Tren menunda pernikahan dan memiliki anak tidak hanya terjadi di Jepang, Singapura juga menghadapi kondisi serupa. Semakin banyak generasi muda yang bahkan memilih melajang dalam waktu lama, alih-alih mulai berkencan dan merencanakan hubungan masa depan.
Bhavin Punjabi salah satunya, dahulu ia sempat berpikir di usia 32 tahun sudah berkeluarga, tetapi hari-harinya kini diisi dengan prioritas lain, membangun karier, menjaga kebugaran, jalan-jalan, juga merawat kakeknya yang sudah berusia 95 tahun.
Seperti banyak warga Singapura seusianya, pernikahan tidak lagi prioritas.
"Saya ingin punya pekerjaan stabil dan mencapai pendapatan tertentu sebelum membina rumah tangga," beber manajer operasional di Zenko Superfoods tersebut kepada CNA.
Bhavin merasa puas dengan rutinitasnya dan tidak ada masalah dengan status lajang. Menurutnya, kencan di masa sekarang disertai ekspektasi tinggi yang dipengaruhi pertimbangan praktis seperti keuangan, hunian, dan karier.
Ia menambahkan, generasinya banyak yang mencoba menjadi 'versi terbaik dari diri sendiri' sebelum memilih berkencan.
"Cinta, di generasi sekarang, mungkin menjadi prioritas sekunder."
Angka Pernikahan Menurun, Usia Menikah Mundur
Pengalaman Bhavin mencerminkan pergeseran luas di Singapura. Angka Kelahiran mencapai rekor terendah di angka 0,87 pada tahun 2025. Begitu juga pernikahan yang merosot 7 persen pada tahun 2024, dengan penurunan tertajam pada usia 25 hingga 34 tahun.
Usia menikah kini rata-rata meningkat menjadi 31 tahun untuk pria dan 30 tahun untuk wanita.
Tantangan Kencan Modern: Terasa Seperti Bekerja
Dr Kalpana Vignehsa dari Institute of Policy Studies mencatat bahwa anak muda sekarang melihat kencan sebagai masalah manajemen waktu.
"Berbeda dengan dulu yang dianggap menyenangkan, kini kencan terasa seperti satu lagi daftar tugas (to-do list) di tengah jadwal yang padat," sorot dia, dikutip dari CNA.
Tekanan juga datang dari dunia digital yang mengharuskan orang untuk selalu aktif" Selain itu, banyak yang menunda kencan saat masih sekolah, padahal mencari pasangan justru lebih sulit setelah mulai bekerja.
Agensi kencan mencatat bahwa klien sekarang memiliki lebih banyak parameter. Violet Lim, CEO Lunch Actually Group, mengatakan:
Berkompromi
Banyak yang sudah mapan secara finansial dan gaya hidup, sehingga enggan berkompromi jika hubungan justru dianggap memperburuk standar hidup mereka.
Paradoks Pilihan
Aplikasi kencan membuat orang merasa punya banyak pilihan, sehingga mereka sulit berkomitmen dan terus mencari yang lebih baik (elevator dating syndrome).
Kelelahan Aplikasi:
Kopi Date mencatat adanya 'kelelahan aplikasi kencan' akibat perilaku ghosting dan percakapan yang dangkal, sehingga banyak yang beralih mencari interaksi tatap muka yang lebih manusiawi.
Redefinisi Kedewasaan
Profesor Paulin Straughan dari SMU menjelaskan bahwa tanda kedewasaan di Singapura telah bergeser. "Dulu, menikah dan punya anak adalah tanda dewasa. Sekarang, kemandirian finansial dan stabilitas karier profesional-lah yang dianggap sebagai pencapaian kedewasaan."
Menunda pernikahan otomatis menunda memiliki anak, atau bahkan memilih untuk tidak punya anak sama sekali. Biaya hidup yang tinggi dan pengorbanan karier menjadi faktor utama di balik keputusan ini.
Kilas Balik Kebijakan Keluarga di Singapura
Tren saat ini sangat kontras dengan sejarah Singapura:
1960-an/70-an: Kampanye "Stop at Two" karena pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat. Ada penalti bagi keluarga besar.
Pertengahan 1980-an: Kekhawatiran bergeser ke penurunan populasi.
1987: Kebijakan berbalik menjadi 'punya tiga, atau lebih jika mampu.' Berbagai insentif seperti Baby Bonus diperkenalkan.
Jalan ke Depan
Para ahli memprediksi akan muncul dua kelompok besar:
Kelompok yang tetap ingin berkeluarga (yang membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah). Kelompok yang tetap melajang (yang dianggap tidak terelakkan di negara maju).
Meski tren menunda hubungan terus meningkat, keinginan untuk memiliki koneksi tetap ada. Bhavin Punjabi, misalnya, tidak menutup kemungkinan untuk menikah suatu saat nanti. "Saya hanya menikmati momen yang ada sekarang," pungkasnya.





