BANJARMASINPOST.CO.ID - Kini sosok Syekh Ahmad Al Misry menjadi sorotan terkait kasus pelecehan yang menjadikan dirinya sebagai tersangka.
Bareskrim sudah resmi menetapkan Syekh Ahmad Al Misry sebagai tersangka dalam kasus pelecehan santri.
Syekh Ahmad Al Misry juga membantah kalau dirinya berbuat seperti yang dilaporkan sejumlah korban.
Lalu siapakah Syekh Ahmad Al Misry? Pendakwah asal Mesir yang cukup dikenal di Indonesia.
Baca juga: Program MBG Belum Sentuh Wilayah 3T di Kalsel, SPPG Masih Tahap Pembangunan
Baca juga: Ancaman Pengangguran Meningkat, 80 Pekerja di Tapin Kena PHK Akibat Efisiensi
Pendakwah yang dikenal fasih berbahasa Indonesia itu terjerat dalam kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri.
Status tersangka tersebut ditetapkan setelah penyidik Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta PPO Bareskrim Polri melakukan gelar perkara.
“Berdasarkan pelaksanaan gelar perkara, penyidik telah menetapkan saudara SAM sebagai tersangka,” kata Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Jumat (24/4/2026).
Dilansir dari kanal YouTube SalinSapaTV, Syekh Ahmad Al Misry menjelaskan awal mula dirinya datang ke Indonesia.
Sejak awal kehadirannya, ia menarik perhatian banyak umat karena kepiawaiannya dalam melafalkan bahasa Indonesia secara fasih.
Terkait hal tersebut, ia kemudian mengungkap apa yang ia sebut sebagai “rahasia spiritual” di balik perjalanan dakwahnya.
“Awalnya Allah sudah mencatat di lauhul mahfudz fulan bin fulan akan pindah ke Indonesia untuk belajar dan berdakwah, bukan mengajarkan orang Indonesia, tapi kita saling membantu untuk mengembangkan, mengembalikan umat Islam kepada ajarannya, akhlaknya” jelasnya.
“Memudahkan agama buat masyrakat, mendekatkan orang kepada Allah, mengenalkan orang kepada Allah, maka setiap orang punya dakawah masing-masing,” tambahnya.
“Maka karena apa? Karena Allah mentakdirkan hal demikian, yang kedua kita tidak tahu apa yang akan kita peroleh esok hari, dan kita tidak tahu di mana kita akan wafat,” ungkap Ahmad Al-Misry.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan pandangannya mengenai konsep berdakwah yang menurutnya tidak harus kaku dan dapat dilakukan di berbagai tempat.
“Maka seorang da'i itu nggak punya rumah, seorang da'i itu rumahnya di mana-mana, bahkan kalo ada yang nanya rumahnya dimana, di bumi Allah, di mana pun tempat itu adalah rumah, di mana pun ada tempat, masjid yang harus didakwahi, mau di kantor, mau di pemerintahan, mau di teman-teman artis atau siapa pun, kita terbuka untuk siapa pun, hanya mereka aja yang masih segan dengar kata syekh atau dalam berpakaian,” ungkapnya.
“Tidak, kan kalo sudah mendekat akan hilang tabir yang kau jadikan sebagai yang berwibaya, nanti kita ngobrol sama orang kaku, kasar atau apa, tidak, dekatlah, kalo mendekat tidak bakal rugim,” tambah Ahmad Al-Misry.
Baca juga: Pecah Kaca, Perempuan Muda Diduga Bobol Rumah Warga Gunungmakmur Tanahlaut, Gasak HP hingga Sembako
Pendakwah Syekh Ahmad Al Misry dikenal sebagai ulama asal Kairo, Mesir, yang telah lama berdakwah di Indonesia dan memiliki basis jemaah yang cukup luas.
Ia merupakan lulusan Universitas Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam paling bergengsi di dunia, dengan penguasaan ilmu tafsir, hadis, hingga fikih.
Sejak sekitar tahun 2010, Ahmad Al-Misry aktif menyampaikan dakwah di berbagai daerah di Indonesia.
Gaya ceramahnya yang komunikatif, serta kemampuannya berbahasa Indonesia dengan fasih, membuatnya mudah diterima oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Namanya semakin dikenal publik setelah kerap tampil di layar televisi, termasuk dalam program religi seperti Hafiz Indonesia dan Damai Indonesiaku.
Kehadirannya di media turut memperkuat citranya sebagai pendakwah yang dekat dengan masyarakat.
Selain berdakwah, ia juga dikenal sebagai pengajar yang membimbing santri dalam pendalaman ilmu agama.
Meski aktif di ruang publik, kehidupan pribadinya cenderung tertutup dan jarang terekspos media.
Belakangan, sosoknya menjadi sorotan setelah terseret kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri yang kini tengah diproses oleh Bareskrim Polri.
Syekh Ahmad Al Misry sendiri telah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan akan membuktikan bantahannya melalui proses hukum yang berjalan.
Usai klarifikasi, kabar duka bagi pendakwah Syekh Ahmad Al-Misry atau SAM.
Bareskrim Polri kini menetapkan Syekh Ahmad Al-Misry atau SAM ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri.
Sebelumnya, SAM membantah keras kalau dirinya telah melakukan peleehan.
Namun Bareskrim Polri punya pendapat lain setelah melakukan gelar perkara.
Syekh Ahmad Al Misry membantah keras tuduhan pencabulan terhadap sejumlah santri pria.
Ia menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar dan tak berdasar.
"Tuduhan terhadap pelecehan kepada santri itu tidak benar adanya," kata Syekh Ahmad dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Ia mengaku telah menyiapkan sejumlah bukti untuk membantah tuduhan tersebut. Bukti-bukti itu juga sudah diserahkan kepada kuasa hukumnya.
Ia pun nengaku memiliki saksi yang dapat memperkuat bantahannya.
"Maka mohon teliti karena bukti-bukti yang saya punya sudah saya serahkan kepada kuasa hukum saya untuk menyerahkannya kepada pihak yang berwenang, dan juga ada saksi-saksinya," ujar dia.
Syekh Ahmad juga menjelaskan posisinya saat menerima panggilan dari Bareskrim Polri.
Ia mengaku tengah berada di Mesir untuk mendampingi ibundanya yang menjalani operasi saat laporan polisi diterima.
"Saya, Syeikh Ahmad Al Misry, berangkat ke Mesir pada tanggal 15 Maret 2026 dan saya tiba di Mesir tanggal 16 Maret 2026 karena mendampingi ibunda yang sedang sakit dan menjalani operasi pada tanggal 17 Maret 2026," ungkap Syekh Ahmad.
"Dan saya mendapatkan panggilan kepolisian pada tanggal 30 Maret 2026. Maka panggilan kepolisian datang sesudah saya berada di Mesir kurang lebih sekitar 15 hari," imbuh dia.
Syekh Ahmad juga menantang pihak yang menyebarkan tuduhan pelecehan seksual tersebut untuk menunjukkan bukti-bukti konkret.
"Saya minta kepada ustaz yang menyebarkan informasi tersebut, atau fitnah, atau tuduhan tersebut, mendatangkan (bukti) walaupun satu video," tegas dia.
Sebelumnya, pendakwah Syekh Ahmad Al Misry atau SAM dilaporkan ke polisi terkait kasus dugaan pelecehan seksual.
Ustaz Abi Makki yang mewakili para korban mengatakan, SAM diduga melecehkan santrinya pada 2017. Namun, peristiwa ini baru terungkap pada 2021.
"Para korban ini merupakan para anak didiknya saat menimba ilmu agama di rumah," kata Abi di kawasan Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026).
Abi mengungkapkan, kasus ini terungkap saat teman dari salah satu korban melaporkan ada beberapa santri yang diduga dilecehkan oleh SAM.
Menurut dia, modus terduga pelaku adalah dengan mengiming-imingi para korban bisa bersekolah gratis di Mesir.
"Iming-imingnya itu, mau diberangkatkan sekolah gratis ke Mesir, korban juga ada yang sudah berangkat ke Mesir," ungkap Abi.
Ia menyebut dana yang digunakan para korban untuk sekolah di Mesir bukan berasal dari uang pribadi SAM, melainkan dana yang dikumpulkan oleh jemaah majelis.
Abi menuturkan, SAM telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf secara langsung kepada para korban pada 2021.
Baca juga: Santri Putri Loncat ke Kursi dan Menjerit, Biawak Hebohkan Pesantren Darussalam Martapura Kalsel
Namun, empat tahun berselang, SAM disebut melakukan perbuatan serupa dengan melecehkan santri pria.
"Korban tidak bisa berbuat apa-apa, bingung dan menurut saja karena disampaikan hal-hal yang disesuai agama, korban laki-laki semuanya," tutur Abi.
Adapun laporan terhadap SAM teregister dengan nomor LP/B/586/XI/2025/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 28 November 2025.
Kuasa hukum para korban, Achmad Cholidin, meminta polri menetapkan SAM sebagai tersangka. Menurut Achmad, SAM kini berada di Mesir.
"Setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR, kami sudah meminta penyidik untuk segera menetapkan tersangka dugaan pelecehan seksual Syech Ahmad Al Misry," kata Achmad. (banjarmasinpost.co.id/TribunJakarta.com )