifikasi ke sekolah asal dan menemukan bahwa foto pada dokumen yang dibawa untuk UTBK berbeda dengan identitas asli peserta.
Pelaku bahkan sempat hadir dan mengikuti ujian hingga akhirnya diamankan untuk dimintai keterangan.
Kini, kasus dugaan perjokian UTBK ini telah diserahkan ke pihak kepolisian.
"Sekarang sedang diproses di kepolisian, sementara ditangani di Polsek untuk pendalaman lebih lanjut," tambah Martadi.
Diduga, kasus ini merupakan praktik joki dari jaringan yang lebih luas karena terjadi secara nasional.
Dari hasil penelusuran, peserta yang terlibat mendaftar pada program studi kedokteran di Universitas Negeri Malang (UM).
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Muhammad Renald Shiftanto)(Kompas.com/Nur Khalis)