WARTAKOTALIVE.COM - Iran mengendus kemunafikan Amerika Serikat (AS) dalam gencatan senjata yang berlangsung selama tiga pekan terakhir.
Sejumlah pelanggaran gencatan senjata AS ini membuat Iran berpikir untuk sepenuhnya membatalkan perjanjian dan kembali menutup Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (23/4/2026).
Pazeshkian mengatakan Republik Islam Iran selalu menyambut baik dialog dan kesepakatan gencatan senjata dengan AS.
Namun nyatanya pelanggaran komitmen terus-menerus dilakukan Washington.
Di mana blokade angkatan laut, dan ancaman militer tetap menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang tulus dari Iran,
Dalam sebuah unggahan di X, presiden menegaskan kembali keterbukaan Teheran terhadap diplomasi sambil mengecam perilaku Washington yang kontradiktif.
“Republik Islam Iran menyambut baik dialog dan kesepakatan dan terus melakukannya,” tulis Pezeshkian.
“Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus. Dunia melihat retorika munafik Anda yang tak berkesudahan dan kontradiksi antara klaim dan tindakan,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan negara itu tidak akan membuka Selat Hormuz karena tekanan dari Amerika Serikat.
Dalam unggahan hari Rabu di akun X-nya, Qalibaf mengatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan mungkin dilakukan.
Hal ini karena pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang diumumkan awal bulan ini untuk menghentikan agresi AS-Israel terhadap negara tersebut.
Qalibaf, yang menjabat sebagai negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan AS merujuk pada serangan berulang rezim Israel terhadap Lebanon sebagai contoh nyata pelanggaran gencatan senjata.
Selain itu AS telah menekan Iran untuk mencapai kesepakatan dengan persyaratan yang mereka tetapkan.
Baca juga: Detik-detik Iran Ambil Alih Kapal Kargo Israel di Selat Hormuz
“Mereka gagal mencapai tujuan mereka melalui agresi militer, dan mereka juga tidak akan berhasil melalui intimidasi. Satu-satunya solusi adalah menerima hak-hak bangsa Iran,” kata Qalibaf dalam unggahan berbahasa Persia-nya.
Unggahan tersebut muncul kurang dari sehari setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak memperpanjang gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa pemerintahannya akan menunggu proposal Iran untuk putaran kedua pembicaraan di Islamabad.
Pihak berwenang Iran belum memberikan sinyal apa pun bahwa mereka akan menghadiri pembicaraan tersebut.
Diketahui seharusnya selama dua pekan ini Iran dan AS melakukan perundingan gencatan senjata untuk perdamaian penuh setelah perang selama 44 hari.
Namun demikian, sejumlah provokasi terus diluncurkan AS. Misalnya saja Presiden AS Donald Trump yang memutuskan untuk blokade Selat Hormuz di tengah gencatan senjata.
Bahkan kapal perang AS kerap keluar masuk perairan Iran.