Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Tangis pecah di tanah pengungsian. Di tengah dinginnya udara pegunungan dan raut wajah penuh ketakutan, Bupati Puncak, Elvis Tabuni, tidak mampu lagi menahan air mata saat berdiri di hadapan ratusan warganya yang mengungsi di Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (24/4/2026).
Suasana berubah menjadi pilu. Isak tangis terdengar bersahutan ketika Elvis Tabuni, dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan langsung kondisi rakyatnya yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga akibat konflik sosial yang terjadi di Distrik Kembru.
Baca juga: Tukang Parkir di Nabire Bisa Dapat Rawat Inap Kelas Satu BPJS Ketenagakerjaan
Kunjungan itu bukan sekadar agenda pemerintahan. Itu adalah pertemuan penuh luka antara seorang pemimpin dan rakyatnya yang sedang menderita. Langkah Elvis tampak berat, pandangannya menyapu tenda-tenda darurat, anak-anak yang menggigil, mama-mama yang duduk termenung, serta para lansia yang hanya bisa pasrah.
“Rakyat saya tidak salah! Anak-anak tidak salah! Mama-mama tidak salah! Mereka tidak tahu apa-apa, tapi mereka yang jadi korban!” teriaknya dengan suara bergetar, penuh emosi,” dalam video yang diterima Tribun-Papua,com.
Tangisnya tidak terbendung. Ia menunduk, mengusap air mata, namun kembali menatap warganya dengan sorot mata penuh kesedihan. Sejumlah warga pun ikut menangis. Ada yang memeluk anaknya erat, ada yang hanya bisa menutup wajah, mencoba menyembunyikan luka yang sebenarnya tidak bisa lagi disembunyikan.
Baca juga: Batik Air Resmi Mengudara di Nabire untuk Percepat Arus Ekonomi Papua Tengah
Elvis Tabuni mengaku hatinya hancur melihat kondisi ini. Ia mengatakan, konflik yang terjadi telah merenggut rasa aman masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi.
“Ini bukan pertama kali, tapi kali ini terlalu banyak korban dari rakyat. Ini yang membuat saya sangat sedih,” ujarnya lirih.
Di sela-sela tangisnya, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena belum bisa langsung hadir sejak awal kejadian. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam.
“Saya minta maaf baru bisa datang sekarang. Tapi sejak laporan masuk, kami langsung rapat dengan pimpinan OPD dan Forkopimda. Saya juga sudah perintahkan Sekda turun lebih dulu melihat kondisi di lapangan,” jelasnya.
Baca juga: Wamena United Rekrut Putri Terbaik Dari 7 SSB untuk Sambut Piala Pertiwi
Ia menambahkan, status tanggap darurat telah resmi ditetapkan sebagai langkah cepat untuk menangani dampak konflik dan memastikan bantuan dapat segera disalurkan.
Dalam kunjungan tersebut, Elvis Tabuni menyerahkan langsung bantuan kemanusiaan berupa beras, bahan makanan, selimut, serta kebutuhan pokok lainnya. Tidak hanya itu, santunan juga diberikan kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa tragis tersebut.
Namun, di balik bantuan itu, ada luka yang tidak mudah sembuh.
Seorang mama yang ditemui di lokasi bahkan tidak kuasa menahan tangis saat menceritakan bagaimana ia harus melarikan diri bersama anak-anaknya di tengah situasi mencekam.
Baca juga: Kartini Papua Sulit Ekspresikan Simbolisme Kebaya Karena Masih Terkungkung Konflik dan Investasi
“Kami lari tanpa bawa apa-apa. Rumah sudah tidak bisa kembali,” ucapnya sambil menangis.
Mendengar cerita itu, Elvis kembali terdiam. Wajahnya terlihat semakin berat, seolah memikul beban yang tidak ringan sebagai seorang pemimpin.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dan masyarakat setempat yang telah menerima para pengungsi dengan penuh kepedulian.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu masyarakat kami. Saya tidak bisa membalas, tapi Tuhan yang akan membalas semua kebaikan ini,” ucapnya dengan suara pelan.
Baca juga: YPMAK Kirim Teknologi Canggih Ke Pedalaman Terpencil Demi Pantau Kesehatan Bumil
Apresiasi juga disampaikan kepada tenaga medis yang telah bekerja keras menangani para korban, serta kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang dinilai cepat merespons dengan menyalurkan bantuan.
Saat ini, para pengungsi dilaporkan tersebar di tiga titik di wilayah Puncak Jaya. Mereka hidup dalam keterbatasan, bergantung pada bantuan, sembari berharap situasi segera membaik agar bisa kembali ke kampung halaman.
Pemerintah berharap, dengan status tanggap darurat yang telah ditetapkan, penanganan dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi, sehingga kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi. Namun lebih dari itu, masyarakat hanya menginginkan satu hal: hidup dengan aman di tanah mereka sendiri.
“Kami berharap penanganan darurat ini berjalan cepat dan terkoordinasi, agar kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi. Yang masyarakat inginkan hanya satu: hidup aman di tanah mereka sendiri.”pungkasnya.
Baca juga: Kasus Penganiayaan Siswa Taruna Kasuari Nusantara: Orang Tua Tempuh Jalur Hukum, Kepsek Buka Suara
Untuk diketahui bahwa aktivitas pengungsian terjadi akibat operasi Militer yang berlangsung di sana dan disebut menewaskan belasan warga sipil karena tertembak peluru.
Korban disebut bukan saja pria dewasa melainkan anak-anak bahkan ibu hamil ikut tertembak.(*)