WARTAKOTALIVE.COM –- Militer Amerika Serikat secara dramatis meningkatkan kehadiran tempurnya di kawasan Timur Tengah.
Hal ini seiring dengan perintah Trump untuk menembak dan membunuh kapal Iran yang diduga menyebar ranjau di Selat Hormuz.
Hingga Kamis (23/4/2026), sebanyak 19 kapal perang—termasuk dua raksasa kapal induk—telah bersiaga penuh untuk menegakkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca juga: Sekitar 2 Juta Pekerja di Iran Kena PHK Massal Akibat Perang dengan AS-Israel
Langkah masif ini merupakan bagian dari operasi pemutusan akses ekonomi Teheran yang telah dimulai sejak pertengahan April. Pentagon bahkan melaporkan telah mengalihkan sedikitnya 33 kapal perang untuk mengamankan jalur maritim strategis tersebut.
Blokade Tanpa Celah: Dari Teluk ke Samudra Hindia
Kekuatan maritim AS tidak hanya berpusat di Teluk Persia.
Operasi pengadangan kapal tanker kini meluas hingga ke Samudra Hindia.
Seorang pejabat militer mengungkapkan bahwa pasukan AS telah melakukan aksi boarding (penaikan kapal) terhadap sedikitnya tiga kapal yang terindikasi melanggar sanksi.
Baca juga: Trump Perintahkan Tembak dan Bunuh Kapal Iran di Selat Hormuz, Ketegangan Memuncak, Minyak Meroket
Insiden terbaru terjadi pada Rabu malam, di mana pasukan AS menyergap sebuah 'kapal tanpa kewarganegaraan' di Samudra Hindia, sekitar 2.000 mil dari Teluk Persia, yang kedapatan mengangkut minyak dari Iran.
"Kami tidak akan membiarkan perairan internasional menjadi jalur gelap bagi distribusi aset ilegal rezim," tegas Departemen Pertahanan dalam pernyataannya.
Daftar Armada Tempur AS di Garis Depan
Berdasarkan data terbaru dari Komando Pusat AS (CENTCOM), komposisi armada yang kini mengepung kawasan tersebut terdiri dari elemen tempur paling mematikan:\
Kapal Induk:
Kapal Penghancur (Destroyer):
Grup Amfibi:
Kapal Tempur Pesisir (LCS):
Selain itu, tujuh kapal perang lainnya, termasuk USS John Finn dan USS McFaul, dilaporkan tengah beroperasi aktif di Samudra Hindia untuk memastikan tidak ada celah bagi kapal tanker Iran untuk meloloskan diri.
Sinyal Ketegangan Global
Kehadiran USS Abraham Lincoln yang terlihat melakukan operasi blokade di Laut Arab menjadi simbol nyata dari ketegangan yang kian memuncak.
Dengan jumlah kapal yang meningkat dari 15 menjadi 19 hanya dalam waktu satu pekan, Washington tampak sedang mempersiapkan skenario terburuk jika jalur energi global tersebut benar-benar tertutup total.
Eskalasi ini mengirimkan pesan kuat kepada Teheran bahwa AS tidak hanya mengandalkan gertakan politik, melainkan telah menyiapkan "benteng besi" di laut yang siap beraksi kapan saja perintah tembak dikeluarkan.