Siaga Perang, Israel Tunggu Restu AS untuk Serang Iran, Target Pemimpin hingga Fasilitas Energi
Amirullah April 24, 2026 12:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Israel menyatakan berada dalam kondisi siaga penuh untuk melancarkan serangan lanjutan ke Iran, meski gencatan senjata masih berlangsung dan dinilai rapuh.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam video resmi yang dirilis Jumat (24/4/2026). Ia menegaskan kesiapan militer Israel tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga menyerang.

Menurut Katz, seluruh target strategis telah dipetakan. Namun hingga kini, Israel masih menunggu keputusan penting dari Amerika Serikat sebelum melangkah lebih jauh.

“Israel siap untuk memperbarui perang melawan Iran. IDF siap dalam pertahanan dan serangan, dan target telah ditandai,” ujar Katz seperti dikutip dari The Times of Israel.

Sinyal “lampu hijau” dari Washington menjadi kunci. Israel disebut ingin memastikan dukungan penuh Amerika Serikat, terutama dalam aspek intelijen, logistik, hingga mengantisipasi dampak jika konflik meluas.

Target yang disasar bukan hanya fasilitas militer, tetapi juga kepemimpinan tertinggi Iran serta infrastruktur energi strategis yang menjadi penopang utama ekonomi negara tersebut.

Langkah ini tentu bukan tanpa risiko. Tanpa dukungan Amerika Serikat, serangan berpotensi memicu balasan besar dari Iran dan menyeret negara lain di kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.

Di sisi lain, faktor politik juga ikut diperhitungkan. Dengan menunggu restu Presiden AS, Donald Trump, Israel berupaya menjaga legitimasi internasional sekaligus menghindari tekanan diplomatik jika bertindak sepihak.

Baca juga: Sangat Terik, Begini Prakiraan Cuaca di Langsa Hari Ini Jumat 24 April 2026

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia

Target Serangan: Kepemimpinan dan Infrastruktur Energi

Meski demikian, Katz memastikan bahwa target serangan telah disiapkan. Ia menyebut operasi lanjutan akan difokuskan pada kepemimpinan tertinggi Iran.

Termasuk struktur kekuasaan yang dianggap sebagai pusat kendali kebijakan dan operasi militer yang mengancam Israel.

Menurutnya, penargetan pucuk pimpinan dinilai sebagai langkah strategis untuk memutus rantai komando dan melemahkan kemampuan Iran dalam melanjutkan konflik.

Selain itu, Israel juga berencana menyasar fasilitas energi dan listrik, serta infrastruktur ekonomi nasional Iran.

Langkah ini mengindikasikan bahwa serangan tidak hanya ditujukan pada kekuatan militer, tetapi juga pada sektor ekonomi guna melumpuhkan operasional negara dan meningkatkan tekanan internal terhadap pemerintah Iran.

Katz menegaskan bahwa serangan mendatang akan “lebih mematikan” dan dirancang untuk memberikan dampak maksimal.

Pernyataan tersebut mencerminkan eskalasi retorika militer yang signifikan, sekaligus menandakan potensi meningkatnya intensitas konflik jika rencana tersebut benar-benar direalisasikan.

Baca juga: 575 KK di Kuta Ateuh Sabang Terima Subsidi Listrik, Total Rp155 Juta

Ketegangan Memanas, Risiko Konflik Terbuka

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas dan meningkatkan risiko terjadinya konflik terbuka yang berpotensi berdampak luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah tetapi juga terhadap stabilitas global.

Situasi ini terjadi meskipun Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.

Namun, perpanjangan tersebut tidak diikuti dengan pelonggaran tekanan militer. Trump justru menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap dilanjutkan oleh militer AS.

“Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan tetap siap,” ujarnya seperti dilaporkan Al Jazeera.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari pihak Iran. Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menilai bahwa perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak oleh Washington tidak memiliki arti nyata bagi Teheran.

Ia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai strategi Amerika Serikat untuk mengulur waktu sebelum melancarkan serangan lanjutan.

“Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa,” kata Mohammadi.

Ketegangan ini memberikan sinyal bahwa risiko konflik terbuka antara negara-negara di Timur Tengah berpotensi menyeret lebih banyak negara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Negara-negara sekutu berpotensi ikut terseret, sehingga meningkatkan risiko konflik regional berubah menjadi krisis internasional yang lebih besar.

Pada akhirnya potensi konflik terbuka di Timur Tengah tidak hanya menjadi ancaman regional, tetapi juga berisiko memicu efek domino yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan global secara keseluruhan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.