TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Setelah mengunjungi dan meninjau langsung kondisi SDN Marambeau di Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, Dinas Pendidikan Kabupaten Pasangkayu menyampaikan akan segera menindaklanjuti kerusakan parah yang terjadi di sekolah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Pasangkayu, Henrik, saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya penanganan sejak beberapa tahun terakhir.
Ia mengungkapkan, sejak dua tahun lalu, Dinas Pendidikan telah memberikan bantuan berupa timbunan untuk mengurangi dampak banjir yang kerap melanda sekolah tersebut, tepatnya pada 2024 dan 2025.
Baca juga: 19 Dapur MBG di Pasangkayu Sudah Kantongi SLHS, Dua Lainnya Masih Proses Sertifikasi
Baca juga: Potret Pilu SDN Marambeau, Kelas Rusak, Siswa Terpaksa Ngungsi ke Mushola
“Untuk penanganan awal, kami sudah lakukan penimbunan. Itu untuk mengurangi genangan air yang sering terjadi di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Henrik menjelaskan, pihaknya juga telah mengusulkan bantuan rehabilitasi bangunan ke pemerintah pusat, mengingat kondisi sejumlah ruang kelas sudah tidak layak digunakan.
Menurutnya, terdapat tiga ruang kelas baru (RKB) yang mengalami kerusakan parah.
Bahkan, bangunan tersebut disebut sudah tidak lagi tercatat sebagai aset sekolah, namun masih digunakan karena keterbatasan ruang belajar.
“Kalau tahun ini ada anggaran, kami akan prioritaskan rehabilitasi tiga bangunan itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, SDN Marambeau juga telah masuk dalam program revitalisasi dan saat ini berada pada tahap verifikasi.
Pihaknya berharap anggaran perbaikan sekolah tidak mengalami pergeseran sehingga pembangunan dapat segera direalisasikan.
“Harapan kami, semoga tidak bergeser lagi anggarannya, karena kondisi sekolah ini memang sudah sangat membutuhkan penanganan serius,” katanya.
Henrik juga mengakui selain bantuan timbunan, selama ini belum ada alokasi anggaran khusus untuk rehabilitasi bangunan di SDN Marambeau.
Terkait rencana pemindahan lokasi sekolah akibat banjir, ia menyebut hal tersebut belum dapat dipastikan karena membutuhkan banyak pertimbangan.
Menurutnya, opsi yang paling memungkinkan saat ini adalah perbaikan atau rehabilitasi bangunan yang ada.
“Untuk pemindahan lokasi, itu perlu banyak pertimbangan, termasuk akses siswa. Jangan sampai lokasi baru justru jauh dari tempat tinggal mereka,” pungkasnya. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan