Kisah Seorang Nenek yang Jadi Peneliti Nuklir: Lulus S3 ITB pada Usia 65 Tahun!
GH News April 24, 2026 12:08 PM
Jakarta -

Belajar tak mengenal usia. Kalimat ini cocok untuk menggambarkan Endiah Puji Hastuti, seorang nenek sekaligus peneliti yang baru diwisuda dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mengenakan toga dan berdiri di barisan wisudawan lain, Endiah menjadi yang tertua pada wisuda April 2026. Pada usianya yang telah menginjak 65 tahun, ia berhasil meraih gelar doktor di bidang rekayasa nuklir.

"Kesibukan saya adalah sebagai seorang peneliti, kemudian seorang nenek, dan saya Ketua Senam Tera Indonesia di Tangsel," ujarnya dalam unggahan akun Instagram @itb1920, seperti dilihat Kamis (23/4/2026).

Melanjutkan Mimpi Setelah 30 Tahun

Untuk meraih gelar doktor pada program studi Rekayasa Nuklir di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Endiah memulai sejak usia 62 tahun. Meski tak muda, ia memiliki motivasi kuat untuk melanjutkan mimpinya pada masa lalu.

Ia mengatakan bahwa terakhir ia lulus, yakni dari jenjang S2 Rekayasa Energi Nuklir ITB, pada 30 tahun lalu.

"Saya masuk pada usia 62 tahun dan lulus pada usia 65 tahun," katanya.

"30 tahun yang lalu saya lulus dari S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB. Kemudian ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang menurut saya belum selesai," lanjutnya.

Selama ini, ia fokus menjadi peneliti dan kini menjadi senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kemudian saat ada kesempatan untuk melanjutkan kuliah doktoral dengan dukungan BRIN, ia langsung mengambilnya.

Ia menyadari usianya tak lagi muda. Justru, ia mengaku merasa senang untuk terus belajar.

"Tidak ada (batasan usia dalam mencari ilmu) menurut saya. Bagi saya, saya senang sekali untuk terus sekolah. Bila perlu, saya ambil post-doctoral," imbuhnya penuh semangat.

Pesan untuk Gen Z: Fokus dan Harus Lebih Kuat

Sebagai sosok yang telah mengenyam pendidikan lintas generasi, Endiah memberikan pesan bagi para mahasiswa yang tengah berjuang. Ia menyoroti bahwa setiap mahasiswa, terutama Generasi Z, harus memiliki fokus yang tinggi dan mental yang tangguh dalam menghadapi tantangan akademik.

"Kalau sedang kuliah, kita harus fokus ya. Apalagi kalau adik-adik yang Gen Z. Gen Z itu harus lebih kuat, karena pendidikan tidak pernah selesai," pesannya.

Menurutnya, pendidikan tinggi bukan sekadar soal gelar, melainkan investasi diri yang tiada habisnya untuk memperkaya perspektif dan kemampuan individu.

"Kita perlu meningkatkan kapasitas diri untuk menambah ilmu, kemampuan, dan memperluas wawasan," tuturnya.

Karya Endiah dalam Dunia Riset Nuklir

Mengutip laman BRIN, berikut ini beberapa fokus riset Endiah:

- Riset manajemen penuaan reaktor- Membantu menyusun rencana revitalisasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG GAS) agar tetap beroperasi dengan aman- Riset untuk penerapan Time Limited Assumptions Analysis (TLAA)

Endiah berupaya agar infrastruktur riset di Indonesia bisa bersaing dengan standar global, seperti yang ditetapkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Ia menekankan bahwa modernisasi sistem instrumentasi dan kendali (I&C) adalah kunci untuk menjaga stabilitas reaktor.

Menurutnya, penerapan manajemen penuaan yang baik tidak hanya soal keamanan, tapi juga soal pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam produksi radioisotop yang sangat dibutuhkan oleh sektor kesehatan.

Melalui karyanya, Endiah berharap Indonesia semakin siap dalam mengelola teknologi nuklir, termasuk sebagai bekal untuk persiapan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.