SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di Jawa Timur (Jatim), menyiapkan skema baru untuk mengatasi banjir di wilayah selatan, khususnya Ketintang, Margorejo hingga Prapen, dengan mengubah arah aliran air.
Langkah ini dilakukan untuk mengurai penumpukan debit air yang selama ini terpusat di satu jalur hilir.
Poin Utama Penanganan:
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi atau Cak Eri, menegaskan penanganan banjir harus dilakukan dari hulu.
"Selama ini air menumpuk di Margorejo. Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang," tegas Cak Eri saat sidak, Jumat (24/4/2026).
Selama ini, aliran air dari Jambangan, Karah, hingga kawasan tol seluruhnya mengalir ke Avur Wonorejo.
Akibatnya, beban air menumpuk di kawasan Margorejo hingga Prapen, terutama saat hujan deras.
Sebagai solusi, Pemkot akan membagi aliran air ke beberapa jalur agar tidak lagi bertumpu di satu titik.
“Dengan begitu, saluran di Margorejo sampai Prapen nantinya, benar-benar hanya menampung debit air dari pemukiman setempat,” ujar Cak Eri.
Pemkot Surabaya juga akan membangun sodetan dari Avur Wonorejo ke arah selatan untuk mengurangi beban aliran ke hilir.
Selain itu, rumah pompa baru akan dibangun di kawasan Pulo Wonokromo.
"Saya sudah meminta izin ke BPWS untuk menggunakan lahan sekitar tiga sampai empat rumah warga untuk membangun pompa. Tujuannya supaya air dari area Telkom dan rel kereta bisa segera ditarik ke sungai, sehingga tidak terjadi genangan di Ketintang," tambahnya.
Cak Eri menargetkan seluruh skema penanganan banjir ini dapat selesai pada Oktober 2026.
"Insya Allah Oktober selesai semua. Saya sudah sampaikan kepada Kadis dan Kabid DSDABM, kalau Oktober belum selesai dan ternyata masih banjir, akan ada evaluasi serius," ujarnya.
Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya, Adi Gunita, menyebut persoalan banjir di wilayah tersebut cukup kompleks.
"Banjir ini kompleks, tidak bisa selesai dalam satu tahun berjalan karena ada tahapan-tahapannya. Problem utamanya adalah beban air dari barat atau tol semuanya lari ke arah Timur, ke Wonorejo," jelasnya.
Ia menambahkan, skema baru ini akan membagi beban aliran air secara signifikan.
"Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo kami hentikan, lalu kami potong langsung ke arah Selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan begitu, volume air yang lari ke saluran Prapen akan berkurang drastis," tambahnya.
Ia optimistis langkah ini mampu mengurangi genangan di sejumlah titik rawan.
"Katakanlah beban air itu nilainya 100, kami kurangi persentasenya agar tidak lari ke hilir semua. Kami bagi beban alirannya ke arah Selatan sehingga beban air bisa terpecah dan tidak menumpuk di wilayah Wonocolo, Margorejo, hingga Rungkut saja,” ujarnya.