Keuchik Gampong Canggai Soroti Krisis Pendidikan di Desanya: Guru Terbatas dan Fasilitas Minim
Faisal Zamzami April 23, 2026 07:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Sa’dul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Kondisi pendidikan di Gampong Canggai, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, memprihatinkan.

Puluhan siswa terpaksa menjalani proses belajar mengajar di ruangan Pustu (Puskesmas Pembantu) dengan fasilitas seadanya, setelah jembatan gantung penghubung rusak akibat banjir pada November 2025.

Sebanyak 19 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 tidak lagi dapat bersekolah di gedung utama yang berada di Alue Lhok.

Jembatan gantung yang selama ini menjadi satu-satunya akses penghubung antara Gampong Canggai dan Gampong Jambak kini rusak total, sehingga aktivitas belajar harus dipindahkan ke fasilitas milik gampong.

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena seluruh sarana belajar yang digunakan saat ini berasal dari pihak gampong.

Tidak ada dukungan signifikan dari pihak sekolah, baik dalam bentuk fasilitas pembelajaran maupun kebutuhan dasar lainnya.

Baca juga: Jembatan Gantung Jambak-Canggai Aceh Barat Hancur, Aktivitas Pendidikan dan Ekonomi Warga Tersendat

Dari sisi tenaga pengajar, jumlah guru juga sangat terbatas. Saat ini hanya terdapat tiga guru yang mengajar, terdiri dari satu guru berstatus PNS dan dua lainnya berstatus PPPK.

Sementara itu, di SD Alue Lhok yang terdampak banjir, tercatat memiliki 17 orang guru.

Keuchik Gampong Canggai, Teuku Sulaiman, mengkritik lemahnya tanggung jawab pihak sekolah dalam menjamin keberlangsungan pendidikan siswa di wilayahnya.

“Seharusnya pihak sekolah memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses belajar mengajar. Kepala sekolah mestinya bisa membangun kerja sama dengan pihak gampong, setidaknya dalam penyediaan buku dan alat tulis. Namun kenyataannya tidak demikian,” ujarnya.

Ia menambahkan, jumlah siswa dari Gampong Canggai dan Gampong Jambak sebenarnya hampir seimbang, sehingga perhatian terhadap kebutuhan pendidikan seharusnya menjadi prioritas bersama.

Menurutnya, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan anak-anak, terlebih mereka telah cukup lama kehilangan akses pendidikan yang layak sejak jembatan penghubung rusak.

“Kami berharap dinas terkait segera turun tangan. Jangan biarkan anak-anak kami terus belajar dalam kondisi seperti ini tanpa fasilitas yang memadai,” tegasnya.

Masyarakat setempat kini menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera memperbaiki jembatan gantung serta memastikan hak pendidikan anak-anak di wilayah terpencil tetap terpenuhi secara layak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.