TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah harapan masyarakat terhadap layanan darurat yang sigap dan tulus, sebuah ironi justru terjadi.
Layanan kemanusiaan yang seharusnya menjadi penolong di saat genting malah dipelintir menjadi alat teror.
Bukan hanya relawan ambulans, bahkan petugas pemadam kebakaran (Damkar) ikut menjadi korban ulah oknum yang diduga debt collector (DC) pinjaman online (pinjol) di wilayah Sleman.
Peristiwa ini pun menyulut kemarahan publik setelah viral di media sosial, membuka mata banyak pihak bahwa penyalahgunaan layanan darurat telah melampaui batas.
Baca juga: Terungkap Identitas Peneror Petugas Damkar Depok, Polisi Pastikan Bukan Anggota Polri
Kisah ini bermula pada Rabu, 22 April 2026. Relawan ambulans menerima panggilan darurat untuk menjemput pasien di sebuah rumah kos di kawasan Caturtunggal, Kapanewon Depok.
Tanpa menaruh curiga, tim langsung bergerak cepat sebuah refleks kemanusiaan yang selama ini mereka pegang teguh.
Namun setibanya di lokasi, harapan untuk menolong justru berubah menjadi kebingungan. Tidak ada pasien, tidak ada kondisi darurat. Semuanya kosong.
Kecurigaan semakin menguat ketika sopir ambulans, Aziz Apri, mencoba menghubungi kembali pihak yang menelepon melalui panggilan video.
“Mas njenengan orderan fiktif ambulans ya? Jangan main-main, ini layanan kesehatan mas, jangan dipermainkan,” tegas Aziz dalam video yang beredar.
Alih-alih meminta maaf, suara di seberang telepon justru mengeluarkan perintah yang mengejutkan dan di luar nalar. Sopir ambulans diminta untuk berubah peran dari penyelamat menjadi penagih utang.
“Bapak ketemu Bu Yuni? Minta untuk bayar uang pinjolnya. Ini perintah ya, bapak angkut Bu Yuni, kasih surat untuk melunasi utang pinjolnya,” ucap pria tersebut dengan nada menekan.
Tak berhenti di situ, pelaku bahkan mengarahkan agar biaya ambulans dibebankan kepada orang yang dituju. Sebuah upaya manipulatif yang memperlihatkan bagaimana layanan kemanusiaan dijadikan alat intimidasi.
Baca juga: Kronologi Pengacara Ditusuk Debt Collector di Tangerang, Pelaku Kabur, Begini Nasib Korban
Setelah menyadari telah menjadi korban order fiktif, pihak ambulans mencoba menghubungi kembali nomor tersebut. Dalam percakapan lanjutan, pelaku sempat mengaku berasal dari layanan pinjaman online.
"Pas ditelepon balik, sempat mengaku dari pinjol. Pinjol rakyat, katanya. Tapi setelah itu dihubungi, di-VC juga nggak diangkat," katanya.
Pengakuan singkat itu seolah menjadi satu-satunya jejak sebelum pelaku menghilang tanpa tanggung jawab.
Ironisnya, bukan hanya ambulans yang menjadi sasaran. Petugas Damkar di Sleman juga mengalami kejadian serupa. Mereka menerima laporan adanya ular di kawasan yang sama, Caturtunggal.
Namun setelah tiba di lokasi, laporan tersebut terbukti fiktif.
"Damkar itu mendapat laporan ular," kata Aziz.
Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Indra Darmawan, turut membenarkan kejadian tersebut.
"Untuk rekan-rekan Damkar memang dari Sleman," kata Indra.
"Nggih (benar laporan ular fiktif), laporan dengan kondisi lapangan berbeda," lanjutnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa layanan darurat kini menghadapi ancaman baru penyalahgunaan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Ketika ambulans dan Damkar dipermainkan, bukan hanya waktu dan tenaga yang terbuang, tetapi juga potensi nyawa yang bisa terabaikan di tempat lain.
Kejadian ini menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan layanan kemanusiaan harus menanggung risiko akibat ulah segelintir pihak yang tak peduli?
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)