BANGKAPOS.COM--Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mulai mematangkan proyek penataan kawasan klaster Eropa di Kecamatan Mentok yang akan mengintegrasikan kawasan Taman Lokomobil Mentok dengan monumen Soekarno-Hatta.
Proyek strategis tersebut dibahas dalam audiensi antara Direktorat Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Penataan Bangunan dan Prasarana Kawasan Bangka Belitung, serta Pemerintah Kabupaten Bangka Barat pada Kamis (23/4/2026).
Selain penataan Taman Lokomobil, proyek juga akan menyasar kawasan Lapangan Gelora Mentok dengan menghadirkan berbagai fasilitas pendukung wisata dan ruang publik.
Bupati Bangka Barat, Markus, mengatakan proyek tersebut diharapkan menjadi pusat wisata baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga nilai sejarah kawasan.
“Tentunya kita berharap proyek pembangunan klaster Eropa ini dapat diselesaikan tepat waktu dan tentunya memberikan manfaat kepada masyarakat Bangka Barat,” ujar Markus kepada wartawan, Jumat (24/4/2026).
Dalam rencana penataan tersebut, kawasan Lapangan Gelora akan dilengkapi amphiteater, visitor centre, area kuliner dan cinderamata, toilet umum, area parkir, serta jalur pedestrian untuk pengunjung.
Sementara Taman Lokomobil akan dikembangkan sebagai bagian dari kawasan wisata sejarah yang terhubung dengan monumen Soekarno-Hatta di Mentok.
Menurut Markus, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal sekaligus menyediakan ruang terbuka hijau yang nyaman bagi masyarakat.
“Nantinya Taman Gelora dan Lokomobil bakal menjadi destinasi wisata yang bisa memberdayakan UMKM serta ruang terbuka hijau untuk masyarakat,” katanya.
Proyek penataan klaster Eropa ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp22,7 miliar yang bersumber dari APBN.
Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Diatasa Jaya Mandiri dengan masa pengerjaan selama delapan bulan, terhitung sejak April hingga Desember 2026.
Pemkab Bangka Barat juga menaruh perhatian khusus terhadap aspek pelestarian sejarah karena kawasan tersebut masuk dalam kategori cagar budaya.
Karena itu, pembahasan proyek turut melibatkan Tim Ahli Cagar Budaya guna memastikan bagian-bagian penting situs bersejarah tetap terjaga selama proses pembangunan berlangsung.
“Kalau cagar budaya mereka yang tahu mana yang tidak boleh diutak-atik. Mereka ahlinya, makanya kita minta pendampingan dari tim cagar budaya,” jelas Markus.
Selain meminta pendampingan ahli, Markus juga telah menginstruksikan Dinas PUPR Bangka Barat untuk ikut mengawasi jalannya proyek agar pembangunan berjalan sesuai rencana dan tidak merusak nilai historis kawasan.(*)
(Bangkapos.com/Riki Pratama)